Setelah pandemi Covid-19 dan pemogokan, kini Hollywood babak belur oleh kebakaran. Film dan acara televisi tidak bisa diproduksi.
13 Jan 2025 10:59 WIB · Internasional
LOS ANGELES, SENIN — Kebakaran di Los Angeles, Negara Bagian California, tidak kunjung padam. Warganet pun heboh: papan tanda Hollywood terbakar.
Ada video beredar soal kebakaran papan tanda di Ngarai Beachwood, Perbukitan Santa Monica itu. Ternyata, video itu tidak benar. Papannya masih utuh walau kebakaran masih terus membara di Los Angeles (LA).
Sampai Minggu (12/1/2025) malam waktu Los Angeles atau Senin pagi WIB, api masih melahap berbagai bagian kota itu. Kebakaran Eaton dan Palisades, yang paling parah dibandingkan dengan kebakaran lain di Los Angeles, baru tertangani masing-masing 27 persen dan 13 persen.
Kebakaran Hurst tertangani 89 persen, sementara titik api atau kebakaran lain dinyatakan sudah tertangani sepenuhnya. Karena itu, perintah evakuasi dari lokasi kebakaran Hurst, Kenneth, Lidia, dan Sunset dipertimbangkan dicabut. Waktu pasti pencabutan belum ada, bergantung kondisi cuaca hingga proses pemadaman.
Ketidakpastian itu berdampak pada salah satu industri penting Los Angeles dan juga California: hiburan dan film. Tidak ada awak produksi film dan aneka acara televisi bisa bekerja di tengah kebakaran itu. Semua sibuk mengungsi. Lari dari api.
Pemogokan para pekerja film itu jelas memengaruhi industri, mungkin selamanya. Sekarang ditambah kebakaran, Hollywood akan semakin susah.
Kehidupan industri perfilman Hollywood untuk sementara mandek. Aktor, kru, penulis, produser, dan siapa saja yang bekerja di industri Hollywood kehilangan rumah. Semua produksi film dan televisi terpaksa dihentikan sementara, termasuk serial TV seperti Grey’s Anatomy, NCIS, Hacks, dan Fallout.
Ditambah lagi, semakin banyak seruan agar musim penghargaan Hollywood dibatalkan. Pembatalan ini sebagian besar disebabkan oleh buruknya kualitas udara dan untuk menghindari tersumbatnya jalan raya bagi petugas tanggap darurat.
Hollywood bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kebakaran LA terjadi ketika sektor hiburan, yang kontribusinya pada perekonomian setempat mencapai 115 miliar dollar AS atau Rp 1.874 triliun, terbelit beragam persoalan.
Biaya tinggi memaksa penghentian produksi banyak film dan beragam acara televisi. Inflasi selama dan selepas pandemi Covid-19 berkontribusi pada kenaikan biaya.
Setelah itu, Hollywood pusing oleh pemogokan pekerja. ”Hollywood dilanda pandemi dengan konsekuensi yang parah. Pemogokan para pekerja film itu jelas memengaruhi industri, mungkin selamanya. Sekarang ditambah kebakaran, Hollywood akan semakin susah,” kata editor budaya dan acara di majalah Variety, Marc Malkin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/09/74673ba4-6a6f-41d9-8b4a-4bbe2e662616_jpg.jpg)
Sampai sejauh ini belum ada kabar kapan produksi film dan acara televisi akan dilanjutkan. Selain banyaknya masalah logistik, industri perfilman Hollywood juga harus mempertimbangkan kemungkinan kembali normal, sementara sebagian besar wilayah LA dilanda kebakaran.
Film LA yang menangani segala izin untuk proses shooting film dan acara televisi di luar ruang sudah memperingatkan produser yang bekerja di atau dekat zona evakuasi: siap-siap izin dibatalkan. Salah satunya karena pengawas keselamatan di lokasi pengambilan gambar akan sangat dibatasi.
Kalaupun ada yang tetap bersikeras melanjutkan produksi film atau acara televisi, Malkin tidak yakin hasilnya akan bagus. Dari sisi gambar saja sudah tidak akan bagus. Asap pekat dan jelaga masih menyelimuti seluruh wilayah.
Meski pengambilan gambarnya dilakukan di tempat yang lebih jauh, hal itu pun tetap akan terkena dampaknya. ”Shooting di luar di LA saat ini hasilnya tidak bagus. Kualitas udaranya buruk,” ujarnya.
Bukan hanya produksi yang terhenti, melainkan juga acara-acara penghargaan yang gemerlap dan glamor. Padahal, ini sedang musim penghargaan di Hollywood.
Ada banyak acara pemutaran perdana, gala, dan upacara pemberian penghargaan yang terpaksa ditunda. Salah satunya acara Critics Choice Awards dan pemutaran perdana film-film seperti The Last Showgirl karya Pamela Anderson dan film biografi Robbie Williams, Better Man, di LA yang dibatalkan sejak pekan lalu. Pembatalan ini bahkan meluas sampai ke New York. Pemutaran perdana acara Apple TV populer Severance dibatalkan.
Bahkan, pengumuman nominasi Oscar tahun ini yang disiarkan di televisi juga ditunda. ”Begitu banyak anggota dan kolega industri kami yang tinggal dan bekerja di LA,” tulis CEO Academy Bill Kramer dalam sebuah pesan kepada para anggota.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/10/b1cb59b63c152d1eccce59d2fccb7038-cropped_image.png)
Aktris Hacks, Jean Smart, juga mengusulkan agar produksi untuk seluruh musim dibatalkan saja. ”Dengan SEGALA rasa hormat, selama musim perayaan Hollywood, saya berharap semua jaringan yang menayangkan penghargaan mendatang akan mempertimbangkan dengan serius untuk TIDAK menayangkannya dan menyumbangkan pendapatan yang seharusnya mereka peroleh untuk para korban kebakaran dan petugas pemadam kebakaran,” tulis Smart di akun Instagram-nya.
Serba salah juga. Jika semua produksi dan acara dibatalkan, kata Malkin, dampaknya buruk juga pada penata rambut dan tata rias, pelayan, pengemudi, dan staf keamanan.
Hal itu berbeda dengan sebagian besar selebritas yang secara finansial akan baik-baik saja. Para pekerja di balik layar ini sangat bergantung pada upah atau gaji yang mereka terima.
Selama lebih dari satu dekade, bisnis berkembang pesat di Hollywood. Studio-studio berjuang untuk mengejar perusahaan-perusahaan baru, seperti Netflix dan Hulu.
Selama selalu ada gagasan baru, Hollywood akan bertahan.
Namun, masa-masa indah itu terhenti pada Mei 2023 ketika para penulis Hollywood mogok kerja. Pemogokan berlangsung selama beberapa bulan dan menandai pertama kalinya, sejak tahun 1960-an, baik penulis maupun aktor bekerja sama.
Pemogokan itu menghentikan produksi Hollywood. Akan tetapi, alih-alih bangkit kembali, dalam satu tahun sejak pemogokan berakhir, produksi justru merosot.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/01/23/d8fcdbb8-6f89-4594-9512-f321379e4f05_jpg.jpg)
BBC News, 29 September 2024, menyebutkan banyak proyek dibatalkan dan produksi dipangkas di seluruh kota karena lapangan pekerjaan telah berkurang. Banyak studio melakukan PHK. Tingkat pengangguran di bidang film dan TV di AS mencapai 12,5 persen pada Agustus 2024.
Menurut ProdPro yang melacak produksi film dan acara televisi, secara keseluruhan, jumlah produksi AS selama kuartal kedua tahun 2024 turun sekitar 40 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2022. Secara global, terjadi penurunan 20 persen selama periode tersebut. Itu berarti lebih sedikit film baru dan acara yang layak ditonton.
Untuk membantu produksi film dan TV, pemerintah kota LA mempertimbangkan memberikan insentif baru bagi produksi film di Hollywood. Hal itu disebabkan banyak produksi film dan TV streaming yang meninggalkan California karena ada insentif pajak yang menarik di negara-negara bagian lain.
Industri hiburan sangat penting bagi perekonomian Los Angeles. Industri tersebut merupakan landasan basis ekonomi kota dan menyediakan ratusan ribu pekerjaan.
Data terbaru menunjukkan industri hiburan menyumbang sekitar 115 miliar dollar AS setiap tahun. Lapangan kerja yang tersedia mempekerjakan 681.000 orang.
Pemogokan penulis dan aktor berlangsung selama berbulan-bulan dan menghasilkan kontrak serikat pekerja yang menawarkan lebih banyak uang dan perlindungan terhadap kecerdasan buatan. Duncan Crabtree-Ireland, kepala negosiator serikat pekerja Screen Actors Guild, mengatakan kepada BBC bahwa beberapa konsolidasi di Hollywood tidak dapat dihindari. Ia optimistis produksi akan segera meningkat.
”Hollywood selalu merasa sedang dalam krisis. Kota ini senantiasa menghadapi inovasi teknologi dan segala macam perubahan ini bagian dari keajaiban. Menjaga konten agar tetap selalu segar itu penting. Selama selalu ada gagasan baru, Hollywood akan bertahan,” ujarnya. (AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji