Impunitas diberikan pemerintah dan militer Israel kepada anggota pasukan yang melakukan kekerasan terhadap warga Palestina. Di lapangan, kekerasan terus berulang.
03 Agt 2025 19:00 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Dengan menutup atau membiarkan 88 persen laporan dugaan pelanggaran tentaranya di Gaza, Israel memberi kekebalan. Sementara Indonesia bersama berbagai negara terus berusaha membantu Palestina.
Laporan Action on Armed Violance (AOAV), lembaga di Inggris, pada Sabtu (2/8/2025) mengungkap soal kekebalan itu. Pada Maret 2025, AOAV mengungkap Angkatan Udara Inggris terbang 519 kali di atas Gaza. Penerbangan sejak Desember 2023 sampai Februari 2025 bagian dari pengumpulan informasi untuk membantu Israel.
Laporan AOAV pada Agustus 2025 selaras dengan laporan lembaga HAM Israel, Yesh Din, pada Juli 2024. Yesh Din menyebut, penyelidikan oleh militer Israel secara konsisten menjadi perisai pelindung tentara Israel alih-alih mengungkap kesalahan.
”Mekanisme ini, pada dasarnya, memberi Israel kedok prosedural untuk melawan tekanan internasional, sementara gagal menegakkan prinsip-prinsip keadilan dan hukum perang,” demikian pernyataan Yesh Din.
Lewat laporan Agustus 2025, AOAV antara lain menyoroti penyelidikan kematian 112 warga Palestina pada Februari 2024. Korban tewas di lokasi pembagian bantuan kemanusiaan di sekitar Nabulsi, Gaza. Menurut dokter dan perawat yang merawat korban, mayoritas korban tewas dan cedera terkena tembakan.
AOAV juga menyoroti serangan udara yang menewaskan 45 orang di Rafah pada Mei 2024. Selain itu, ada pembunuhan 31 warga Gaza dalam distribusi bantuan pada 1 Juni 2024 di Rafah. Seluruh kejadian itu tidak jelas penyelidikannya oleh Israel.
Disoroti pula serangan udara ke Manghazi pada 24 Desember 2024. Serangan itu menewaskan 86 warga sipil Palestina.
Selain itu, ada juga penembakan sukarelawan World Central Kitchen pada April 2024. Pemimpin World Central Kitchen, Erin Gore, menyebut, tujuh orang tewas akibat serangan Israel itu. Tim sedang mengendarai mobil antipeluru yang ditempeli logo World Central Kitchen.
Ada pula penembakan perempuan berusia 80 tahun di Balata. Selain itu, masih ada kasus penembakan konvoi pekerja medis yang menewaskan 15 sukarelawan pada Maret 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/a9f9f5fbc41d77018a1d4ccac973a247-FAK_3994.jpg)
Dalam berbagai kesempatan, Israel mengumumkan oditurat militer menyelidiki berbagai laporan pelanggaran oleh tentara Israel di Gaza. Sejak Israel menyerbu Gaza pada Oktober 2023, setidaknya 74 laporan diselidiki oditurat militer. ”Sepertinya sistem penyelidikan internal Israel untuk kejahatan militer tak lebih dari sandiwara politik,” demikian pernyataan AOAV.
Anggota tim AOAV, Iain Overton dan Lucas Tsantzouris, menyebut Israel konsisten memberikan kekebalan atau impunitas kepada tentaranya dalam serbuan ke Gaza. Caranya, penyelidikan tidak menghasilkan kesimpulan atau dinyatakan tidak ada kesalahan serius.
Dalam laporan AOAV disebut, ada 52 laporan yang diakui oditurat militer. Insiden pada Oktober 2023-Juni 2025 menewaskan 1.303 orang dan melukai 1.880 lain. Ada juga laporan penyiksaan. Dari 52 laporan itu, oditurat militer hanya menyebut enam kasus terjadi atas kesalahan pelaku. Dari enam kasus itu, cuma satu yang berakhir dengan hukuman untuk pelaku.
Untuk tiga kasus, pelakunya hanya mendapat teguran. Sementara tujuh kasus ditutup dengan alasan tak ditemukan pelanggaran. Adapun 39 kasus lain dinyatakan belum selesai diselidiki
”Kami dikejutkan oleh betapa—mungkin sengaja—proses investigasi internal yang tidak transparan. Akuntabilitas jarang ditegakkan. Dan terdapat kecurigaan bahwa hasil investigasi apa pun mungkin bertujuan untuk melindungi legitimasi institusional alih-alih menegakkan keadilan,” sebut AOAV dalam pernyataannya.
Militer Israel, Tzahal, mengklaim telah melakukan proses pemeriksaan dan investigasi terkait insiden luar biasa yang terjadi selama kegiatan operasional. Pemeriksaan dinyatakan selaras dengan hukum nasional dan internasional.
”Setiap laporan, pengaduan, atau tuduhan yang menunjukkan pelanggaran oleh pasukan IDF akan menjalani proses pemeriksaan awal, terlepas dari sumbernya. Dalam beberapa kasus, bukti yang ada cukup kuat sehingga penyelidikan kriminal oleh polisi militer diperintahkan, sementara dalam kasus lain, penyelidikan awal dilakukan,” kata mereka, dilansir dari The Guardian.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyuarakan sikap tegas Pemerintah Indonesia dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. ”Lebih dari 4.400 ton bantuan logistik telah kita kirimkan. Dalam waktu dekat, Indonesia juga akan mengirimkan 10.000 ton beras untuk saudara-saudara kita di Palestina,” ujarnya dalam Aksi Akbar Bela Palestina, Minggu (3/8/2025), di Jakarta.
Perjuangan kemerdekaan Palestina merupakan bagian dari amanah konstitusi dan komitmen nyata pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. ”Sejak awal, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina adalah bagian dari perjuangan bangsa Indonesia. Ini bukan hanya pidato, melainkan amanah Undang-Undang Dasar 1945. Indonesia tidak akan pernah menerima penjajahan dalam bentuk apa pun,” ujar Sugiono.
Indonesia konsisten menentang genosida, kelaparan yang dijadikan senjata, dan pemindahan paksa rakyat Palestina dari tanah airnya. Bantuan Indonesia untuk Palestina terus mengalir, baik dalam bentuk diplomasi maupun aksi kemanusiaan konkret.
Indonesia aktif menyuarakan isu Palestina di berbagai forum internasional, termasuk ASEAN, OKI, dan forum multilateral lainnya. ”Presiden Prabowo konsisten menyuarakan perjuangan Palestina di forum internasional, dan sebagai menteri luar negeri, saya bertugas melanjutkan diplomasi tersebut dengan langkah-langkah nyata,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/b3210e71ce821459f8365aa72003dd8f-FAK_3970.jpg)
Warga Palestina yang tengah berupaya mencari bantuan makanan kembali menjadi korban kekerasan bersenjata militer Israel. Setidaknya dua insiden terjadi pada Sabtu (2/8/2025), menewaskan setidaknya 30 orang.
Insiden pertama terjadi di dekat lokasi distribusi bantuan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) di dekat koridor Netzarim. Salah satu saksi mata, Yahia Youssef, mengatakan, setelah membantu tiga pengungsi yang terluka akibat tembakan, dia melihat orang lain tergeletak bersimbah darah. ”Kejadian seperti ini berulang setiap hari,” ujar Youssef.
Petugas kesehatan mengatakan setidaknya delapan orang tewas. Militer Israel mengatakan telah melepaskan tembakan peringatan ke arah kerumunan yang mendekati pasukannya.
Kejadian yang mirip juga terjadi di daerah Shakhoush, beberapa ratus meter dari lokasi operasi GHF di Rafah. Setidaknya dua orang tewas akibat tembakan di dekat lokasi pembagian bantuan. Petugas Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menerima dua jenazah korban penembakan di lokasi tersebut dan belasan orang yang terluka.
Saksi mata, Mohamed Abu Taha, mengatakan, pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Ia menyaksikan tiga orang, terdiri dari dua laki-laki dan seorang perempuan, tertembak.
Militer Israel mengatakan tidak mengetahui adanya tembakan oleh pasukannya di daerah tersebut. GHF mengatakan tidak ada yang terjadi di dekat lokasinya. GHF mengatakan pengamanan bersenjata yang disewanya hanya menggunakan semprotan merica atau melepaskan tembakan peringatan untuk mencegah kerumunan yang mematikan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/199205cf87c77a2bbf5a833470ef2bcb-000_68JB2KE.jpg)
Dari 27 Mei hingga 31 Juli, sebanyak 859 orang tewas di dekat lokasi distribusi bantuan GHF, menurut laporan PBB, Kamis (31/7/2025). Total, menurut laporan tersebut, 1.400 warga Palestina tewas saat mencoba mendapatkan bahan pangan untuk mereka, keluarga, dan mungkin orang-orang yang tinggal bersamanya di kamp-kamp pengungsian. Sebagian besar kematian itu akibat tembakan oleh militer Israel.
Israel dan GHF mengklaim jumlah korban telah dibesar-besarkan. Militer Israel membantah adanya penargetan. Tzahal berkeras bahwa mereka hanya melepaskan tembakan peringatan ketika warga Palestina mendekati posisi mereka.
Organisasi-organisasi internasional telah berbulan-bulan mengecam pembatasan yang diberlakukan oleh otoritas Israel terhadap distribusi bantuan di Gaza, termasuk penolakan penerbitan izin penyeberangan perbatasan, proses bea cukai yang lambat, titik akses yang terbatas, dan penerapan rute-rute berbahaya.
Sebaliknya, Israel telah berulang kali menuduh Hamas menjarah bantuan yang dipasok oleh PBB. Otoritas Israel telah menggunakan tuduhan ini untuk membenarkan blokade total di Gaza. Namun, menurut pejabat senior militer Israel yang dikutip oleh New York Times pada tanggal 26 Juli, Israel ”tidak pernah menemukan bukti” bahwa kelompok tersebut telah ”secara sistematis mencuri bantuan” dari PBB. (AP/AFP)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar