Salah satu pembuat film ”No Other Land” dipukuli pendatang ilegal yang mau jadi warga Israel. Bukannya ditolong, ia malah ditangkap aparat Israel.
25 Mar 2025 08:09 WIB · Internasional
TEPI BARAT, SELASA — Hamdan Ballal, salah satu pembuat film pemenang anugerah Oscar, No Other Land, ditangkap oleh militer Israel. Tel Aviv tidak melanjutkan gencatan senjata dan terus memperluas konflik dari Gaza hingga ke Tepi Barat.
Penangkapan Ballal diungkap oleh Basel Adra, salah satu sutradara No Other Land, pada Senin (24/4/2025) malam. Adra mendatangi rumah Ballal setelah ditelepon Ballal bahwa dirinya di dalam bahaya.
Menurut Adra, berdasarkan keterangan istri Ballal, seorang warga Israel yang menduduki Tepi Barat bersama sejumlah tentara mendatangi rumah Ballal. Ketika itu, Ballal sekeluarga sedang berbuka puasa.
Mereka lalu melempari rumah dengan batu dan melepas tembakan ke udara. Begitu Ballal keluar rumah untuk meredakan suasana, ia justru dikeroyok. Ketika itu Adra tiba di lokasi kejadian. ”Hamdan ditutup matanya dan diborgol. Ia digiring ke dalam mobil dan dibawa pergi,” kata Adra.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/96d2a4d69d9204823d6daa4b1340fb90-063_2202946450.jpg)
Kejadian bertempat di Susiya, Tepi Barat. Selain Ballal, turut pula dua warga Palestina yang diangkut oleh militer dan warga Israel.
Ballal dan Adra adalah dua warga Palestina di Tepi Barat. Mereka bermitra dengan dua pembuat film dari Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, membesut No Other Land. Film dokumenter pemenang anugerah Oscar 2025 ini menceritakan penggusuran Desa Masafer Yatta oleh militer dan warga Israel.
Asosiasi Dokumenter Internasional mengeluarkan pernyataan resmi mengecam penangkapan Ballal. Mereka juga meminta Israel membebaskan Ballal. ”Keluarga dan teman-teman Ballal berhak mengetahui alasan ia ditangkap, lokasi ia ditahan, dan keadaannya,” demikian isi pernyataan yang dikutip oleh Deadline.
Di daerah yang sama, sejumlah warga Israel juga menyerang kantor Pusat Yahudi Antikekerasan (CJNV). Lembaga prodemokrasi ini pro-Palestina. Mereka menentang penjajahan Israel di Tepi Barat ataupun genosida di Jalur Gaza.
Joel Kimelman, pegiat CJNV mengungkapkan kepada CNN bahwa ia dan empat rekannya dikeroyok para warga Israel. Mereka menyelamatkan diri dengan menaiki mobil.
Warga lalu melempari mobil dengan batu. Kimelman dan keempat rekannya adalah warga Yahudi dari Amerika Serikat. ”Ada sekelompok tentara menyaksikan kekerasan yang kami alami dan mereka diam saja,” ujarnya.
Tepi Barat merupakan wilayah Palestina, selain Jalur Gaza. Ada 3 juta warga Palestina di sana. Akan tetapi, Pemerintah Israel membuka Tepi Barat untuk pendudukan warga Israel.
Secara keseluruhan, ada 500.000 warga Israel pendudukan yang tersebar di 100 daerah permukiman. Keberadaan mereka menciptakan konflik horizontal dengan warga Palestina.
Sementara itu, di Gaza, militer Israel menembak gedung Palang Merah Internasional karena khilaf. Israel merilis pernyataan, mereka salah mengira gedung yang berada di Rafah itu sebagai salah satu pusat ancaman. Mereka berjanji menyelidiki kejadian tersebut.
Berdasarkan keterangan Palang Merah, tidak ada pegawai mereka yang terluka. Akan tetapi, rusaknya gedung memengaruhi kinerja Palang Merah memberi layanan kesehatan dan menyalurkan bantuan sosial untuk warga Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/7978b5bb1b32edf2e10f895ac8d058b9-AFP_36YT9XD.jpg)
Israel juga mendapat kecaman Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mereka dituduh menyerang salah satu gedung PBB di Gaza bagian tengah pada tanggal 19 Maret lalu. Juru Bicara Sekretariat Jenderal PBB Stephane Dujarric mengatakan bahwa dari penyelidikan pola kerusakan, disimpulkan penyebabnya tembakan tank Israel.
Serangan Israel ke Gaza pada hari Senin menewaskan 65 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, sejak perang dimulai pada Oktober 2023, sudah 50.000 warga Gaza tewas. Perang telah berkecamuk selama 17 bulan.
Seorang wartawan Al Jazeera, Hussam Shabat, tewas akibat serangan Israel. Ia sedang berada di dalam mobilnya ketika Israel melancarkan serangan udara mengincar mobil-mobil di jalanan.
Shabat dituding sebagai militan oleh Israel. Akan tetapi, organisasi Komite Perlindungan Jurnalis di AS, tuduhan militer Israel itu dibantah. Mereka menjamin bahwa Shabat adalah wartawan yang menunaikan tugas jurnalistik. Sejak perang dimulai, sudah 206 wartawan dan awak media tewas akibat serangan Israel.
Militer Israel memerintahkan warga Palestina di Gaza sebelah utara agar mengungsi. ”Kami akan melawan teroris yang kembali mempersenjatai diri. Demi keselamatan Anda, mengungsilah ke selatan,” kata Juru Bicara Militer Israel Avichay Adraee.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/4dba6511-9925-4ea4-ade7-26ec1c40eedd_jpg.jpg)
Sementara itu, Amerika Serikat malah menyalahkan Hamas soal serangan Israel ke Gaza. Utusan Khusus Presiden AS Steve Witkoff menyebut, Hamas yang menolak gencatan senjata.
Tudingan dilancarkan sepekan setelah Israel kembali mengebom berbagai penjuru Gaza. Serangan dimulai dua pekan selepas gencatan senjata tahap I selesai dan perundingan untuk tahap II belum berhasil.
Kepada Fox News, Witkoff menuduh Hamas mangkir dari perjanjian gencatan senjata. Padahal, AS memediasi gencatan senjata dilangsungkan hingga akhir April guna memberi ruang berunding. ”Hamas tidak menjalankan kewajiban mereka sehingga Israel kembali menyerang. AS sepenuhnya di pihak Israel,” tuturnya.
Terlepas ucapan Witkoff, warga Israel di Tel Aviv memprotes Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurut mereka, Netanyahu sengaja memantik konflik lagi supaya memperpanjang perang. Selama perang terjadi, ia bisa menghindari gugatan korupsi.
Partai politik Netanyahu bisa berkuasa berkat berkoalisi dengan partai ultrakonservatif. Para politikus sayap kanan ini menolak gencatan senjata. Mereka ingin Gaza dihancurkan dan dibersihkan dari warga Palestina.
Jika Netanyahu tidak bisa mewujudkannya, koalisi dibubarkan. Netanyahu yang tidak mau ditangkap akibat korupsi memenuhi keinginan kelompok ultrakonservatif ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/a1653da0a663b99042848800fa1bc02f-1000000127.jpg)
Menurut bocoran yang diterima surat kabar sayap kiri Israel, Haaretz, Tel Aviv menginginkan memojokkan warga Gaza ke wilayah yang sangat sempit. Asupan makanan dan obat-obatan mereka dibatasi seminimal mungkin, hanya cukup untuk bertahan hidup per hari.
”Tujuannya agar warga Gaza tidak betah dan memutuskan angkat kaki guna mencari kehidupan yang lebih baik. Ini akan mengosongkan Gaza dari kehadiran orang Palestina,” kata pejabat Israel yang dirahasiakan namanya.
Bagi Tel Aviv, mengosongkan Gaza adalah satu-satunya cara memastikan Hamas musnah. Guna mencegah Hamas atau organisasi serupa lahir kembali, di Gaza tidak boleh ada orang Palestina.
Di tengah konflik, Times of Israel melaporkan, Mesir terus berupaya menghadirkan gencatan senjata baru. Mereka sedang membuat proposal agar Hamas membebaskan lima sandera dan dibalas oleh Israel membuka aliran bantuan sosial untuk warga Gaza. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .