Kapan, ke Mana, dan Akankah Kembali?

Pertanyaan warga di Gaza jelang serangan besar Israel.

05 Sep 2025 09:09 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Setelah Israel mendeklarasikan kota Gaza sebagai zona pertempuran, suara bom terus berdentum di daerah itu. Militer terus melanjutkan rencana untuk mengambil alih kota agar Hamas tunduk. Kabar terakhir Israel menyatakan, Gaza sudah dianggap sebagai ”zona merah”. Warga Palestina diperintahkan untuk mengungsi menjelang pertempuran sengit yang diperkirakan akan terjadi tak lama lagi. 

Hal ini membuat warga resah. Banyak warga yang kembali setelah meninggalkan kota pada tahap awal perang Israel-Hamas kini terpaksa harus mengungsi lagi. Israel meratakan tanah yang berhasil dikuasai dengan buldoser. Bagi warga Palestina, meninggalkan Gaza sekarang bisa berarti meninggalkan Gaza untuk selamanya. 

Warga Palestina yang melarikan diri dari Jalur Gaza utara membawa barang-barang mereka di sepanjang Jalan Laut, di Gaza tengah, Kamis, (4/9/2025).

Pindah membutuhkan biaya yang sangat besar bagi penduduk yang hampir dua tahun dilanda perang. Menemukan tempat untuk sekadar bisa mendirikan tenda juga bukan hal yang mudah. Namun, tetap tinggal di sana, bisa berakibat fatal.

”Pasukan Israel, ketika mereka menandai suatu wilayah dengan warna merah dan meminta penduduknya untuk pergi, mereka benar-benar akan menghancurkannya,” kata Mohammed Alkurdi, yang berlindung di selatan Gaza, bersama ratusan ribu warga Palestina lainnya. Ini ibarat memutuskan akan tetap hidup atau mati, katanya.

Warga Palestina melarikan diri dari Jalur Gaza melewati sepanjang jalan laut di Gaza tengah, Kamis (4/9/2025).
Warga Palestina mengungsi dari Gaza tengah, Kamis, (4/9/2025).
Warga Palestina melihat kehancuran yang disebabkan oleh serangan udara dan darat Israel, di Jalur Gaza tengah, Kamis, (4/9/2025).
Kamp darurat untuk warga Palestina yang terlantar membentang di area dekat pantai di Kota Gaza, Senin, (1/9/2025).
Foto satelit dari Planet Labs PBC ini menunjukkan daerah Zeitoun dan Sabra di Kota Gaza pada hari Selasa, (2/9/2025) yang rata dengan tanah.

Pilihan bertahan atau melarikan diri

Sejak Israel menyatakan daerah utara Gaza sebagai zona pertempuran, 14.840 warga Palestina dari total 1 juta penduduknya telah meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di daerah selatan. Sebagian yang lain, sekitar 2.200 warga, telah pindah ke tempat baru di kota Gaza.

Zeitoun dulunya merupakan permukiman terbesar di kota Gaza, yang dipenuhi pasar, sekolah, dan klinik. Selama sebulan terakhir, sebagian besar wilayahnya dan wilayah Sabra di sekitarnya telah rata dengan tanah. Perbandingan foto satelit awal Agustus dan awal September  menunjukkan seluruh blok telah dihancurkan atau dibuldoser menjadi lahan kosong berpasir.

Banyak penduduk kota kembali ke utara selama gencatan senjata di bulan Januari berharap menemukan rumah mereka tetap utuh. Rumah Alkurdi hancur total sehingga ia kini tinggal sendirian di wilayah barat kota. Anak-anak dan istrinya berhasil meninggalkan Gaza tahun lalu.


Kamp tenda darurat membentang di area dekat pelabuhan Kota Gaza, Senin, (1/9/2025).

Amjad Shawa, direktur jaringan LSM Palestina, meninggalkan rumahnya di lingkungan elite Rimal pada awal perang dan kembali ke sana bersama keluarganya pada bulan Januari. Seperti Al Kurdi, ia dan keluarganya akan meninggalkan kota Gaza jika wilayah yang ia tempati sekarang menerima perintah evakuasi.

Namun, kepergiannya kali ini akan berbeda, katanya. Gaza akan diratakan dan dihancurkan. Ia pernah mempunyai mobil dan tinggal didaerah elite. Saat itu, kota Rafah dan Khan Younis masih berdiri di Gaza selatan. Kini, setelah berbulan-bulan dibombardir, Rafah sudah tidak ada lagi. Khan Younis pun hampir tidak ada, kata Shawa.

Sebuah buldoser militer Israel beroperasi di dalam Jalur Gaza, Rabu, (3/9/2025).
Tank tentara Israel di dalam Jalur Gaza, Rabu, (3/9/2025)
Warga Palestina berjalan melalui perkemahan tenda darurat di dekat pelabuhan Kota Gaza, Senin, (1/9/2025).
Seorang petani di dekat perbatasan Israel-Gaza di Israel selatan, Selasa, (9/9/2025).
Anak-anak Palestina perkemahan tenda darurat di Khan Younis, Senin, (1/9/2025).

Amal Seyam, direktur umum Pusat Urusan Perempuan di Gaza, berasal dari lingkungan Tuffah di timur kota Gaza. Rumahnya hancur akibat pengeboman. Selama hampir empat bulan, ia berlindung di lingkungan Nasr di barat kota, tinggal bersama rekan-rekannya di dalam pusat urusan perempuan tersebut.

Seyam telah mengungsi lima kali sejak perang dimulai. Ia menjelaskan bahwa pengeboman sekarang makin terasa dekat. Ledakan hanya berjarak beberapa meter dari kami, bukan beberapa kilometer, jelasnya sambil mulai menangis terisak. 

Anak-anak Palestina perkemahan tenda darurat di Khan Younis, Senin, (1/9/2025).

Penduduk mulai berkemas. Banyak juga yang sudah pergi. Namun, sebagian masih menunggu hari sambil mencari tujuan. Kepergian kali ini kemungkinan tidak akan kembali. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan