Potret komunitas Kristen di Tepi Barat yang berjuang di tengah konflik.
11 Okt 2025 07:00 WIB · Internasional
Perang Israel-Hamas yang telah meluluhlantakkan Gaza sejak kelompok bersenjata dan Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023. Perang selama dua tahun itu telah berdampak pada komunitas Kristen yang kecil jumlahnya di jalur tersebut. Gereja Katolik terkena tembakan Israel pada Juli meskipun kini telah beroperasi kembali.
Setiap Minggu pagi, lonceng memanggil umat beriman untuk beribadah di tiga gereja di puncak bukit. Ini seperti yang diceritakan dalam Injil sebagai tempat Yesus berkunjung. Kini, desa ini menjadi satu-satunya desa Kristen terakhir di Tepi Barat yang masih berpenghuni.
Seperti umat dari agama lain, umat Kristen Taybeh, yang terdiri dari umat Katolik ritus Melkit Romawi dan Yunani serta Ortodoks Yunani, sangat mendambakan kemerdekaan dan perdamaian di bagian Tanah Suci ini. Namun, harapan itu makin jauh terwujud sejak pecahnya perang antara Hamas dan Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/10/8adf0bd1-56fb-4e9f-ae20-22ac5a6add72_jpg.jpg)
Mereka berjuang menghadapi ancaman kekerasan dari para pemukim Yahudi. Juga diperparah dengan makin ketatnya pembatasan gerak oleh Israel. Bahkan pengumuman tentang kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan pada Kamis (9/10/2025) tidak meredakan kekhawatiran itu.
Tiap hari Minggu, keluarga-keluarga berbondong-bondong menghadiri misa di gereja, di mana bendera Vatikan dan Palestina mengapit altar. Sebuah mozaik kaca menggambarkan kedatangan Yesus di desa tersebut, yang saat itu disebut Efraim.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/10/c33b106e-a743-4f48-855d-64b92e7e287e_jpg.jpg)
Namun lebih banyak keluarga berkumpul di Gereja Ortodoks Yunani St George. Gereja yang dipenuhi ikon-ikon berbahasa Arab dan Yunani ini terletak tak jauh dari sana, menghadap vila-vila di lereng bukit di antara pepohonan zaitun.
Sekarang, pemukim Yahudi tidak lagi mengizinkan penduduk desa memanen buah zaitun milik mereka. Beberapa waktu lalu, sebuah kebakaran hebat juga merusak kebun zaitun dan mengancam reruntuhan gereja tertua di Taybeh, Gereja St George, yang dibangun pada abad ke-5.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/10/d5906386-1cad-46b4-8eff-0d4681528218_jpg.jpg)
”Kami cinta Palestina,” kata seorang umat Katolik, Victor Barakat, saat ditemui seusai misa di St George bersama istrinya, Nadeen Khoury, yang beragama Ortodoks Yunani. Victor dan Riga anaknya pindah dari Massachusetts ke Taybeh, tempat Khoury dibesarkan. Itu sebelum terjadi perang dua tahun lalu.
Meski berharap dapat tinggal di Taybeh, mereka menyadari keamanan jauh lebih penting. Bahkan jika dibandingkan di zaman intifada, atau pemberontakan Palestina pada tahun 2000-an. Meski ia bersukacita atas kesepakatan untuk menghentikan pertempuran di Gaza, ia meragukan hal itu akan berdampak pada serangan pemukim yang lebih dekat ke rumahnya.
Dari desa-desa, seperti Taybeh dan Betlehem, umat Kristen hanya berjumlah 1-2 persen dari sekitar 3 juta penduduk Tepi Barat, yang mayoritasnya Muslim. Di seluruh Timur Tengah, populasi Kristen terus menurun seiring dengan banyaknya orang yang melarikan diri dari konflik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/10/e9edcac1-0c6f-427b-a57c-3a49675c2861_jpg.jpg)
Namun, bagi banyak orang, mempertahankan kehadiran di tempat kelahiran agama Kristen sangat penting bagi identitas dan iman. Kardinal Pierbattista Pizzaballa dari Jerusalem juga menyoroti masalah yang berkembang di Tepi Barat. Selain serangan pemukim Yahudi, kurangnya pekerjaan dan izin untuk bergerak bebas menyebabkan lebih banyak umat Kristen memutuskan pergi.
Bagi pastor Fransiskan yang menjadi penjaga baru Tanah Suci dan mengawasi lebih dari 300 biarawan yang melayani berbagai tempat suci, tugas besar pertamanya adalah untuk tetap tinggal. ”Kita tidak dapat menghentikan pendarahan ini, tetapi kita akan terus berada di sini dan mendampingi semua orang,” kata pendeta Francesco Ielpo.
Ia baru saja dikukuhkan oleh Paus Leo XIV ke misi Tanah Suci yang didirikan Santo Fransiskus lebih dari 800 tahun yang lalu. Kini tantangan terbesar bagi umat Kristen adalah menawarkan pendekatan berbeda terhadap keretakan sosial yang diperparah oleh perang di Gaza.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/10/da5fcdf9-eeb6-424d-a2db-94a4a4208a35_jpg.jpg)
”Kami masih menantikan hari ketiga sebagai warga Palestina,” kata Fawadleh, seorang umat Krinten Ortodoks. Menurut keyakinan mereka, hari ketiga berarti kehidupan baru, kebebasan, kemerdekaan, dan keselamatan baru bagi umatnya. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari