Jalur ”pedestrian deck” di Dukuh Atas dibangun untuk koneksi langsung MRT Jakarta, KRL, KA Bandara, dan LRT Jabodebek.
10 Okt 2025 14:26 WIB · Metropolitan
Angkutan umum itu mendekatkan yang jauh dan mengeratkan yang dekat. Tujuan ini salah satunya tecermin dari integrasi fisik antarlayanan untuk kemudahan, kenyamanan, dan keamanan pengguna angkutan umum yang ingin berpindah moda.
Integrasi fisik antarlayanan nyaris sempurna di Dukuh Atas seiring penataan sebagai kawasan berorientasi transit (transit oriented development/TOD) sejak 2020. Secara bertahap, pergantian antarmoda menyentuh Stasiun MRT Dukuh Atas, Stasiun KRL Sudirman, dan Stasiun KA Bandara BNI City melalui Terowongan Kendal, serta LRT Jabodebek via Jembatan Penyeberangan Multiguna Dukuh Atas.
Transport Hub Simpang Temu Dukuh Atas menyusul dengan fungsi campuran. Tak hanya halte Transjakarta, lantai 1-4 sebagai area integrasi diisi berbagai retail ataupun UMKM, lantai 5-7 untuk area perkantoran, dan lantai 8-12 sebagai hotel atau penginapan.
Belakangan muncul rencana pembangunan jalur pedestrian deck. Jembatan berbentuk lingkaran bak donat itu untuk menyempurnakan empat kuadran layanan angkutan umum yang sudah ada karena terhubung secara langsung.
MRT Jakarta dengan mandat mengembangkan TOD dalam radius 800 meter dari sekitar kawasan stasiun sedang menjajaki kerja sama untuk pembiayaan dan pembangunan jembatan. Infrastruktur integrasi itu dirancang selebar 12 Meter. Rinciannya, 7 meter bagi jalur pejalan kaki publik dan 5 meter untuk fungsi komersial dan fasilitas pendukung.
Widya Laksani (30), pengguna angkutan umum di Dukuh Atas, berharap penataan tidak hanya berfokus pada infrastruktur transportasi. Namun, juga memperhatikan kenyamanan beraktivitas di ruang publik.
”Dukuh Atas sekarang memang keren dan sangat ramai pada jam pulang kerja. Tapi kalau bisa ditambah fasilitas tempat duduk dan area hijau supaya bisa istirahat tanpa mengganggu arus pejalan kaki,” katanya pada Jumat (10/10/2025).
Ia juga menyarankan penataan pedagang kaki lima dan area parkir. Keduanya agar kawasan lebih teratur dan tertib tanpa mengganggu pengguna angkutan umum.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/02/330f710bd26babdc488dc2fa410a9461-WhatsApp_Image_2025_10_02_at_13.38.05.jpeg)
Pedestrian deck di Dukuh Atas dikenal juga dengan sebutan Jembatan Donat karena bentuknya yang melingkar seperti donat. Proyek infrastruktur ini telah dikenalkan kepada investor dalam Jakarta Investment Festival dengan nama proyek Sudirman Dukuh Atas Pedestrian Deck. Nilainya mencapai Rp 360,70 miliar.
Fasilitas itu diklaim secara signifikan meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas komuter, mentransformasi Sudirman Dukuh Atas menjadi distrik modern dan saling terhubung. Inti dari proyeknya adalah interkoneksi pejalan kaki lewat jembatan layang (elevated pedestrian interconnection) sebagai sentral yang menghubungkan empat kuadran angkutan umum.
”Jadi untuk meningkatkan layanan angkutan umum di Jakarta, kami melakukan integrasi secara utuh seperti di Dukuh Atas. Integrasi secara utuh tidak hanya soal moda angkutan umum di Jakarta, tetapi juga Jabodetabek,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo dalam sesi ”Media Fellowship Program MRT Jakarta 2025”, Kamis (9/10/2025).
Integrasi secara utuh meliputi fisik atau infrastruktur, layanan, informasi (rute, stasiun, dan lainnya), layanan, sistem pembayaran, integrasi antarkegiatan dan kawasan, serta lintas wilayah.
Upaya-upaya itu bermuara pada tujuan memudahkan transfer pengguna antarmoda. Syafrin mencontohkan, Tanah Abang yang lebih dulu ditata dengan kehadiran area transit, pedestrian plaza, area penjemputan ojek daring (online), dan halte Transjakarta.
Dulu pengguna KRL, Transjakarta, angkot, dan lainnya kerepotan berpindah moda. Sekarang lebih mudah apalagi dengan pembangunan gedung baru Stasiun Tanah Abang.
”Semakin mudah menjangkau stasiun maka makin bagus. Dukuh Atas bagian dari upaya-upaya yang terus dilakukan oleh pemerintah,” ujar Syafrin.
Ia mengklaim rekayasa lalu lintas untuk mengurangi macet horor imbas proyek galian di Jalan TB Simatupang berkontribusi terhadap naiknya pengguna MRT Jakarta di Stasiun Fatmawati. Ini bisa terjadi karena membaiknya kinerja lalu lintas sehingga warga lebih mudah mengakses stasiun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/02/e7f82ef0f0c1f60593481c59a16eeb78-WhatsApp_Image_2025_10_02_at_13.37.57.jpeg)
Jembatan Donat adalah satu saja dari berbagai upaya integrasi antarmoda yang sedang dilakukan di Jakarta. Integrasi antarmoda merupakan bagian dari pergeseran paradigma dari pembangunan berorientasi kendaraan ke berorientasi transit. Dua proyek integrasi, yakni Blok M dan Lebak Bulus, menjadi contoh dari upaya ini.
Blok M masih ditata secara parsial. Dalam jangka panjang, MRT Jakarta bakal mengembangkannya sebagai pusat ASEAN dengan proyek Blok M-Sisingamangaraja ”Green Creative Hub” seluas 113,7 hektar.
Sementara di Lebak Bulus akan dilengkapi dengan layanan park and ride. Ini guna mencegah arus mobilitas orang yang masuk ke tengah kota. Mereka memarkirkan kendaraan di kantong-kantong parkir sebelum beralih ke MRT, Transjakarta, dan angkutan umum yang ada.
Direktur MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, penataan TOD juga bagian dari usaha mengoptimalkan pengguna MRT Jakarta. Saat ini, rerata pengguna hariannya menyentuh 121.000 orang setiap hari.
Jumlah ini bakal terus meningkat seiring pembangunan MRT Fase 2A Bundaran HI-Kota yang progresnya menyentuh 53 persen. Stasiun Monas dan Stasiun Thamrin terdepan dalam pembangunan dengan capaian 90 persen.
Menurut rencana, dua stasiun bakal rampung akhir 2026. Lalu, pada 2027 bisa dioperasikan secara bertahap.
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jakarta dalam dokumen ”Pesan untuk Gubernur: Wujudkan Transportasi Jakarta yang Beradab dan Bermartabat” antara lain menyarankan kewajiban integrasi dan kerja sama untuk meningkatkan jumlah pengguna angkutan umum.
Integrasi fisik antaroperator angkutan umum, misalnya, mengusahakan adanya integrasi fisik antarlayanan. Bentuknya bisa plaza integrasi, bangunan atau jalur interkoneksi langsung, dan integrasi fisik lain yang mengutamakan prinsip kemudahan, kenyamanan, dan keamanan bagi pengguna angkutan umum yang ingin berpindah moda.
Pemangku kepentingan lain, seperti pihak swasta dan pengembang selaku pemilik aset kawasan, pun perlu didorong untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian. Bisnis mereka akan berkembang seiring dengan kemudahan, kenyamanan, dan keamanan bagi pengguna angkutan umum yang menggunakan sebagian dari aset mereka sebagai bagian dari perjalanan.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari