PIALA DUNIA 2026

Jadi ”Gelandangan” Semalam di New York Gara-gara Transportasi Lumpuh

Perayaan juara New York Knicks membuat transportasi kota New York lumpuh total. Warga dan ribuan calon pengguna transportasi pun terjebak di kota tersebut.

15 Jun 2026 11:26 WIB · Olahraga

Kompas/Prasetyo Eko Prihananto

Oleh Prasetyo Eko P dari New York, AS

Di tengah kegembiraan puluhan ribu pendukung Knicks, Sabtu (13/6/2026) malam hingga Minggu dini hari menjadi hari paling sial saat meliput gelaran Piala Dunia 2026. Malam itu, selepas meliput pertandingan Brasil lawan Maroko di Stadion MetLife, New Jersey City, saya naik media shuttle menuju New York City.

Naik media shuttle adalah pilihan paling murah (gratis) karena angkutan umum sangat mahal saat hari pertandingan dari dan ke stadion. Ride sharing seperti Uber dan Lyft sangat mahal saat ada pertandingan, bisa mencapai ratusan dolar AS untuk jarak hanya belasan kilometer. Begitu pula naik angkutan umum NJTransit yang menjadi satu-satunya transportasi dari dan ke stadion selama hari pertandingan Piala Dunia.

Seperti telah diberitakan media-media internasional sebelumnya, biaya naik kereta NJTansit bagi pemegang tiket Piala Dunia mencapai 98 dolar AS (Rp 1,7 juta) pergi-pulang dari Stasion Penn ke MetLife yang hanya sekitar 13 kilometer itu. Harga itu pun sudah diturunkan dari angka sebelumnya, 150 dolar AS, setelah dikecam. Padahal, pada hari-hari biasa hanya belasan dolar AS pergi-pulang.

Ada sejumlah angkutan media menuju hotel FIFA, tetapi tidak satu pun mengarah ke kawasan North Bergen, New Jersey City, tempat saya menginap. Pilihan paling baik adalah angkutan media yang menuju Even Hotel di dekat Port Authority Bus Terminal di New York City, yang juga hanya berjarak sekitar 200 meter dari Times Square.

Dari terminal bus supersibuk tersebut, ada bus langsung menuju North Bergen, yaitu jalur 125, yang lewat di depan penginapan, dengan harga tiket hanya 4,10 dolar AS yang pembeliannya melalui aplikasi NJTransit. Selain itu, saya juga ingin melihat bagaimana keramaian pendukung nonton bareng laga penentu final NBA New York Knicks lawan San Antonios Spurs.

Pertandingan Brasil lawan Maroko, Sabtu (13/6/2026) malam itu, kebetulan memang bersamaan dengan laga gim kelima final NBA antara Spurs dan Knicks di San Antonio. Meski bermain tandang, para pendukung Knicks memadati pusat kota untuk nonton bareng sekaligus berpesta seandainya Knicks memenangi gim kelima.

Selesai pertandingan dan membuat berita, para jurnalis langsung naik bus media, berangkat sekitar pukul 22.45. Tanda-tanda New York City sedang padat sudah terlihat saat keluar dari stadion, kemacetan luar biasa terjadi.

Bus pun merayap menuju tujuan. Dan benar saja, Knicks ternyata memenangi pertandingan 94-90 sehingga menjadi juara NBA 2026. Ini adalah gelar pertama Knicks setelah 53 tahun. Terakhir Knicks juara adalah pada 1973.

Malam itu, pesta pendukung knicks memang luar biasa. Kerinduan selama lebih dari setengah abad pecah begitu hitungan mundur waktu laga menunjukkan angka nol.

Kemenangan itu disambut meriah seluruh kota karena Knicks adalah klub pujaan New Yorker. Puluhan ribu warga kota berjuluk ”Big Apple” itu pun memadati pusat keramaian sehingga melumpuhkan arus lalu lintas di penjuru kota, mulai dari kawasan Times Square hingga kandang Knicks di Madison Square Garden yang berjarak sekitar 1 kilomter.

Para calon menumpuk di depan
Quote

Gila memang, semua macet, tidak ada bus yang bisa jalan.

Kian malam, kemacetan itu tak kunjung surut karena para pendukung yang keluar merayakan kemenangan Knicks sepertinya semakin banyak. Sebagian dari mereka sepertinya sengaja berpawai dengan menaiki bus sekolah warna kuning menuju pusat kota.

Ratusan polisi berjaga-jaga untuk mengamankan pesta tersebut. Helikopter pun terdengar meraung-raung di atas kerumunan pendukung Knicks. Hingga memasuki hari berikutnya, tidak terlihat tanda-tanda bahwa para pendukung tersebut akan segera bubar.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menuju terminal bus Port Authority untuk pulang. Apesnya, ternyata pintu-pintu terminal tersebut sudah dijaga oleh puluhan polisi New York (NYPD), tidak membolehkan calon penumpang masuk. Ternyata banyak juga yang bernasib seperti saya, terjebak tak bisa naik angkutan untuk pulang.

Menunggu satu jam hingga dua jam, ternyata terminal tersebut tetap ditutup. Ribuan calon penumpang pun kecewa karena tidak bisa pulang ke rumah masing-masing. Ada yang berteriak-teriak memprotes, tetapi petugas tidak menggubrisnya.

Di jalanan, suasana tetap ramai dengan pendukung Knicks. Kendaraan pribadi juga tidak bergerak karena lalu lintas memang lumpuh. Akhirnya, para calon penumpang pun lesehan atau tiduran di sepanjang emperan depan terminal, seperti gelandangan yang sesekali terlihat di New York City. Saya pun ikut lesehan sambil menahan kantuk luar biasa menunggu pagi. Mencari penginapan atau hotel di sekitar lokasi pun rasanya sia-sia.

”Gila memang, semua macet, tidak ada bus yang bisa jalan,” kata Emmanuel, seorang warga New Jersey, yang mengaku asli dari Ekuador.

N

Terminal bus Port Authority merupakan terminal angkutan terbesar di Amerika Serikat. Ia menjadi tulang punggung transportasi di New York dan sekitarnya. Menurut laman Port Authority NYNJ, panynj.gov, terminal ini setiap harinya rata-rata melayani 260.000 penumpang dengan 7.200 bus. Selain itu, di bawah terminal ini juga ada stasiun kereta bawah tanah.

Dari terminal ini, penumpang bisa menuju ke sejumlah kota di beberapa wilayah negara bagian AS. Misalnya, ada bus jurusan ke Washington DC, Boston, New Jersey City, dan Philadelphia.

Sambil menunggu terminal dibuka kembali, saya pun berjalan keliling melihat situasi pesta yang tak kunjung berakhir tersebut. Ternyata, ada juga kericuhan karena massa merusak bus sekolah yang ditumpangi para pendukung. Polisi hanya berjaga-jaga, tidak berusaha untuk membubarkan massa.

Sekembalinya ke terminal, sekitar pukul 03.00, ternyata masih tutup. Seorang petugas polisi dengan menggunakan pelantang suara meminta para calon penumpang membubarkan diri karena terminal tutup. Alasannya, tidak ada bus yang keluar atau pun masuk terminal karena lalu lintas lumpuh. Bus-bus tersebut terjebak di jalanan sehingga tidak bisa menuju terminal.

T

Saya memutuskan untuk kembali lesehan saja di emperan terminal, menunggu pagi. Akhirnya, setelah lesehan dan sesekali rebahan di lantai yang kotor, sekitar pukul 05.30, terminal dibuka kembali. Suasana jalanan New York masih ramai, tetapi tidak sepadat malam sebelumnya.

Sisa-sisa keramaian semalam pun terlihat. Sampah botol minuman tampak berserakan di jalanan. Terlihat petugas berusaha mengevakuasi satu bus yang dirusak massa. Tampak juga jurnalis televisi yang tengah meliput kerusakan tersebut.

Akhirnya, bus jalur 125 yang menuju kawasan North Bergen datang sekitar pukul 08.30 waktu setempat. Saya pun segera naik bus menuju penginapan untuk beristirahat.

(Laporan langsung wartawan Harian Kompas (Kompas.id), Prasetyo Eko P, dari New York, Amerika Serikat)


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko P dari New York, AS
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim