PENGENDALIAN BANJIR

Hadapi Cuaca Ekstrem, Jakarta Percepat Keruk Kali dan Modifikasi Cuaca

Pemprov Jakarta mempercepat pengerukan kali, waduk, dan saluran air serta menyiapkan anggaran Rp 31 miliar untuk operasi modifikasi cuaca sepanjang 2026.

16 Jan 2026 17:14 WIB · Metropolitan

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Oleh Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy

JAKARTA, KOMPAS — Setelah banjir beberapa hari terakhir, Pemerintah Provinsi Jakarta mempercepat pengerukan kali, waduk, dan saluran penghubung di sejumlah wilayah. Langkah ini untuk mencegah banjir susulan di tengah cuaca ekstrem.

Suku Dinas (Sudin) Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara mencatat, sepanjang 2025 telah mengeruk sedimen di 13 kali, lima waduk, dan 10 saluran penghubung (PHB). Kepala Sudin SDA Jakarta Utara Heria Suwandi mengatakan, pengerukan dengan alat berat akan dilanjutkan sepanjang tahun 2026.

”Tujuan pengerukan adalah memperbesar kapasitas tampung waduk dan kali yang tertutup sedimen lumpur,” ujar Heria di Jakarta, Jumat (16/1/2026).

Heria menyebut, lima waduk yang dikeruk ialah Waduk Pluit, Waduk Sunter Utara atau Danau Cincin, Waduk Muara Angke, Embung Kodamar, dan Embung Babek TNI. Saat ini pengerukan masih berlangsung di Waduk Pluit, Waduk Sunter Utara, dan Embung Babek.

Sementara di kali, pengerukan masih dilakukan di Kali Cakung Lama, Kali Adem, Kali Semper Barat, Kali Pluit Karang Barat, Kali Betik, Kali Bokor, dan Kali Ancol. Sementara pengurasan saluran PHB masih berlangsung di Kelapa Lilin Timur, Warung Jengkol, Cacing Raya, dan Karang Bolong.

Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta membersihkan sampah di Kali Cideng, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). Pembersihan ini untuk menjaga kebersihan kota juga mencegah sampah menumpuk di kali yang dapat memicu banjir.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
14-01-2026

Hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan, pendangkalan tinggi di Kali Angke terjadi akibat sedimentasi lumpur sehingga pengerukan harus dipercepat. ”Kali Angke salah satu yang terdampak rob, sedimen lumpurnya sudah tinggi,” kata Heria.

Heria menekankan, pengerukan ini menjadi prioritas karena banyak kali di Jakarta Utara yang kapasitas tampungnya berkurang akibat sedimen. Pengerukan akan dilakukan terus-menerus dan berkala.

Tak hanya pengerukan, pihaknya akan meningkatkan kapasitas pompa dan saluran air serta memperbaiki drainase guna mengoptimalkan pengendalian banjir di Jakarta Utara.

Pengendara bermotor menunggu surutnya banjir yang menggenangi Jalan Jembatan 3, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (12/1/2026). Tingginya curah hujan dan buruknya drainase menjadikan sejumlah wilayah di Jakarta terendam banjir.

Guna mengantisipasi banjir, Pemerintah Kota Jakarta Barat juga terus mengeruk kali, salah satunya adalah Kali Sepak di wilayah Kembangan, Jakarta Barat.

Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah menjelaskan bahwa pengerukan ini menjadi kunci untuk mengurangi dampak banjir di wilayah hilir. Pengerukan ini melibatkan tiga alat berat dan 20 personel lapangan.

Lumpur hasil pengerukan akan diangkut ke kawasan Ancol, Jakarta Utara. Pengerukan sepanjang 1,4 kilometer ini telah dimulai sejak awal Januari 2026 dan ditargetkan selesai dalam tiga bulan. Setiap hari, sepuluh truk akan mengangkut sekitar 140 meter kubik lumpur ke Ancol.

”Satu truk mampu menampung tujuh meter kubik, dengan sepuluh truk beroperasi dua kali sehari, sehingga total lumpur yang diangkut per hari sekitar 140 meter kubik,” ujar Iin.

Pengungsi banjir harus melintasi genangan air saat pulang menuju tempat tinggal mereka di Kampung Kandang, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (13/1/2026). Pengungsi banjir di Kampung Kandang mulai kembali ke tempat tinggal mereka usai banjir berangsur surut. Kampung Kandang yang berlokasi di RW 4, Kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara ini terendam banjir pada Senin (12/1/2026) hingga ketinggian 40 sampai 70 sentimeter. Lebih dari 100 keluarga terdampak akibat banjir tersebut dan harus mengungsi ke Rusun Semper Barat yang berdekatan dengan tempat tinggal mereka. Walau demikian, genangan air masih merendam beberapa titik di sekitar pemukiman warga Kampung Kandang. Mereka khawatir akan terjadi banjir lagi jika hujan deras kembali mengguyur Jakarta.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
13-01-2026

Selain Kali Sepak, Pemerintah Kota Jakarta Barat juga tengah mengeruk 11 kali lain untuk memperlancar aliran air dan mencegah banjir. Beberapa di antaranya adalah Kali Semongol, Kali Pesanggrahan, Kali Sekretaris, Kali Cibubur, PHB Copylas, Kali Maja, Kali Mookervart, PHB Taman Palem, dan PHB Wali Kota.

Sementara itu, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan fokus pada normalisasi Kali Krukut segmen Jalan Prapanca hingga Tendean pada 2026 sebagai bagian dari upaya penanganan banjir.

Wali Kota Jakarta Selatan Muhammad Anwar mengatakan, upaya ini untuk mengatasi banjir langganan di Kemang, Petogogan, dan sekitarnya dengan memperlancar aliran Kali Krukut.

”Pak Gubernur (Jakarta Pramono Anung) juga mengarahkan normalisasi Kali Krukut dari belakang Kintamani sampai Tendean,” kata Anwar di Jakarta Selatan, Selasa (13/1/2026).

Sebagai bagian dari proyek ini, Pemkot Jaksel akan menyosialisasikan relokasi warga yang tinggal di sepanjang Kali Krukut ke rusun pada 20 Januari 2026.

Normalisasi Kali Krukut sepanjang 1,3 kilometer akan dilakukan pada tahun 2026 untuk mengurangi risiko banjir di kawasan padat penduduk tersebut.

Ekskavator mengeruk lumpur di Kali Cideng, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). Pemerinta Jakarta menggalakan pengerukan lumpur di masa musim penghujan. Pengerukan ini sebagai upaya Pemerintah Jakarta mengantisipasi banjir. Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak Minggu (11/1/2026) hingga Senin (12/1/2026) menyebabkan puluhan RT dan ruas jalan di Jakarta tergenang banjir. Beberapa titik banjir di Jakarta bahkan belum surut hingga Selasa (13/1/2026).

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
14-01-2026

Selain itu, Sudin SDA Jakarta Selatan tengah mengeruk sedimen lumpur di Kali Cideng, segmen Jalan Kuningan Persada, Guntur, Jakarta Selatan. Pengerukan dilakukan di ruas sepanjang 515 meter menggunakan kombinasi tiga ekskavator amfibi dan ekskavator lengan panjang dengan kapasitas angkut 200-300 meter kubik lumpur per hari.

Pengerukan dilakukan bertahap, mencakup pengangkatan sedimen lumpur dan material sampah yang mengendap di dasar sungai sehingga aliran air kembali lancar.

Sejak awal

Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta, Bun Joi Phiau, menyambut baik langkah Pemprov Jakarta dalam pengerukan kali pascabanjir meski tindakan itu dinilai terlambat.

”Baru setelah kita mengalami banjir yang besar kemarin, Pemprov Jakarta melakukan pengerukan kali secara masif di sungai-sungai yang ada di sekitar Jakarta,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026).

Beberapa kali yang menjadi fokus pengerukan antara lain Sungai Setiabudi, Kali Sepak, dan Kali Mookervart. Selain itu, pengerukan sedimen dilakukan di saluran-saluran air di wilayah lain Jakarta.

Anak-anak bermain air saat banjir menggenangi Jalan Jembatan 3, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (12/1/2026). Tingginya curah hujan dan buruknya drainase menjadikan sejumlah wilayah di Jakarta terendam banjir.

Bun menekankan bahwa pengerukan tersebut seharusnya dimasifkan lebih awal. Jika hal ini dilakukan, Jakarta akan lebih siap dalam menghadapi hujan deras atau cuaca ekstrem yang berpotensi mengakibatkan banjir.

”Semua ini seharusnya dilaksanakan dari jauh-jauh hari. Kita tidak menafikan bahwa sudah ada pengerukan kali yang dilakukan sebelumnya, tetapi itu semua tidak cukup. Hal ini dibuktikan kemarin, ketika hujan deras mengakibatkan banjir besar terjadi di mana-mana,” katanya.

Menurut Bun, perubahan iklim menjadi tantangan baru dengan intensitas hujan yang semakin tinggi dan sulit diprediksi. Oleh karena itu, Pemprov Jakarta perlu menyesuaikan jadwal pengerukan agar dilakukan sebelum puncak musim hujan.

”Sekarang ini musim hujan datangnya lebih cepat dan kemungkinan akan berakhir lebih lama. Jadi, saya pikir harus ada penyesuaian dalam usaha Pemprov Jakarta mengeruk kali. Pengerukan itu perlu dilaksanakan pada waktu-waktu yang curah hujannya lagi sedikit,” ujarnya.

Warga menikmati suasana sore di Waduk Cilangkap Giri Kencana, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (13/1/2026).
Waduk Cilangkap Giri Kencana sebagai salah satu langkah antisipasi banjir di ibu kota. Waduk tersebut diberi nama ÒWaduk Batu LicinÓ karena Batu Licin merupakan legenda dari daerah setempat. Waduk tersebut memiliki sejumlah fungsi, diantaranya fungsi utama sebagai penampung air hujan dan aliran sungai. Selain itu, waduk ini juga menjadi ruang temu ekologis manusia, flora, dan fauna. Waduk ini juga dibangun untuk menciptakan ketenangan dan menurunkan suhu perkotaan. Keberadaan waduk ini juga sebagai langkah adaptif terhadap ancaman banjir dan perubahan iklim.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Modifikasi cuaca

Selain pengerukan kali, Pemprov Jakarta menyiapkan anggaran Rp 31 miliar untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) sepanjang 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jakarta Isnawa Adji mengatakan, modifikasi cuaca tidak hanya untuk mengantisipasi hujan ekstrem yang berpotensi menimbulkan banjir, pohon tumbang, dan longsor, tetapi juga dapat diterapkan saat kemarau untuk menekan polusi udara melalui hujan buatan.

”OMC merupakan bagian dari mitigasi potensi bencana hidrometeorologi dan dampak ikutan selanjutnya seperti kemacetan,” katanya, Jumat (16/1/2026).

Anak-anak bermain air di genangan sisa banjir di Kampung Kandang, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (13/1/2026). Pengungsi banjir di Kampung Kandang mulai kembali ke tempat tinggal mereka usai banjir berangsur surut. Kampung Kandang yang berlokasi di RW 4, Kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara ini terendam banjir pada Senin (12/1/2026) hingga ketinggian 40 sampai 70 sentimeter. Lebih dari 100 keluarga terdampak akibat banjir tersebut dan harus mengungsi ke Rusun Semper Barat yang berdekatan dengan tempat tinggal mereka. Walau demikian, genangan air masih merendam beberapa titik di sekitar pemukiman warga Kampung Kandang. Mereka khawatir akan terjadi banjir lagi jika hujan deras kembali mengguyur Jakarta.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
13-01-2026

Ia menilai, jika potensi cuaca ekstrem tidak diantisipasi, dampaknya akan langsung dirasakan warga, baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Oleh karena itu, BPBD Jakarta menyiapkan anggaran khusus untuk pelaksanaan OMC.

Meski tidak hanya dilakukan saat musim hujan, pelaksanaan OMC tidak dilakukan sembarangan. Operasi ini hanya dilaksanakan berdasarkan analisis dan imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), surat antisipasi bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta arahan langsung dari Gubernur Jakarta.

”Wilayah prioritas OMC mencakup seluruh Jakarta hingga Kepulauan Seribu, menyesuaikan analisis BMKG. Jika di selatan Jakarta, OMC dilakukan di atas Depok dan Bogor. Jika di utara, bisa dilakukan di atas Tangerang,” kata Isnawa.

Pemprov Jakarta menggelar OMC sejak Selasa (13/1/2026). Program yang semula dijadwalkan berlangsung lima hari kini diperpanjang hingga 22 Januari 2026.

Dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Jakarta Tahun 2026 sebesar Rp 81,32 triliun, sebanyak Rp 3,64 triliun dialokasikan khusus untuk pengendalian banjir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji