Jemaah Haji Nafar Tsani Digeser ke Mekkah, Mina Mulai Dikosongkan

Secara berangsur jemaah akan digeser ke Mekkah dan Mina akan dikosongkan. Seusai tawaf ifadah, jemaah akan mulai dipulangkan ke Tanah Air.

09 Jun 2025 16:40 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi

MEKKAH, KOMPAS — Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Arab Saudi mulai memulangkan jemaah yang mengambil nafar tsani dari Mina ke Mekkah. Dengan pergeseran ini, secara berangsur Mina akan dikosongkan.

Sebagaimana diketahui, sebagian jemaah haji Indonesia mengambil nafar tsani sebagai rangkaian puncak ibadah haji. Sebagian lain mengambil nafar awal. Sementara itu, jemaah yang mengambil nafar awal sejak Minggu (8/6/2025) secara bertahap sudah dipindahkan dari Mina ke Mekkah. Sementara yang mengambil nafar tsani akan meninggalkan Mina pada 13 Zulhijjah atau Senin ini selambatnya sebelum matahari terbenam.

Dikutip dari situs Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), nafar tsani adalah pilihan untuk menyelesaikan semua lontaran jumrah pada tanggal 13 Zulhijah. Jemaah yang memilih nafar tsani akan tinggal di Mina satu hari lebih lama dan melempar jumrah pada tiga hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Dengan demikian, nafar tsani memberikan kesempatan bagi jemaah untuk menyelesaikan seluruh rangkaian lontar jumrah hingga hari terakhir.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief mengatakan, setidaknya 25.000 anggota jemaah nafar tsani akan diberangkatkan dari Mina ke Mekkah pada Senin (9/6/2025).

Sebagian jemaah meninggalkan Muzdalifah ke Mina dengan berjalan kaki pada Jumat (6/6/2025). Hal ini dilakukan katena bus penjemput cukup lama tiba akibat penumpukan kendraaan di jalan menuju Muzdalifah dan Mina.

”Yang masih mau melontar, kami minta menyelesaikan selambatnya dini hari atau pagi. Karena Senin pagi jemaah sudah harus siap-siap untuk pemulangan ke Mekkah. Tapi, sesuaikan jadwalnya. Jangan semua berkumpul di pagi hari. Pemulangan ke Mekkah akan dilakukan dalam tiga tahap,” katanya di Mina, Senin dini hari.

Pergerakan jemaah dari Mina akan dimulai sekitar pukul 07.00 waktu Arab Saudi. Selanjutnya secara bertahap pada siang hingga sore hari.

”Mereka akan dijemput di maktabnya masing-masing. Untuk jemaah dengan jumlah kecil akan kami kumpulkan dan bawa dengan kendaraan khusus,” lanjutnya.

Sejak Senin dini hari, kawasan Mina perlahan lengang. Banyak tenda yang telah kosong. Jalan yang biasa dipadati jemaah menuju Jamarat melalui Terowongan Mina juga mulai lengang.

Jemaah mulai melontar jumrah. Sebagian jemaah langsung melakukan lontar jumrah setiba di Mina, Jumat 6/6/2025) siang.  Banyak anggota jemaah  berjalan kaki dari Muzdalifah untuk melontar jumrah karena bus yang seharusnya menjemput tidak datang. Sebagian berjalan  5-6 jam.

Menurut Hilman, setelah pergeseran jemaah ke Mekkah, petugas juga akan melakukan penyisiran di tenda-tenda jemaah. Hal ini untuk memastikan bahwa tak ada lagi anggota jemaah yang tertinggal. Penyisiran, di antaranya, akan dilakukan menggunakan mobil golf, terutama ke markaz tertentu yang lokasinya jauh.

Terkait usainya fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menuju tahapan akhir, yakni tawaf ifadah, PPIH Arab Saudi telah mengeluarkan imbauan agar jemaah tidak terburu-buru. Kondisi Masjidil Haram yang padat dikhawatirkan bisa berdampak pada kenyamanan dan keselamatan jemaah.

”Kondisi Masjidil Haram dalam dua hari ke depan akan sangat padat oleh jemaah dari banyak negara yang menunaikan tawaf ifadah. Kami imbau jemaah haji Indonesia tetap berada di hotel dua hari ke depan, 12 sampai 13 Zulhijah 1446 H,” kata Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis M Hanafi di Mekkah, Minggu.

Dia mengatakan, setelah melontar jumrah dan kembali ke Mekkah, jemaah diminta langsung kembali ke hotel masing-masing dan tidak menuju Masjidil Haram karena sangat padat. Jemaah juga diminta tetap berdiam di hotel sembari memulihkan stamina.

Jemaah memadati area sekitar Kabah di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, untuk melakukan tawaf dan berdoa, Rabu (14/5/2025) malam.

”Laksanakan shalat di masjid terdekat atau mushala hotel untuk menghindari kepadatan di area Masjidil Haram. Ketua kloter, ketua rombongan, dan petugas haji agar mengawal pelaksanaan imbauan ini dan mengingatkan jemaah secara persuasif. Keselamatan jemaah adalah prioritas utama,” tutur Muchlis.

Walau diminta tak terburu-buru, jemaah yang akan pulang dalam pemulangan gelombang pertama dibolehkan melakukan tawaf ifadah terlebih dahulu. Namun, ini juga harus mempertimbangkan kondisi tubuh. Jemaah diminta melakukan  pemulihan terlebih dahulu sebelum melaksanakan tawaf ifadah.

Menurut rencana, seusai melakukan tawaf ifadah, jemaah juga akan melakukan tawaf wada sebelum pulang ke Tanah Air. Secara berangsur kepulangan jemaah gelombang pertama akan dimulai pada Rabu (11/6/2025) hingga 25 Juni mendatang.

Adapun jemaah gelombang kedua secara bertahap akan diberangkatkan ke Madinah dan pulang ke Tanah Air melalui Madinah. Pergeseran jemaah gelombang kedua ke Madinah akan dimulai pada Rabu (18/6/2025).

Istitaah jemaah

Sementara itu, terkait istitaah atau kemampuan jemaah untuk menunaikan ibadah haji, khususnya bagi kalangan lansia, disabilitas, dan kelompok risiko tinggi, Wakil Kepala Badan Penyelenggara Haji RI Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti hal ini.

Petugas menggendong anggota jemaah lansia untuk naik ke bus yang akan membawanya dalam safari wukuf ke Arafah, Kamis (5/6/2025).

”Saya hari ini mengunjungi banyak jemaah lansia di hotel transit Aziziyah ini. Dari data awal, seharusnya hotel ini bisa menampung sekitar 2.000 jemaah dari berbagai sektor, namun kenyataannya hanya bisa menampung sekitar 500 jemaah lansia, disabilitas, dan risti (risiko tinggi),” kata Dahnil, Minggu (8/6/2025).

Kondisi ini, menurut dia, menunjukkan adanya tantangan besar dalam validasi aspek istitaah kesehatan sejak dari Tanah Air. Ia menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan bagi calon jemaah haji harus dilakukan secara jujur, akurat, dan bebas dari intervensi yang berpotensi merugikan jemaah.

”Jangan sampai ada pihak-pihak di daerah yang memanipulasi kondisi kesehatan jemaah hanya demi memenuhi kuota atau target pemberangkatan. Ini sangat tidak etis, apalagi sampai memperdaya jemaah lansia yang sebenarnya tidak dalam kondisi siap secara fisik dan mental,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap jemaah yang berangkat dalam kondisi tidak layak secara medis, lalu menjadi sasaran eksploitasi, baik secara finansial maupun dalam bentuk pelayanan yang tidak semestinya. ”Saya minta para pejabat di Badan Penyelenggara Haji betul-betul melihat kondisi riil jemaah di lapangan, bukan hanya di atas kertas. Komitmen kita ke depan adalah membereskan persoalan ini,” tambahnya.

Petugas pendamping lansia PPIH Arab Saudi mendorong kursi roda seorang jemaah gelombang 2 yang tiba di Mekkah, Sabtu 17/5/2025).

Dahnil kembali menegaskan agar kebijakan istitaah dijalankan dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab moral. Ia menekankan bahwa jemaah haji yang diberangkatkan harus benar-benar memenuhi syarat istitaah secara lahir dan batin, khususnya dari aspek kesehatan fisik dan mental.

”Kami ingin memastikan bahwa yang berangkat ke Tanah Suci benar-benar siap menjalani rangkaian ibadah haji yang berat ini. Jangan sampai keberangkatan jemaah justru menjadi beban yang membahayakan jiwa mereka atau membuka celah eksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Saat fase Armuzna pada Kamis lalu, PPIH Arab Saudi memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah melaksanakan wukuf. Ini juga termasuk safari wukuf bagi jemaah lansia, sakit, dan berisiko tinggi.

Suasana wukuf di tenda jemaah di Arafah, Kamis (5/6/2025). Walau semua jemaah terangkut ke Arafah namun banyak yang tidak mendapat tenda. Banyak pula yang tidak mendapat makanan. Sebagian jemaah juga baru tiba di Arafah pada Kamis siang, menjelang waktu wukuf.

Menurut Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis M Hanafi, target awal safari wukuf khusus lansia adalah 500 orang. Namun, dalam perkembangannya, ada seorang anggota jemaah yang meninggal di hotel transit saat menunggu hari wukuf di Arafah.

Selain itu, ada 21 anggota jemaah yang batal ikut safari wukuf khusus lansia karena beberapa sebab. Sejumlah anggota jemaah dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi dan ada yang dikembalikan ke kelompok terbang karena ada pendamping.


Kerabat Kerja

Penulis:

Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti