Iran dan Unjuk Rasa Besar 50 Tahun Terakhir

Catatan sejumlah aksi unjuk rasa besar dan penyebabnya sepanjang 50 tahun terakhir di Iran.

08 Jan 2026 10:05 WIB · Internasional

AP

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Di pembuka tahun 2026, Iran kembali dilanda gelombang aksi unjuk rasa yang dimotori oleh para pedagang. Awalnya, mereka marah dan kecewa akan perekonomian Iran yang terus memburuk hingga melemahkan daya beli penduduknya.

Aksi duduk di Grand Bazzar Teheran, yang telah lama menjadi jantung perekonomian dan politik jalanan, berubah menjadi aksi unjuk rasa yang diikuti ribuan mahasiswa dan warga. Kantor berita Fars melaporkan, unjuk rasa telah menyebar ke 25 provinsi dari 31 provinsi di Iran.

Orang-orang berjalan saat toko-toko tutup selama protes di pasar utama Teheran yang berusia berabad-abad, Iran, Selasa (6/1/2026).

Bahkan, aksi protes baru kembali terjadi di beberapa wilayah Iran pada Rabu (7/1/2026), ketika Presiden Masoud Pezeshkian memerintahkan pasukan keamanan untuk tidak menindak demonstran. Ia meminta pasukan keamanan membedakan antara demonstran damai dan perusuh bersenjata. 

Kelompok hak asasi manusia IHR yang berbasis di Norwegia menerbitkan sebuah video yang menunjukkan orang-orang berkumpul di jalanan Bojnurd. Mereka meneriakkan slogan-slogan ”seorang Iran boleh mati, tetapi tidak akan menerima penghinaan”. Aksi protes lainnya dilaporkan terjadi di Distrik Shemiran yang mewah di Teheran, di mana para demonstran meneriakkan ”matilah diktator” dan ”kebebasan” menurut IHR.

Para pengunjuk rasa berbaris di pusat kota Teheran, Iran, 29 Desember 2025.
Suasana ini diambil pada 6 Januari 2026, dari gambar UGC yang diposting di media sosial pada hari yang sama menunjukkan orang-orang berkumpul di bazaar Teheran selama bentrokan antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa. Republik Islam Iran menghadapi gelombang protes paling serius sejak demonstrasi nasional 2022-2023 yang dipicu oleh kematian dalam tahanan Mahsa Amini, yang telah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat untuk wanita.
SUasana saat toko-toko tutup selama protes di pasar utama Teheran yang berusia berabad-abad, Iran, Selasa (6/1/2025).
Seorang pria mengendarai sepedanya di depan toko-toko tutup selama protes di bazaar utama Teheran yang berusia berabad-abad, Iran, Selasa (6/1/2026). i
Suasana ini diambil pada 6 Januari 2026, dari gambar UGC yang diposting di media sosial pada hari yang sama menunjukkan para pengunjuk rasa bentrok dengan pasukan keamanan Iran di pasar Teheran. Iran menghadapi gelombang protes paling serius sejak demonstrasi nasional 2022-2023 yang dipicu oleh kematian dalam tahanan Mahsa Amini, yang telah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat untuk wanita.
Seorang penjual ikan menunggu pelanggan di bazaar utama tua di kota utara Rasht, Iran, pada hari Jumat, 26 Desember 2025.

Kelompok HRANA yang berbasis di AS mengunggah video unjuk rasa di pelabuhan Teluk Bandar Abbas. Tampak para demonstran mengajak keterlibatan warganya dengan meneriakkan ”jangan jadi penonton, bergabunglah dengan kami” dan ”ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali”. Pahlavi merujuk pada dinasti Shah yang digulingkan.

Sementara ribuan demonstran juga turun ke jalan di Aligudarz, Iran barat. Mereka meneriakkan slogan-slogan yang menentang pemerintahan saat ini, Ayatollah Ali Khamenei. Bentrokan mematikan juga terjadi di Lordergan, di wilayah barat daya negara itu. Beberapa individu yang membawa senjata militer dan senjata berburu tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah polisi.

Perebutan ini diambil pada 6 Januari 2026, dari gambar UGC yang diposting di media sosial pada hari yang sama menunjukkan para pengunjuk rasa bentrok dengan pasukan keamanan Iran di pasar Teheran. Pasukan keamanan Iran menembakkan gas air mata pada 6 Januari untuk membubarkan para pengunjuk rasa di pasar Teheran yang meneriakkan slogan-slogan menentang otoritas ulama.

Di pekan pertama 2026, setidaknya 30 korban tewas akibat unjuk rasa. Ini belum termasuk 12 korban tewas dalam unjuk rasa di akhir 2025. Ribuan demonstran juga ditangkap, diancam dengan hukuman yang keras.

Dimulai dari demonstrasi yang mengarah pada berdirinya Republik Islam Iran hingga saat ini, berikut sekilas tentang protes dan apa yang memicunya.

Dalam foto 9 Oktober 1978 ini, para pengunjuk rasa Iran berdemonstrasi melawan Shah Mohammad Reza Pahlavi di Teheran, Iran.

Revolusi Islam 1979

Menjelang Revolusi Islam Iran tahun 1979, mahasiswa, pekerja minyak, dan lainnya melakukan protes, menuntut kebebasan politik. Demonstrasi tersebut menekan penguasa negara yang sakit parah, Shah Mohammad Reza Pahlevi yang akhirnya melarikan diri dari negara itu.

Revolusi tersebut terjadi pada Februari di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang mendirikan teokrasi Syiah garis keras di bawah kendali penuhnya. Pemerintahan baru tersebut mengeksekusi ribuan orang. Pertumpahan darah dalam perang Iran-Irak tahun 1980-an dan penindasan menghentikan demonstrasi massal selama bertahun-tahun.

Dalam foto file 12 Juli 1999 ini, seorang siswa di sebuah rapat umum di Teheran, Iran, mengangkat kaus berdarah seorang teman yang terluka dalam beberapa hari terakhir bentrokan antara polisi dan demonstran mahasiswa.

Protes mahasiswa tahun 1999

Marah atas pembunuhan terhadap para aktivis, intelektual, dan lainnya yang dikenal sebagai ”pembunuhan berantai”, mahasiswa di Universitas Teheran mulai melakukan protes. Penindakan oleh pasukan keamanan di kampus memicu demonstrasi lebih lanjut. Setidaknya tiga orang tewas dan 1.200 orang ditahan dalam protes tersebut.

Seorang pendukung oposisi wanita Iran bereaksi saat menghadiri protes di Teheran, Iran, Jumat, 18 September 2009.

Protes Gerakan Hijau tahun 2009

Pada musim panas tahun 2009, oposisi reformis Iran melayangkan tuduhan bahwa kemenangan pemilihan kembali presiden garis keras, Mahmoud Ahmadinejad, telah dimanipulasi. Jutaan orang di seluruh negeri melakukan protes selama beberapa bulan berikutnya, dan dikenal sebagai ”Gerakan Hijau”. Penindakan brutal oleh pasukan keamanan menyebabkan puluhan orang tewas dan ribuan orang ditangkap.

Dalam foto file 25 Juni 2018 ini, sekelompok pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan di pasar besar tua di Teheran, Iran, saat mereka berdemonstrasi menentang masalah ekonomi.

Demonstrasi tahun 2017-2018

Aksi pada tahun ini dipicu kemarahan atas kenaikan harga pangan serta rencana pemerintah untuk memangkas bantuan tunai bagi warga miskin. Unjuk rasa yang dimulai di Mashhad kemudian menjadi tidak terkendali. Lebih dari 20 orang tewas dan ratusan ditangkap.

Pada 25 November 2019 ini, seorang tentara Iran berjaga saat rapat umum pro-pemerintah yang diselenggarakan oleh pihak berwenang di Teheran, Iran, mengecam protes kekerasan atas kenaikan harga bahan bakar yang diberlakukan pemerintah.

Protes bensin tahun 2019

Pemerintah Iran mengumumkan kenaikan harga bensin bersubsidi, yang memicu protes hebat yang menyebabkan SPBU, bank, dan toko-toko dibakar habis. Lebih dari 300 orang dilaporkan tewas dan pihak berwenang memutus akses internet di negara tersebut.  

Penduduk Iran memprotes kematian seorang wanita berusia 22 tahun Mahsa Amini setelah dia ditahan oleh polisi moral di Teheran, 20 September 2022.

Mahsa Amini tahun 2022

Unjuk rasa dimulai pada September 2022, tak lama setelah kematian Amini, seorang gadis berusia 22 tahun, yang meninggal dalam penjara. Amini ditangkap oleh polisi moral negara itu karena diduga tidak mengenakan hijab atau jilbab sesuai keinginan pihak berwenang. 

Penyidik PBB akhirnya menyatakan Iran bertanggung jawab atas ”kekerasan fisik” yang menyebabkan kematiannya. Penindakan keamanan selama berbulan-bulan menewaskan lebih dari 500 orang dan menyebabkan lebih dari 22.000 orang ditahan. Peristiwa ini membuat banyak perempuan masih menolak mengenakan hijab. 

Para pengunjuk rasa berbaris di pusat kota Teheran, Iran, Senin, 29 Desember 2025.

Unjuk rasa rial 2024-2025

Ketika sanksi internasional diperketat, Iran mengalami kesulitan ekonomi. Ini ditambah dengan perang selama 12 hari dengan Israel. Nilai mata uang Iran anjlok, mencapai 1,4 juta rial per dolar AS. Protes pun segera dimulai setelah itu. 

Unjuk rasa di awal 2026

Dimulai dengan kemarahan akan perekonomian yang melemah, daya beli masyarakat yang anjlok, pedagang melakukan unjuk rasa. Aksi yang dimulai pada 28 Desember 2025 ini masih berlangsung hingga kini. Setidaknya 42 korban telah tewas dalam serangkaian protes di beberapa provinsi di Iran.

Unjukrasa di Fasa, Jumat (2/1/2026).

Untuk meredakan kemarahan, Pemerintah Iran mulai Rabu (7/1/2026) memberikan subsidi setara dengan 7 dolar AS per bulan untuk menutupi kenaikan biaya kebutuhan pokok seperti beras, daging, dan pasta. Namun, usaha ini belum berhasil meredakan amarah rakyatnya. (AP/REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto