Israel Bom Gaza Lagi, Gencatan Senjata Berakhir

PM Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan ke Jalur Gaza saat perundingan gencatan senjata belum ada kemajuan.

18 Mar 2025 15:15 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

DEIR Al-BALAH, SELASA — Israel kembali mengebom berbagai penjuru Gaza. Hingga Selasa (18/3/2025) siang, setidaknya ratusan orang tewas akibat serangan itu. Hingga saat ini, sebanyak 413 orang dikabarkan tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka.

Hamas dan Jihad Islam Palestina (PIJ) menyebut serangan itu praktis mengakhiri proses gencatan senjata. Pemerintahan Israel di bawah Benjamin Netanyahu dituding membawa ketidakpastian pada masa depan perdamaian. ”Ini sabotase pada semua upaya mencapai perdamaian,” kata PIJ.

Kantor Komunikasi Gaza menyebut, serangan membuktikan Israel hanya tahu soal pembunuhan, penghancuran, dan pemusnahan massal. ”Mereka (Israel) menunjukkan niat asli pendudukan dengan menumpahkan darah orang tak berdosa tanpa hambatan moral, membuktikan mereka jelas telah merencanakan untuk melanjutkan genosida kepada anak-anak dan perempuan,” demikian pernyataan itu.

Serangan dilancarkan kala proses perundingan untuk melanjutkan gencatan senjata tengah berlangsung. Gencatan senjata pada 19 Januari-1 Maret 2025 berakhir tanpa kesepakatan akan dilanjutkan. Bahkan, selama gencatan senjata beberapa pekan itu, Israel tetap menyerang Gaza berulang kali. Rangkaian serangan menewaskan setidaknya 200 orang di Gaza.

Serangan lebih besar dilancarkan Israel selepas tak adanya kepastian soal kelanjutan gencatan senjata. Ledakan terdengar di berbagai lokasi di Jalur Gaza saat serangan terjadi. Serangan di antaranya terjadi di sekitar kamp pengungsi perkotaan Bureij.

Ada juga serangan ke kompleks sekolah yang berfungsi sebagai tempat penampungan bagi pengungsi Palestina. Ambulans berdatangan ke Rumah Sakit Al Aqsa di Gaza tengah.

Netanyahu mengatakan, ia dan Menteri Luar Negeri Israel Katz memerintahkan serangan itu. Kurangnya kemajuan dalam perundingan gencatan senjata menjadi alasan perintah Netanyahu.

”(Serangan) ini terjadi setelah Hamas berulang kali menolak membebaskan sandera kami dan menolak semua tawaran yang diterimanya dari utusan presiden AS, Steve Witkoff, dan dari para mediator,” demikian keterangan dari Kantor PM Israel.

Dengan perundingan yang belum maju, The New York Times melaporkan, ”Israel akan bertindak melawan Hamas dengan kekuatan militer yang meningkat.”

TOPSHOT - People look through the rubble in a school-turned-camp after an Israeli strike in Gaza City on March 18, 2025. Israel on March 18 unleashed its most intense campaign on the Gaza Strip since a January ceasefire, with Gaza civil defence agency saying 220 people killed, prompting Hamas to accuse Benjamin Netanyahu's government of torpedoing the truce. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Akhir gencatan senjata

Seorang pejabat senior Hamas kepada Reuters mengatakan, dengan serangan udara itu, Israel secara sepihak mengakhiri perjanjian gencatan senjata Gaza. Dalam sebuah pernyataan, Hamas mengatakan, keputusan Netanyahu untuk melanjutkan agresi Israel terhadap Gaza membuat nasib para sandera berada dalam ketidakpastian.

Hamas meminta para mediator, yaitu AS, Qatar, dan Mesir, untuk meminta pertanggungjawaban penuh Netanyahu atas penghentian sepihak perjanjian gencatan senjata. Hamas juga meminta negara-negara Arab dan Muslim untuk mendukung perlawanan Palestina yang bertujuan untuk mematahkan blokade tidak adil yang diberlakukan terhadap Gaza.

Hamas meminta Dewan Keamanan PBB untuk segera bersidang guna mengeluarkan resolusi yang mewajibkan Israel untuk menghentikan agresinya.

Mouin Rabbani, peneliti nonresiden di Middle East Council on Global Affairs kepada Al Jazeera, mengatakan, tidak jelas apakah gelombang serangan udara yang intens di Jalur Gaza dimaksudkan sebagai serangan tunggal atau awal dari serangan yang lebih besar.

Menurut Rabbani, pernyataan itu muncul karena Israel dinilai menolak untuk melaksanakan komitmennya berdasarkan perjanjian gencatan senjata bulan Januari dengan Hamas.

A destroyed section of a school-turned-camp building is pictured after an Israeli strike in Gaza City on March 18, 2025. Israel on March 18 unleashed its most intense campaign on the Gaza Strip since a January ceasefire, with Gaza civil defence agency saying 220 people killed, prompting Hamas to accuse Benjamin Netanyahu's government of torpedoing the truce. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Dalam perundingan gencatan senjata tahap kedua, Hamas direncanakan akan membebaskan semua sandera tersisa, sementara Israel akan menarik penuh pasukan dari Jalur Gaza. Hamas diyakini memiliki 24 sandera yang masih hidup dan mayat 35 sandera lainnya.

Menurut Rabbani, dasar penilaian bahwa Israel menolak komitmen kesepakatan terletak pada poin bahwa Israel akan menarik penuh pasukan dari Jalur Gaza dan negosiasi yang mengarah pada gencatan senjata yang langgeng. ”Poin-poin itu yang Pemerintah Israel berulang kali mengatakan tidak akan dilakukan,” kata Rabbani.

”Dengan kata lain, (Israel) menandatangani perjanjian meskipun tahu bahwa mereka akan menolak untuk melaksanakannya,” ujar Rabbani menambahkan.

Kesepakatan dalam perundingan kedua inilah yang saat ini tengah dirundingkan di Qatar. Perundingan juga sulit sehingga belum ada kemajuan mengingat ketidaksepakatan yang mengakar antarkedua belah pihak.

Taher Nunu, pejabat Hamas, mengkritik Israel. ”Masyarakat internasional menghadapi ujian moral, yaitu membiarkan kejahatan yang dilakukan oleh tentara pendudukan kembali terjadi atau menegakkan komitmen untuk mengakhiri agresi dan perang terhadap orang-orang tak berdosa di Gaza,” kata Nunu.

Dalam pelaksanaan gencatan senjata tahap I, jeda perang membawa sedikit kelegaan bagi Gaza. Gencatan senjata memungkinkan ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi ke selatan untuk kembali ke rumah mereka yang tersisa di Gaza utara.

Jalur Gaza menghadapi kemungkinan kehancuran besar tanpa adanya rencana segera membangun kembali wilayah itu. Apabila serangan udara Israel dimaksudkan untuk memulai kembali perang, itu akan mengancam kemajuan yang dicapai dalam beberapa minggu terakhir.

An ambulance carrying victims of an Israeli army strike arrives at the hospital in Khan Younis, southern Gaza Strip, Tuesday March 18, 2025.(AP Photo/ Mohammad Jahjouh)

Serangan ke Lebanon

Selain menyerang jalur Gaza, Israel menyerang Lebanon. Israel mengatakan, mereka menyerang dua anggota kelompok militan Hizbullah di kota Yohmor di Lebanon selatan. Israel menyebut mereka ”agen observasi”.

Kantor berita Pemerintah Lebanon melaporkan dua orang tewas dalam serangan itu. Adapun dua lainnya luka-luka.

Militer Israel juga mengatakan telah melancarkan serangan lebih lanjut ke lokasi Hizbullah di Lebanon, tanpa menyebutkan lokasinya. Gencatan senjata yang ditengahi AS antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku pada akhir November yang mengakhiri perang selama 14 bulan antara kedua belah pihak. Masing-masing pihak telah berulang kali menuduh pihak lain melanggar kesepakatan tersebut.

Tak cuma Israel, Hayat Tahrir al-Sham (HTS) di Suriah juga menyerang Lebanon. Menurut media Arab, Al Mayadeen, HTS melancarkan serangan ke kota perbatasan Lebanon, Hosh al-Sayyed Ali, di Distrik Hermel, Provinsi Baalbek-Hermel.

Penembakan HTS di Lebanon menewaskan 7 orang dan melukai 36 orang. Tentara Lebanon menanggapi serangan dari Suriah dengan meluncurkan serangan udara ke arah artileri yang menargetkan warga sipil di daerah Lebanon.

Peluru roket dari perdesaan al-Qusayr di Suriah juga menghantam kota terdekat al-Qasr. Kelompok militan HTS juga dilaporkan sudah memasuki sisi Lebanon dari Hosh al-Sayyed Ali. Namun, koresponden Al Mayadeen mengonfirmasi bahwa kelompok bersenjata ini tetap berada setidaknya 500 meter dari kota tersebut.

Militer Lebanon sudah disiapkan untuk memperkuat posisi pertahanan dan mencegah pelanggaran lebih lanjut terhadap kedaulatan Lebanon. Selain itu, komunikasi antara militer Lebanon dan otoritas Suriah terus berlanjut untuk memulihkan ketenangan di wilayah perbatasan.

Adapun menurut media Suriah, sedikitnya lima militan tewas dalam bentrokan di sepanjang perbatasan Suriah-Lebanon. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra