Vance menuding Denmark tak becus mengurus Greenland. Lebih baik pulau itu ikut Amerika Serikat saja.
29 Mar 2025 13:33 WIB · Internasional
NUUK, SABTU — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance meyakini warga Greenland akan lebih memilih Amerika Serikat dibanding Denmark. Copenhagen dinilai tak becus mengurus Nuuk.
Vance menyampaikan itu dalam kunjungan ke Pangkalan AS di Pituffik, Greenland, pada Jumat (28/3/2025). Pangkalan itu hampir 1.500 kilometer di barat laut Nuuk, ibu kota Greenland.
Vance mengulangi klaim, pulau yang masuk wilayah Denmark sejak 1721 itu sedang terancam. AS tak punya pilihan selain meningkatkan kehadiran di sana.
Nuuk lebih dekat ke Washington DC, 3.252 kilometer, dibandingkan ke Copenhagen, 3.500 kilometer. Jarak terdekat daratan Greenland ke Denmark adalah 2.072 kilometer. Sementara jarak terdekat daratan Greenland ke AS, yakni perbatasan Negara Bagian Maine di AS dengan Negara Bagian New Brunswick di Kanada, adalah 1.992 kilometer.
Greenland, kata Vance, lebih baik di bawah payung keamaan AS daripada Denmark. Kebijakan AS adalah mengubah kepemimpinan di Greenland. ”Iya, warga Greenland akan melakukan penentuan nasib (referendum). Kami harap mereka memilih bermitra dengan AS karena hanya kami bangsa di dunia yang menghormati kedaulatan mereka dan menghormati keamanan mereka. Keamanan mereka terkait erat keamanan kami,” ujarnya sebagaimana dikutip CNN pada Sabtu (29/3/2025).
Ia menyatakan itu di dalam pangkalan AS dan jauh dari warga Greenland. Sejumlah kegiatan Vance yang lokasinya dekat permukiman pendudukan Greenland telah dibatalkan.
Menurut dia, Denmark tidak menjaga Greenland aman dari Rusia dan China. ”Denmark tidak mengimbangi dan mencurahkan sumber daya yang diperlukan untuk menjaga pangkalan ini, menjaga pasukan kami, dan menurut saya, menjaga warga Greenland tetap aman dari berbagai serangan agresif dari Rusia, China, dan negara-negara lain,” kata Vance.
Menurut dia, Rusia, China, dan negara lain menaruh minat luar biasa pada jalur Arktika, rute pelayaran, dan cadangan mineral di Greenland. Sejauh ini, Vance menyatakan, AS tidak berencana untuk menambah pasukan di daratan Greenland. AS akan menambah kapal yang bisa beroperasi dekat Greenland.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/f2d0edb2-7452-4e16-afaa-871201bd5b79_jpg.jpg)
Ketika penduduk Greenland menyatakan kekhawatiran mendalam tentang kunjungan tersebut, Vance berjanji mereka dapat menentukan nasib sendiri. AS bakal menghormati kedaulatannya.
”Saya pikir mereka pada akhirnya akan bermitra dengan Amerika Serikat. Kami dapat membuat mereka jauh lebih aman. Kami dapat melakukan lebih banyak pelindungan. Dan saya pikir mereka juga akan jauh lebih baik secara ekonomi,” ujar Vance.
Ucapan Vance menegaskan lagi keinginan Presiden AS Donald Trump membeli atau menguasai Greenland. Kalau tak bisa dibeli, Trump menimbang opsi militer untuk menguasai Greenland. Selain Trump, sudah beberapa Presiden AS yang punya keinginan serupa.
Greenland memiliki lokasi strategis dan kaya akan sumber daya alam, termasuk mineral penting dan logam tanah jarang (LTJ). LTJ penting bagi pengembangan industri berteknologi tinggi, seperti kendaraan listrik, ponsel pintar, dan sistem rudal. Sebagian perusahaan pertambangan yang beroperasi di Greenland berasal dari Australia, Kanada, dan Inggris.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan, kunjungan AS menandakan ”kurangnya rasa hormat”. Pada Kamis (27/3/2025), penduduk di Nuuk menancapkan bendera Greenland di salju dan memasang tanda dari kardus dalam bahasa Inggris yang bertuliskan ”Tanah Kami. Masa Depan Kami”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/29/b21dabcfc5a085beaedbdb9d4ec0f2aa-US_DENMARK_GREENLAND_DIPLOMACY_DEFENSE_128575724.jpg)
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menolak pernyataan Vance itu. Dia mengatakan, Denmark adalah ”sekutu yang baik dan kuat”. Denmark tengah meningkatkan kemampuan pertahanan di kawasan tersebut, yakni dengan kapal-kapal Arktik baru dan pesawat nirawak jarak jauh.
”Selama bertahun-tahun, kami telah berdiri berdampingan dengan Amerika dalam situasi yang sangat sulit. Oleh karena itu, deskripsi wakil presiden tentang Denmark tidak adil,” kata Frederiksen dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita Denmark, Ritzau.
Denmark adalah sekutu lama sekaligus anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ucapan keras Vance terhadap Denmark menjadi contoh lain tentang betapa rendahnya perhatian pemerintahan Trump terhadap sekutu AS sejak dia menjabat. Bulan lalu, Vance juga menyinggung Eropa tentang kebebasan berbicara dan migrasi ilegal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/6b9063eb-93a3-4767-be92-8e3246e8e1ae_jpg.jpg)
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan, Vance memiliki pendapat bahwa Denmark belum berbuat cukup. ”Tetapi, saya sedikit terprovokasi karena Amerika juga belum berbuat cukup,” balasnya.
Menurut Rasmussen, AS sekarang memiliki pangkalan dengan 200 tentara. Sementara itu, selama Perang Dingin, Washington memiliki 17 instalasi militer dengan 10.000 tentara di Greenland.
Duta Besar Denmark untuk AS, Jesper Møller Sørensen, berterima kasih kepada Vance atas perhatiannya terhadap keamanan Arktik. Dia melanjutkan, kedua negara sepakat bahwa lebih banyak yang dapat dilakukan. Denmark tengah bergerak dengan telah melakukan investasi sebesar 2 miliar dollar AS beserta rencana lainnya.
”Sejak 1949, Greenland dan Denmark telah menjadi bagian integral NATO sehingga berada di bawah payung keamanan dan pertahanan yang sama. Pengeluaran pertahanan kami sekarang mencapai 3,2 persen. Greenland dan Denmark memiliki keinginan yang sama untuk memperkuat hubungan kami yang sudah sangat dekat dengan teman dan sekutu kami,” tulis Sørensen di pelantar X.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/4ba6fb69-d00e-4d98-a1a6-f9b585e89edc_jpg.jpg)
Dikutip dari The Washington Post, menjelang kedatangan Vance, empat dari lima partai yang baru terpilih di parlemen Greenland menandatangani perjanjian untuk membentuk koalisi besar. Mereka berkomitmen menjaga hubungan dengan Denmark sembari menentang rencana Trump.
”Sekarang adalah saat ketika kita sebagai masyarakat berada di bawah tekanan. Kita harus bersatu. Bersama kita lebih kuat,” kata Nielsen sebelum perjanjian itu ditandatangani yang disambut tepuk tangan dan sorak sorai di ibu kota Nuuk.
Lewat unggahan di Instagram, Frederiksen mengucapkan selamat kepada Nielsen dan pemerintahan barunya.”Saya berharap dapat bekerja sama erat di masa yang penuh konflik yang tidak perlu ini,” tulisnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/eae05457-4a9b-48e7-a54f-2d16a8c2a89d_jpg.jpg)
Jajak pendapat menunjukkan, hampir semua penduduk Greenland menolak bergabung dengan AS. Para pengunjuk rasa anti-Amerika telah menggelar beberapa demonstrasi terbesar yang pernah ada di Greenland. Beberapa pemrotes mengenakan topi bertuliskan ”Make America Go Away” dan membawa spanduk bertuliskan ”Yankees Go Home”.
Inuk Kristensen (30) menyampaikan, warga Greenland terguncang dengan situasi saat ini. ”Pendapat saya sama dengan semua orang: Tentu saja Anda tidak melakukan hal-hal dengan cara ini. Anda tidak datang ke sini begitu saja dan mengatakan bahwa Anda ingin membeli tempat ini,” katanya.
Andreas Oesthagen, peneliti senior politik dan keamanan Arktik di Fridtjof Nansen Institute, berpendapat, masih kecil kemungkinan AS akan menggunakan cara militer untuk menguasai Greenland.
”Namun, sayangnya, kemungkinan besar Presiden Trump dan Wakil Presiden Vance akan terus menggunakan cara-cara tekanan lainnya, seperti pernyataan yang ambigu, kunjungan semiresmi ke Greenland, dan instrumen ekonomi,” ujar Oesthagen di Oslo, Norwegia. (AP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Kris Mada