Jepang jadi tim Asia pertama yang bisa mengalahkan Inggris. ”Si Tiga Singa” kesulitan tanpa Harry Kane.
01 Apr 2026 13:59 WIB · Olahraga
AP Photo/Kirsty Wigglesworth
Jepang menambah daftar tim besar yang berhasil mereka kalahkan dalam empat tahun terakhir. Tanpa perlu banyak mencoba dan membuang-buang peluang, Jepang bermain dengan cerdik dan efektif untuk menaklukkan korban terbaru mereka yang penuh kebimbangan, Inggris.
Jepang mempermalukan Inggris dalam laga persahabatan terakhir sebelum Piala Dunia 2026 di Stadion Wembley, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Tuan rumah boleh saja bermain dominan, tetapi ”Samurai Biru”, julukan Jepang, menjadi pemenang dengan skor 1-0.
Gol semata wayang Kaoru Mitoma saat laga memasuki menit ke-23 cukup bagi Jepang mengalahkan Inggris untuk pertama kali. Jepang juga menjadi tim Asia pertama yang menaklukkan ”Si Tiga Singa”.
Bagi Jepang, hasil melawan Inggris jadi kemenangan ke-30 mereka dalam 41 pertandingan sejak awal 2023. Selama empat tahun terakhir, tim asuhan Pelatih Hajime Moriyasu itu telah mengalahkan tim-tim besar, seperti Brasil, Spanyol, dan Jerman.
”Inggris adalah tim yang kuat dan kami harus bertahan untuk waktu yang lama. Tetapi, para pemain gigih dan mempraktikkan bagaimana bermain dengan sabar ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan kami,” kata Moriyasu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/01/414f5c4f-aee1-44e1-bf63-5a8b7c05b5b0_jpg.jpg)
Sejak kalah 0-2 dari Amerika Serikat pada September 2025, Jepang menjaga rekor tak terkalahkan. Mereka sempat imbang 2-2 dengan Paraguay, lalu selalu menang pada laga-laga selanjutnya melawan Brasil, Ghana, Bolivia, dan Skotlandia.
Menghadapi Inggris, Jepang mengandalkan formasi 3-4-3 saat menyerang dan 5-4-1 saat bertahan sebagai sistem utama mereka. Dengan formasi ini, mereka memang hanya mencatatkan 31 persen penguasaan bola, tetapi mampu bertahan dengan disiplin dalam waktu lama.
Kemenangan itu juga tak lepas dari keputusan Moriyasu melakukan sejumlah perubahan pada skuad yang mengalahkan Skotlandia 1-0 pekan lalu. Salah satu perubahan itu adalah memberikan kesempatan kepada pemain sayap Brighton & Hove Albion, Mitoma, untuk menjadi starter.
Mitoma pun menjadi sosok yang memulai dan menyelesaikan serangan balik Jepang untuk menghasilkan gol. Ia merebut bola dari Cole Palmer di lini tengah. Lalu, hanya dalam beberapa operan, Jepang membahayakan gawang Inggris.
”Kemenangan ini adalah momen yang kami cari. Ini memberi kami sedikit kelonggaran mental,” kata Mitoma.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/01/0140ff4b-28c3-436b-8f2e-80c9d74492ff_jpg.jpg)
Di babak kedua, Jepang memulai dengan lebih baik, mengancam lewat umpan-umpan langsung ke sisi lapangan. Di akhir pertandingan, mereka mampu menahan gempuran Inggris. Gawang mereka hanya benar-benar tampak terancam saat Inggris mendapatkan kesempatan bola mati.
Ketika mendapatkan kesempatan serangan balik, tampak jelas upaya yang terkoordinasi antarpemain Jepang untuk menekan bersama Inggris. Dengan ekspektasi gol hanya 0,78, Jepang mampu membobol gawang Inggris.
Padahal, Inggris yang dominan dalam penguasaan bola punya peluang untuk setidaknya mencetak dua gol. Namun, mereka justru menunjukkan permainan yang penuh kebimbangan.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel tidak menemukan solusi yang tepat atas ketidakhadiran kapten sekaligus penyerang mereka, Harry Kane. Mengalami cedera ringan dalam sesi latihan terakhir, Kane terpaksa absen melawan Jepang.
Menurut Tuchel, Inggris bisa menang tanpa Harry Kane. Namun, lebih mudah untuk menang ketika ada Kane di tim. ”Tanpa Harry Kane, kami tidak memiliki ancaman yang sama. Bayern Muenchen tanpa Harry Kane juga tidak memiliki ancaman yang sama. Tidak ada tim di dunia yang memiliki ancaman yang sama tanpa pemain andalannya. Itu normal,” kata Tuchel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/01/e5f47eca-ba2e-4815-877c-82593e070339_jpg.jpg)
”Harry keluar sehingga kami tidak hanya kehilangan dia sebagai pemain, tetapi juga kehilangan dia sebagai pribadi. Selalu agak mengganggu jika kapten meninggalkan latihan terakhir dan keluar dari skuad,” ujarnya lagi.
Sebelum melawan Jepang, Inggris menjalani pertandingan persahabatan melawan Uruguay. Baik melawan Jepang maupun Uruguay, Kane absen.
Pada kedua pertandingan tersebut, Inggris hanya berhasil mencetak satu gol lewat Ben White pada laga kontra Uruguay. Melawan Jepang, mereka menciptakan lebih sedikit peluang dalam permainan terbuka.
Saat menghadapi Uruguay, Tuchel mencoba bermain sederhana dengan ketidakhadiran Kane. Ia memainkan penyerang tengah konvensional, Dominic Solanke, yang bekerja keras dan menekan pertahanan lawan dengan baik.
Solanke kemudian digantikan oleh Dominic Calvert-Lewin yang gagal memanfaatkan peluang bagus dengan sundulannya. Inggris membutuhkan bola mati untuk mencetak gol ketika bola sepak pojok Cole Palmer disundul di tiang dekat, lalu White menggulirkan bola melewati garis gawang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/01/1a97ed37-23d2-4394-a85b-b61ba35e6ba7_jpg.jpg)
Akan tetapi, Tuchel menerapkan solusi berbeda ketika bertemu Jepang. Tuchel tidak memainkan striker murni. Phil Foden bermain sebagai false nine dan sering kali mundur bersama penyerang tengah Cole Palmer serta Anthony Gordon dan Morgan Rogers di sayap.
Tuchel tampak ingin membanjiri tengah lapangan agar memancing para bek Jepang dan akhirnya menyerang lewat ruang kosong. Namun, strategi itu justru tak berjalan efektif.
Para pemain di posisi menyerang terlihat bingung, kehilangan arah. Mereka tidak yakin ke mana harus berlari atau ke mana umpan selanjutnya harus diarahkan. Inggris hampir tidak menciptakan peluang dalam permainan terbuka.
Kebimbangan Inggris tanpa Kane bukanlah hal baru. Saat Inggris kalah 1-2 dari Yunani di Wembley pada 2024, kebimbangan serupa menjadi penyebabnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/01/c875460b-b6bd-4147-9240-0ee4808eaa13_jpg.jpg)
Dengan Kane cedera, Pelatih Inggris saat itu, Lee Carsley, menurunkan Jude Bellingham Phil Foden, Palmer, Gordon, dan Bukayo Saka. Hasilnya berantakan. Para pemain kesulitan tanpa Kane yang bisa mereka jadikan pusat permainan.
Bersama Muenchen, Kane menjalani musim yang luar biasa dengan mencetak 31 gol di Bundesliga dan total 48 gol di seluruh kompetisi. Produktivitas ini sulit ditandingi pemain Inggris lainnya.
Sejauh ini, Palmer baru mencetak sembilan gol di Liga Inggris. Adapun Rogers mengemas 8 gol, Foden 7, dan Saka serta Gordon masing-masing 6 gol.
”Kami bisa memenangi pertandingan tanpa Harry. Kami akan menang tanpa Harry, kami telah menang tanpanya, tetapi lebih mudah memenangi pertandingan dengan Harry,” kata Tuchel. (AP/REUTERS)
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati