Jet Tempur JF-17, Sang ”Guruh” asal Pakistan yang Dilirik Indonesia

Indonesia dikabarkan tertarik membeli jet tempur JF-17 dan ”drone” Pakistan. Seperti apa spesifikasi dari pesawat dengan sebutan ”Thunder” atau Guruh itu?

15 Jan 2026 10:29 WIB · Politik & Hukum

AP Photo/Jon Gambrell

Oleh Norbertus Arya Dwiangga Martiar

Di sela euforia tentang rencana kedatangan jet tempur Dassault Rafale yang akan diberangkatkan dari Perancis menuju Indonesia pada Januari 2026 ini, tersiar kabar lain yang datang dari Pakistan, Asia Selatan. Disiarkan bahwa Indonesia tengah membahas pembelian pesawat jet JF-17 dan drone tempur buatan negara tersebut.

Sebagaimana dikutip dari Reuters, Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin bertemu dengan Kepala Angkatan Udara Pakistan Marsekal Zaheer Ahmed Baber Sidhu di Islamabad pada 12 Januari 2026. Salah satu yang dibahas dalam pertemuan itu adalah penjualan jet tempur JF-17 dan drone Pakistan ke Indonesia.

Disebutkan bahwa pembicaraan itu berada di tahap lanjut dan mencakup rencana pembelian lebih dari 40 jet tempur JF-17. Selain itu, terdapat ketertarikan Indonesia terhadap drone Shahpar buatan Pakistan. 

Pertemuan antara Menteri Pertahanan RI dan Menteri Pertahanan Pakistan.

Kunjungan Sjafrie ke Pakistan tersebut menyusul kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada 8 Desember 2025. Kunjungan tersebut untuk memenuhi undangan resmi Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Yang menarik, pada saat itu pesawat kepresidenan Garuda Indonesia-1 disambut dengan istimewa sebelum mendarat. Enam jet tempur JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan mengawal pesawat kepresidenan ketika memasuki wilayah udara Pakistan. 

Quote

Enam jet tempur JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan mengawal pesawat kepresidenan ketika memasuki wilayah udara Pakistan. 

Pesawat kepresidenan Garuda Indonesia-1 yang ditumpangi Presiden Prabowo Subianto disambut di udara dengan enam jet tempur JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan ketika memasuki wilayah udara Pakistan, Senin (8/12/2025) siang waktu setempat.
PM Pakistan Shehbaz Sharif menyambut hangat kedatangan Presiden Prabowo Subianto di kediaman resmi PM Pakistan di Islamabad, Pakistan, Selasa (8/12/2025).
PM Pakistan Shehbaz Sharif dan Presiden Prabowo Subianto menanam pohon persahabatan di halaman kediaman resmi PM Pakistan di Islamabad, Pakistan, Selasa (8/12/2025). Acara dilangsungkan sebelum pertemuan bilateral.

Meski demikian, juru bicara Kemenhan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan, pertemuan Sjafrie dan Kepala Angkatan Udara Pakistan belum menghasilkan keputusan konkret.

”Pertemuan tersebut berfokus pada pembahasan hubungan kerja sama pertahanan secara umum, termasuk dialog strategis, penguatan komunikasi antarlembaga pertahanan, dan peluang kerja sama yang saling menguntungkan di berbagai bidang dalam jangka panjang,” kata Rico.

Kemenhan melalui keterangan pers pada Selasa (13/1/2026) menyatakan bahwa Menhan RI bertemu dengan Menhan Pakistan untuk memperkuat hubungan di antara angkatan bersenjata kedua negara, khususnya dalam konteks kerja sama militer, pertukaran pandangan mengenai dinamika keamanan kawasan, serta peningkatan interoperabilitas melalui pendidikan dan latihan bersama.

PM Pakistan Shehbaz Sharif menggelar upacara kenegaraan menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto. Upacara digelar di halaman kediaman resmi PM Pakistan di Islamabad, Pakistan, Selasa (8/12/2025).

Kedua menteri pertahanan membahas penguatan kerja sama pertahanan Indonesia dan Pakistan yang dilandasi Agreement on Cooperation Activities in the Field of Defence tahun 2010. Diskusi difokuskan pada peningkatan dialog strategis, kerja sama pendidikan dan pelatihan militer, pengembangan sumber daya manusia pertahanan, serta penguatan mekanisme kerja sama bilateral melalui forum Joint Defence Cooperation Committee (JDCC). 

”Pertemuan ini menjadi penegasan keseriusan kedua negara dalam melanjutkan dan memperdalam kerja sama pertahanan bilateral yang telah terbangun selama bertahun-tahun,” demikian dikutip dari keterangan tertulis. 

Selain itu, Sjafrie melakukan kunjungan kehormatan atau courtesy call dengan Zaheer Ahmad Babar Sidhu, Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan. Dalam pertemuan itu dibahas penguatan hubungan antara TNI Angkatan Udara dan Pakistan Air Force, khususnya di bidang pendidikan, pelatihan, serta pertukaran pengalaman profesional antarpersonel Angkatan Udara.

”Thunder”

Pesawat JF-17 adalah jet tempur ringan yang bisa digunakan untuk serangan udara dan pertahanan udara. Jet tempur dengan sebutan ”Thunder” atau Guruh itu dikembangkan dan diproduksi bersama antara Pakistan Aeronautical Complex dan Chengdu Aircraft Corporation dari China.

JF-17 Thunder Angkatan Udara Pakistan terbang di Dubai Air Show di Dubai, Uni Emirat Arab, Senin (13/11/2023). AP Photo/Jon Gambrell 13-11-2023 *** Local Caption *** A Pakistani Air Force JF-17 Thunder flies at the Dubai Air Show in Dubai, United Arab Emirates, Monday, Nov. 13, 2023. Long-haul carrier Emirates opened the Dubai Air Show with a $52 billion purchase of Boeing Co. aircraft, showing how aviation has bounced back after the groundings of the coronavirus pandemic, even as Israel's war with Hamas clouds regional security. (AP Photo/Jon Gambrell)

Oleh karena itu, Pakistan memberinya sebutan awal ”JF” yang berarti joint fighter. Sementara angka 17 merujuk pada rencana Pakistan untuk menjadikan jet tempur tersebut sebagai penerus dari F-16 yang selama ini dioperasikan Angkatan Udara Pakistan (PAF).

JF-17 memiliki bobot kosong sekitar 6.400-6.600 kilogram dengan beban lepas landas maksimum sebesar 12.474 kilogram. Jet tempur ringan yang ditenagai dengan mesin jet turbofan Klimov RD-93 buatan Rusia tersebut dapat melaju sampai kecepatan Mach 1,6 atau sekitar 1.900 km per jam.   

Untuk misi tempur, JF-17 dipersenjatai meriam 23 milimeter (mm) atau 30 mm dan memiliki tujuh buah hardpoints atau tempat untuk menggantungkan bom atau rudal di bawah sayap hingga 3.700 kg. JF-17 versi terbaru atau Block III sudah dilengkapi radar AESA, avionik modern, dan helmet-mounted display untuk kesadaran situasional dan kemampuan pertempuran lebih baik.

Angkatan Udara Pakistan menempatkan JF-17 sebagai pesawat yang akan menggantikan F-7P, Mirage III, dan Mirage V yang lebih tua. Terlebih, saat ini, JF-17 semakin matang dengan dibuatnya varian Block III yang lebih modern.

Spectators watch Pakistan Air Force fighter jets demonstrate an aerobatic maneuver during an air show to celebrate the 70th Independence Day in Islamabad, Pakistan, Monday, Aug. 14, 2017. Pakistan gained its independence from British colonial rule in 1947. (AP Photo/Anjum Naveed)

Proyek patungan

Jika menilik ke belakang, jet tempur JF-17 merupakan hasil dari perjalanan panjang rekayasa teknologi. Mengutip militaryupdate.net, program patungan antara China dan Pakistan tersebut awalnya merupakan program bersama antara Chengdu Aircraft Industry Group dari China dan Grumman Corporation dari AS.

Namun, karena perubahan situasi politik, kerja sama itu dibatalkan pada 1990. China kemudian melanjutkan program itu dengan nama FC-1 ”Xiaolong” atau ”Naga Ganas”. Pada 1999 program itu dilanjutkan bersama dengan Pakistan hingga lahirlah JF-17. Selama fase pengembangan, biro desain Mikoyan dari Rusia disebut memberikan bantuan teknis.

JF-17 terbang perdana pada 2003. Lalu, delapan pesawat dibangun di China untuk dikirimkan ke Angkatan Udara Pakistan pada 2008. Pada 2015 Angkatan Udara Pakistan memiliki 60 unit JF-17 yang aktif beroperasi. Jumlah tersebut meningkat menjadi 135 unit pada tahun 2020 dan yang sedang dipesan sebanyak 64 unit. Angkatan Udara Pakistan diperkirakan membutuhkan sekitar 250 unit JF-17.

Quote

Bagi sebagian negara, JF-17 merupakan alternatif menarik karena harganya yang relatif rendah.

Bagi sebagian negara, JF-17 merupakan alternatif menarik karena harganya yang relatif rendah, yakni berkisar 25 juta-30 juta dolar AS. Bandingkan dengan F-16 yang harganya berkisar 50 juta-100 juta dolar AS, Dassault Rafale dengan harga 90 juta-125 juta dolar AS, atau Chengdu J-10C yang harganya berkisar 40 juta-70 juta dolar AS. Namun, patut diingat bahwa dalam beberapa hal kemampuan JF-17 memiliki keterbatasan jika dibandingkan dengan jet-jet tempur tersebut.

Selain Pakistan, Myanmar dilaporkan membeli 16 unit JF-17 dari China. Selain Myanmar, Nigeria dan Azerbaijan juga dilaporkan mengoperasikan pesawat itu. Lantas, apakah Indonesia akan menambah daftar negara pengguna JF-17?

Fly pass pesawat tempur TNI Angkatan Udara memeriahkan peringatan HUT ke-77 TNI di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/10/2022). KOMPAS/HERU SRI KUMORO 5-10-2022

Pendekatan berlapis

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, berpandangan, pertemuan Menhan RI dengan Menhan Pakistan yang kemungkinan turut membahas jet tempur JF-17 adalah praktik lazim dalam diplomasi pertahanan. Penjajakan tidak otomatis berarti pembelian.  

”Itu bagian dari membuka opsi dan membaca peluang yang tersedia. Jika hasilnya positif, negosiasi akan dilakukan secara intensif,” terangnya.

Menurut Khairul, dalam pembangunan kekuatan udara, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sejak lama menggunakan pendekatan berlapis dengan pembagian peran jet tempur yang jelas. Selama ini, F-16 dari AS dan Su-27/30 dari Rusia berada di lapis atas sebagai pesawat tempur utama.

Berikutnya jet tempur Korea T-50i berfungsi sebagai lead-in fighter trainer sekaligus pesawat tempur ringan. Sementara Hawk 100/200 dari Inggris dan Super Tucano dari Brasil mengisi lapis bawah untuk tugas berintensitas rendah. Kerangka ini menjadi relevan untuk membaca kebijakan pemerintah terkait kemungkinan akuisisi alutsista saat ini. Terlebih, jet tempur Hawk 100/200 juga akan pensiun.

Komandan Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Letkol Pnb Adhi Safarul Akbar memeriksa pesawat tempur Hawk 100/200 sebelum melaksanakan patroli udara di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, Senin (26/2). Sebanyak enam pesawat Hawk 100/200 Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru melaksanakan patroil pengamanan wilayah udara di provinsi Aceh dan latihan tempur dengan menggunakan rudal Maverick.Antara/Irwansyah Putra26-02-2018

Menurut Khairul, dalam konteks pengembangan kekuatan, Rafale dari Perancis sebagai pesawat tempur multiperan generasi 4,5 bakal diposisikan sebagai penguat kualitas dan daya tangkal jangka menengah. Di sisi lain, jika opsi JF-17 memang benar dijajaki, hal itu dapat dipahami sebagai pesawat workhorse untuk kebutuhan jangka dekat, menjaga kuantitas dan kesiapsiagaan operasional harian dengan biaya yang lebih terkendali.

Sementara itu, sambung Khairul, kerja sama pembangunan jet tempur KF-21 dengan Korea Selatan lebih tepat dipahami sebagai solusi menengah yang bersifat transisional. Adapun akuisisi jet tempur KAAN dari Turki berada pada horizon jangka panjang karena menyangkut pengembangan jet tempur generasi kelima yang masih dalam tahap pengembangan dan pengujian.

”Jadi, jelas bahwa tiap-tiap platform ini sebenarnya berada pada kelas, fungsi, dan lini waktu yang berbeda,” ujarnya.

Meskipun langkah diversifikasi diperlukan untuk menjaga fleksibilitas dan kemandirian strategis, hal itu harus tetap dikelola dengan disiplin. Diversifikasi itu bukan sekadar soal memperbanyak jenis pesawat, melainkan memastikan setiap platform memiliki peran yang jelas agar tidak menimbulkan kompleksitas logistik yang berlebihan.

Dalam konteks ini, Khairul memandang bahwa penjajakan dengan Pakistan tidak menunjukkan perubahan arah kebijakan, tetapi melanjutkan pola pendekatan yang telah berjalan dalam membangun postur kekuatan udara TNI AU.


Kerabat Kerja

Penulis:

Norbertus Arya Dwiangga Martiar
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto