Dalam tiga turnamen beruntun di Asia Timur pada September, langkah Jafar/Felisha tak begitu jauh. Mereka selalu kalah pada babak kedua.
25 Sep 2025 18:36 WIB · Olahraga
SUWON, KAMIS — Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu mendapatkan pelajaran baru pada tahun pertama mereka dalam padatnya persaingan BWF World Tour. Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia itu harus belajar menjaga semua faktor agar bisa tampil baik pada tiga turnamen beruntun.
Untuk pertama kalinya, Jafar/Felisha mengikuti tiga turnamen dalam tiga pekan yang pada September ini berlangsung di Asia Timur. Mereka mendapatkan hasil sama di Hong Kong Terbuka Super 500, China Masters Super 750, dan Korea Terbuka Super 500, yang berlangsung sejak 9 September 2025, yaitu kalah pada babak kedua.
Meskipun bisa melangkah hingga semifinal pada salah satu turnamen Super 1000, yaitu China Terbuka, 22-27 Juli lalu, Jafar/Felisha masih memiliki pekerjaan rumah untuk bisa mencapai tahap konsisten. Seusai China Terbuka, mereka kalah pada babak ketiga Kejuaraan Dunia di Perancis, 25-31 Agustus. Saat itu, Jafar tampil dengan cedera pergelangan kaki kiri. Setelah itu, mereka menjalani tur di Asia Timur.
Kekalahan di Korea Terbuka, yaitu pada pertandingan di Suwon Gymnasium, Kamis (25/9/2025), terjadi saat melawan pemain Denmark, Mathias Christiansen/Alejandra Boje. Jafar/Felisha kalah dengan skor 24-22, 19-21, 14-21 setelah bertanding selama 1 jam 20 menit.
Laga itu pun menjadi yang terlama bagi Jafar/Felisha sejak mereka berpasangan pada Agustus 2024. Sebelumnya, mereka pernah bermain selama 1 jam 15 menit untuk memenangi babak pertama Kejuaraan Asia di Ningbo, China, pada April.
Walaupun Christiansen/Boje hanya menempati peringkat ke-69 dunia dan mengikuti Korea Terbuka dari babak kualifikasi, mereka adalah pemain berpengalaman. Christiansen adalah pemain spesialis ganda yang turut mengantarkan Denmark menjuarai kejuaraan beregu putra Piala Thomas 2016. Di ganda campuran, Christiansen mencapai posisi terbaik sebagai pasangan peringkat keempat dunia, yaitu bersama Christina Pedersen, pada 2018.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/e1a1e14709b15db5b2f1b017e81c40dd-JafarFelisha8_R16_KoreaOpen2025_PBSI_20250925.jpg)
Namun, skors yang diterima Christiansen dari Federasi Bulu Tangkis Denmark membuat dia dan Boje absen sejak September 2024 hingga Juli 2025. Christiansen, atlet yang fasih berbahasa Indonesia, diskors karena tidak melaporkan keberadaannya ketika harus menjalani tes doping.
Bersama Boje, Christiansen memiliki enam gelar juara turnamen BWF dari sembilan final dan menjadi pasangan peringkat kedelapan dunia pada 2022. Maka, Jafar/Felisha pun harus berusaha keras untuk mendapatkan setiap poin, salah satunya dalam reli sebanyak 74 pukulan pada gim kedua.
Ketika sudah membangun pola untuk menyerang, Jafar berulang kali membuat kesalahan pada penyelesaian akhir, seperti smes kok drive yang membuat kok tak melewati net.
Kami membuang poin tidak hanya satu atau dua kali, tetapi lebih dari itu secara beruntun. - Felisha Nathaniel Pasaribu -
Jafar/Felisha semakin kesulitan mengimbangi lawan pada gim penentuan karena kondisi fisik dan fokus telah menurun pada pekan ketiga turnamen. ”Pertahanan mereka kuat sekali pada akhir gim kedua dan sepanjang gim ketiga. Tidak dimungkiri, tenaga saya mulai terkuras, jadi mainnya kurang sabar,” kata Jafar.
Hal serupa dikatakan Felisha. Dalam kondisi yang menurun, kesabaran, ketenangan, fisik, dan fokus mereka diuji.
”Ini pelajaran baru buat kami karena pertama kali ikut tiga turnamen beruntun. Jadi, harus lebih pintar menyiasati untuk tetap fit dalam fisik, pikiran, dan pola permainan pada keadaan yang sudah menurun. Itu masih menjadi kekurangan kami,” tutur Felisha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/7e8a1231ce9b3233f7c062150a96dce6-AmriNita7_R16_KoreaOpen2025_PBSI_20250925.jpg)
Hal lain yang menjadi evaluasi pemain berusia 19 tahun itu adalah masih banyaknya ia dan rekannya membuat kesalahan. ”Kami membuang poin tidak hanya satu atau dua kali, tetapi lebih dari itu secara beruntun. Kami harus bisa memecahkan persoalan ini,” ucap Felisha yang akan menjalani tantangan berikutnya dalam tur di Eropa pada Oktober.
Christiansen/Boje pun sebenarnya menjalani turnamen ketiga, yaitu pada pekan ketiga, saat tampil di Korea Terbuka. Namun, karena memiliki peringkat di luar 40 besar dunia, mereka tampil dalam dua turnamen berlevel rendah (Super 100) sebelum bermain di Suwon, yaitu Vietnam Terbuka dan saat menjuarai Indonesia Masters.
Catatan lain bagi Jafar/Felisha setelah kalah di Korea Terbuka adalah statistik yang memperlihatkan bahwa mereka lebih sering kalah dalam pertandingan tiga gim. Pada 2025, pasangan peringkat ke-11 dunia itu sembilan kali kalah dari 14 laga tiga gim.
Dengan kekalahan Jafar/Felisha, ganda campuran tinggal memiliki satu wakil, yaitu Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Amri/Nita menyingkirkan unggulan keenam, Hiroki Midorikawa/Natsu Saito, 21-19, 21-14, yang menjadi pembalasan kekalahan saat mereka bertemu pada babak kedua Jepang Terbuka, Juli.
Pada perempat final, Amri/Nita akan melawan juara All England peringkat kelima dunia, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui. ”Alhamdulillah bisa revans lawan Jepang. Bisa mengalahkan unggulan yang sudah juara Super 500 dan pemain peringkat sepuluh besar dunia pasti berpengaruh pada kepercayaan diri kami. Semoga dari sini kami bisa terus bermain tanpa beban,” kata Amri.
Kemenangan yang baru saja dirasakan Anthony Sinisuka Ginting langsung berakhir ketika pemain tunggal putra ini kalah dari Kenta Nishimoto, 18-21, 19-21, pada babak kedua. Hasil tersebut didapatnya hanya berselang sehari setelah merasakan kemenangan pertama dalam waktu delapan bulan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/d7173d071d017ba29b28f79fe9e286b1-Ginting12_R16_KoreaOpen2025_PBSI_20250925.jpg)
Anthony mengalahkan Yushi Tanaka pada babak pertama yang merupakan kemenangan pertama setelah babak awal Malaysia Terbuka, Januari. Setelah kalah pada babak kedua di Malaysia, Anthony absen dari turnamen karena cedera bahu kanan, lalu kembali ke kompetisi pada Juli.
Peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020 itu selalu kalah dalam babak pertama pada lima kejuaraan hingga akhirnya menang di Suwon.
Namun, Anthony tak dapat melangkah lebih jauh. Dia masih harus memperbaiki akurasi pukulan, juga menemukan pola main yang tepat dengan cepat untuk menghadapi lawan dengan gaya permainan berbeda.
Kekalahan dari Nishimoto diwarnai momen yang bisa saja membuat pertandingan berlanjut ke gim ketiga. Anthony memiliki kesempatan menyamakan skor setelah tertinggal 19-20 pada gim kedua. Kok dari pukulan net Anthony, yang dalam siaran langsung TV terlihat jatuh di atas garis permainan tunggal, dinyatakan keluar oleh hakim garis.
Anthony memprotes keputusan tersebut, tetapi tidak bisa melihat tayangan ulang. Pertandingan yang berlangsung selain di lapangan utama—Anthony melawan Nishimoto berlangsung di Lapangan 3—tidak dilengkapi kamera untuk memenuhi permintaan challenge (tayangan ulang jejak kok) dari pemain. Akhirnya, Anthony mengikuti keputusan wasit yang tetap memberi poin kepada Nishimoto.
”Bolanya jelas masuk, tetapi mungkin teriakan lawan ketika bola belum menyentuh karpet membuat line judge kaget dan refleks memutuskan keluar. Ke depan, semoga ada perhatian dan perbaikan dari BWF untuk kasus-kasus seperti ini, terutama untuk pertandingan di lapangan-lapangan pinggir yang tidak tersedia Instant Replay System,” kata Anthony.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/a4d2a236f7b7afae3a2f8b2a7563bbb2-Jonatan7_R16_KoreaOpen2025_PBSI_20250925.jpg)
Setelah mengalahkan Anthony, Nishimoto akan bertemu pemain Indonesia lainnya, Jonatan Christie, pada perempat final. Jonatan menang atas Lee Chia Haou, 22-20, 15-21, 21-15.
Alwi Farhan juga akan tampil di perempat final setelah menang walk-over (WO) atas Lee Cheuk Yiu. Alwi berkesempatan melangkah lebih jauh dalam turnamen Super 500 dibandingkan ketika terhenti pada perempat final Hong Kong Terbuka. Dia harus mengalahkan Weng Hong Yang seperti yang dilakukan pada babak kedua di Hong Kong.
Sementara perjalanan Chico Aura Dwi Wardoyo dan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti terhenti pada babak kedua. Chico kalah dari Chou Tien Chen, 9-21, 17-21, sedangkan Apriyani/Fadia disingkirkan Lee So-hee/Baek Ha-na, 12-21, 16-21.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar