TENIS

Janice Tjen, Asian Games 2026, dan Peraturan WTA

Janice Tjen tak akan bermain di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Janice harus tampil di WTA 1000 Beijing yang berlangsung bersamaan dengan tenis Asian Games.

12 Sep 2026 12:33 WIB · Olahraga

Getty Images via AFP

Oleh Yulia Sapthiani

Janice Tjen mengumumkan tak akan memperkuat tim tenis Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 karena dia punya kewajiban bermain pada turnamen wajib dalam kalender WTA Tour, yaitu WTA 1000 Beijing, China, yang penyelenggaraannya bentrok dengan persaingan tenis Asian Games di Jepang.

“Setelah melalui banyak pertimbangan, saya harus mengambil keputusan yang tidak mudah bahwa saya tidak dapat bertanding di Asian Games tahun ini, yang berlangsung bersamaan dengan turnamen WTA 1000 Wajib di Beiing. Kami telah menerima konfirmasi dari WTA bahwa sayangnya, saya tidak mendapatkan pengecualian untuk dapat bertanding di Asian Games”.

Keterangan dari Janice Tjen tentang absennya dia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Pengumuman itu dirilis Janice dalam akun Instagram-nya pada Jumat (11/9/2026) malam. Hingga Sabtu siang, unggahannya mendapat 500-an komentar, semuanya mendukung keputusan petenis berusia 23 tahun itu.

Semula, Janice diagendakan bermain di tunggal dan ganda putri. Petenis lain yang akan membela tim tenis “Merah Putih” diantaranya Aldila Sutjiadi, Christopher Rungkat, dan Muhammad Rifqi Fitriadi. Di Asian Games Hangzhou 2022, duet Janice/Aldila menyumbangkan medali perunggu.

Persaingan petenis di Asian Games 2026 akan berlangsung di Higashiyama Park Tennis Center, Nagoya, 27 September - 3 Oktober. Cabang ini memperebutkan lima medali emas dari nomor tunggal putra dan putri, ganda putra dan putri, serta ganda campuran. Penyelenggaraan tersebut berbarengan dengan WTA Beijing yang berlangsung 30 September - 11 Oktober.

Pasangan ganda putri Indonesia, Aldila Sutjiadi/Janice Tjen, melawan wakil Filipina, Stefi Aludo/Rennielle Madis pada babak semifinal SEA Games Thailand 2025 di National Tennis Development Centre, Muang Thong Thani, Nonthaburi, Thailand, Rabu (17/12/2025) siang. Aldila/Janice menang dengan skor 6-1, 6-1.

Nama Janice sudah tercantum dalam daftar peserta WTA Beijing sejak batas akhir pendaftaran pada 18 Agustus. Petenis lain yang sudah terdaftar diantaranya juara bertahan Amanda Anisimova, serta petenis-petenis top dunia lain seperti Aryna Sabalenka, Mirra Andreeva, Cori Gauff, dan Elena Rybakina.

WTA Beijing adalah salah satu dari sepuluh turnamen WTA 1000 yang digelar pada 2026. Dalam persaingan tunamen tenis profesional untuk putri, WTA 1000 berada pada level tinggi di atas WTA 500 dan 250.

Sepuluh turnamen WTA 1000 tersebut berkategori “mandatory”, wajib diikuti petenis yang memenuhi syarat berdasarkan ranking. Turnamen-turnamen tersebut berlangsung dengan menggunakan undian 64 dan 128, termasuk mereka yang bersaing sejak kualifikasi dan mendapat wildcard. Maka, petenis dengan ranking sesuai jumlah peserta turnamen itu adalah mereka yang berkewajiban mengikuti turnamen, termasuk Janice yang saat ini berada di ranking ke-36 dunia.

NEW YORK, NEW YORK - SEPTEMBER 01: Janice Tjen of Indonesia returns a shot against Mirra Andreeva during their Women's Singles First Round match on Day Three of the 2026 US Open at USTA Billie Jean King National Tennis Center on September 01, 2026 in the Flushing neighborhood of the Queens borough of New York City.   Julian Finney/Getty Images/AFP (Photo by JULIAN FINNEY / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Struktur turnamen yang terdiri atas WTA 1000, 500, dan 250 diberlakukan sejak 2021, menggantikan struktur sebelumnya. Pada 1990-2008, turnamen WTA 1000 menggunakan nama WTA Tier I, lalu berganti menjadi WTA Premier Mandatory pada 2009-2020.

Pada 2021 hingga 2023, terdapat dua kategori pada turnamen WTA 1000, yaitu WTA 1000 Mandatory dan Non Mandatory. Mandatory, yang terdiri atas turnamen di Indian Wells, Miami, Madrid, dan Beijing wajib diikuti semua petenis yang memenuhi syarat ranking, terutama petenis top dunia. Absen di turnamen ini tanpa alasan jelas, seperti cedera/sakit, membuat petenis akan mendapat poin 0 dan denda.

INDIAN WELLS, CALIFORNIA - MARCH 15: Aryna Sabalenka poses with the championship trophy after defeating Elena Rybakina of Kazakhstan during their Women's Singles Finals match on Day 12 of the BNP Paribas Open at Indian Wells Tennis Garden on March 15, 2026 in Indian Wells, California.   Clive Brunskill/Getty Images/AFP (Photo by CLIVE BRUNSKILL / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Sebaliknya, Non Mandatory adalah turnamen yang partisipasinya tidak bersifat wajib. Petenis bisa memilih untuk tampil di ajang tertentu dari pilihan lima turnamen.

Sejak 2024, peraturan tersebut berubah. WTA membuat semua turnamen WTA 1000 menjadi berkategori Mandatory untuk atlet yang memenuhi syarat ranking dan sehat, tentu saja termasuk Janice yang memasuki ranking 60 besar dunia sejak 2025 dan saat ini di posisi ke-36. Apalagi, nama Janice sudah terdaftar sebagai peserta WTA Beijing seperti yang dirilis dalam laman resmi WTA.

Kasus Alexandra Eala

Berbeda dengan Janice, petenis putri Filipina, Alexandra Eala, sejak awal tidak mendaftarkan diri untuk tampil di WTA Beijing. Namanya tidak tercantum dalam daftar peserta karena atlet berusia 21 tahun ini memilih tampil di Asian Games. Asosiasi Tenis Filipina (Philta) telah mengirimkan surat pada WTA untuk mendapat pengecualian bagi Eala di WTA Beijing.

Alexandra Eala, of the Philippines, hits a return to Iva Jovic, of the United States, during the third round of the U.S. Open tennis championships, Saturday, Sept. 5, 2026, in New York. (AP Photo/Frank Franklin II)

Meski tak mendaftarkan diri untuk WTA Beijing, Eala tetap berpotensi mendapat konsekuensi karena dia berstatus atlet yang wajib mengikuti turnamen WTA 1000 dengan ranking ke-18. Selain mendapat nol poin ranking, dia berpeluang kena denda. Akan tetapi, denda ini belum dipastikan karena berdasarkan pemberitaan media di Filipina, Philta belum mendapat jawaban dari WTA.

Buku Peraturan WTA 2026 Bab IV mengatur tentang absennya petenis dari turnamen dan pengunduran diri saat bertanding. Petenis yang wajib bertanding tetapi absen dari turnamen  akan mendapat nol poin yang bisa berpengaruh pada ranking dan denda, termasuk jika tidak mendaftarkan diri seperti Eala.

Daftar denda dari WTA bagi petenis yang absen di turnamen yang seharusnya mereka ikuti.

Jumlah denda tergantung pada level turnamen yang dilewatkan dan ranking petenis. Untuk turnamen WTA 1000 misalnya, petenis ranking 1-10 dunia yang absen akan didenda 20.000 dollar AS (sekitar Rp 352 juta). Atlet dengan ranking 11-25 dunia mendapat denda Rp 176 juta, lalu Rp 88 juta untuk atlet ranking 26-50, dan Rp 44 juga bagi petenis ranking 51 ke bawah. Potensi denda senilai inilah yang dihadapi Eala dan bisa dialami Janice saat melewatkan WTA Beijing.

Quote

Saya ingin melihat perubahan dalam kalendar dan asosiasi menghapuskan kategori wajib agar petenis bisa memilih sendiri turnamen demi kesehatan mereka.

Selain sepuluh turnamen WTA 1000, petenis harus mengikuti maksimal enam turnamen WTA 500 tergantung pada ranking mereka. Lalu, format 12 hari penyelenggaraan pada beberapa WTA 1000, dari sebelumnya tujuh hari, menambah padat agenda petenis.

Kondisi ini berulang kali menuai kritik petenis, putra dan putri, karena bisa membahayakan kondisi kesehatan mereka. Grand Slam Wimbledon 2026 misalnya tidak diikuti 11 atlet karena cedera, diantaranya Carlos Alcaraz dan Jack Draper. Alcaraz juga termasuk salah satu dari 12 petenis yang tak tampil di Perancis Terbuka karena cedera pergelangan tangan.

Carlos Alcaraz, of Spain, returns the ball to Tommy Paul, of the United States, during the fourth round of the U.S. Open tennis championships Sunday, Sept. 6, 2026, in New York. (AP Photo/Heather Khalifa)

Menjelang AS Terbuka, Alcaraz dan Aryna Sabalenka, menyuarakan tentang jadwal terlalu padat. “Saya ingin melihat perubahan dalam kalendar dan asosiasi menghapuskan kategori wajib agar petenis bisa memilih sendiri turnamen demi kesehatan mereka. Bayangkan jika petenis bermain seperti Carlos yang selalu tampil dalam intensitas tinggi dan tampil hingga babak-babak akhir, sangat sulit untuk bisa menjaga kondisi tubuh,” ujar Sabalenka menjelang berlangsungnya Grand Slam AS Terbuka di New York, 30 Agustus-13 September.

Maka, jika tak ada perubahan dari WTA dan ATP tentang perubahan struktur turnamen, petenis harus mengorbankan di antara berbagai pilihan, seperti poin ranking, denda, atau justru kondisi kesehatan. Dalam hal Janice, dia pada akhirnya terpaksa mengorbankan ajang multicabang Asian Games.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase