Liverpool dan Kemelut di Sekitar Senja Kala Manchester City

Hegemoni Manchester City yang menjuarai Liga Inggris empat musim beruntun dihentikan Liverpool. Kepergian Txiki Begiristain turut mempercepat senja kala City.

28 Apr 2025 10:55 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Selama delapan musim terakhir puncak klasemen Liga Inggris hanya dikuasai dua klub, Manchester City dan Liverpool. Dua klub dari wilayah utara Inggris itu berebut pengaruh dengan bergantian menjuarai liga. City dengan kekuatan uangnya mampu mendominasi persaingan hingga meraih enam gelar. Hegemoni itu hanya bisa ditandingi Liverpool. 

Liverpool mengulangi pencapaian menjuarai Liga Inggris pada musim 2019-2020. ”Si Merah” memastikan gelar di saat liga tersisa empat pertandingan. Inilah gelar kedua Liverpool di era Liga Primer yang dimulai pada 1992. Gelar ini terasa spesial, terutama bagi Manajer Arne Slot yang baru menjalani musim perdananya. 

Selain tangan dingin Slot, kesuksesan Liverpool tidak bisa dilepaskan dari kejatuhan City. Merekalah penguasa Liga Inggris dalam delapan musim terakhir. City di bawah manajer Pep Guardiola tidak terhentikan dengan menjadi tim pertama sepanjang sejarah Liga Primer yang menjuarai liga empat musim beruntun pada rentang 2021 hingga 2024. 

Liverpool menjadi satu-satunya tim yang mampu mengusik hegemoni City. Mereka pula yang mampu menahan laju juara City selama dua musim beruntun pada 2017 hingga 2019. Dengan begitu, kegagalan City mempertahankan mahkota liga musim ini agak mengejutkan. 

Kejatuhan City tidak terprediksi sebelumnya. ”The Citizens” memulai musim 2024-2025 sebagaimana biasa, meraih kemenangan demi kemenangan hingga menguasai puncak klasemen pada awal musim. perbedaan baru terasa memasuki pertengahan musim, terutama pada rentang November hingga Desember.

Pemain Liverpool Mohamed Salah (kedua dari kiri) berebut bola dengan pemain Manchester City Abdukodir Khusanov (kanan) pada laga Liga Inggris di Stadion Etihad, Manchester, Senin (24/2/2025) dini hari WIB. Liverpool menang 2-0 pada laga itu.

Performa City mulai terganggu dengan cederanya Rodri. Gelandang bertahan berpaspor Spanyol itu menepi sejak September akibat cedera anterior cruciate ligament (ACL). Musim berakhir lebih cepat bagi Rodri, bersamaan dengan itu penderitaan City dimulai. Pasukan Guardiola mulai inkonsisten.

Setelah meraih dua hasil imbang beruntun kontra Arsenal dan Newcastle United, City kembali memperbaiki penampilan dan memetik tiga kemenangan beruntun atas Fulham, Wolves, dan Southampton meski tanpa kehadiran Rodri. Namun, kebangkitan itu berlangsung hanya sesaat.

Hilangnya Rodri meninggalkan lubang besar di lini tengah City. Mateo Kovacic yang kerap didapuk sebagai pengganti kurang bisa menyamai kualitas Rodri. Puncaknya, City menelan empat kekalahan beruntun dari Bournemouth, Brighton and Hove Albion, Tottenham Hotspur, dan Liverpool. Empat kekalahan beruntun itu sampai membuat City terlempar dari posisi empat besar.

Tren buruk City di Liga Inggris berlanjut hingga ke kompetisi lainnya, Liga Champions Eropa dan Piala Liga Inggris. ”The Citizens” gagal mengatasi Real Madrid pada play off babak 16 besar. Mereka juga kembali kalah dari Spurs pada putaran keempat Piala Liga Inggris. Performa kacau City sekaligus memupus harapan mereka mempertahankan gelar Liga Inggris. Kini satu-satunya trofi yang masih mungkin dimenangkan City hanya Piala FA. 

”Jika kami tidak (kunjung) menang, itu karena kami merindukan Rodri,” kata Guardiola.

Dari sebelumnya terlibat dalam persaingan juara, City berubah drastis dengan hanya memperjuangkan kesempatan tampil di Liga Champions musim depan. Perputaran roda nasib yang begitu kontras itu tidak sepenuhnya disebabkan kehilangan Rodri, tetapi juga cedera silih berganti yang menimpa pemain kunci lain seperti Nathan Ake, John Stones, dan Kevin De Bruyne. 

Manchester City's Rodri is injured next to Arsenal's Thomas Partey during the English Premier League soccer match between Manchester City and Arsenal at the Etihad stadium in Manchester, England, Sunday, Sept. 22, 2024. (AP Photo/Dave Thompson)

Persoalan hasrat

Pandangan lain yang cukup menarik terkait kejatuhan City dikemukakan gelandang Ilkay Guendogan. Menurut dia, selain aspek taktikal serta cedera, penurunan performa City turut disebabkan hilangnya hasrat untuk menjadi yang terbaik dari seisi tim. 

”Saya merasa dalam banyak pertandingan di pihak kami, mungkin kami terkadang terlalu mementingkan taktik dan tidak terlalu memperhatikan perilaku. Perilaku diri kami sendiri. Memiliki tekad, keinginan, dan agresivitas. Seperti hal-hal sederhana yang menjadi bagian dari permainan. Tetapi mungkin terkadang Anda terlalu banyak berpikir tentang posisi diri atau apa pun. Anda mungkin melupakan hal-hal lain yang wajar atau setidaknya seharusnya wajar,” kata Guendogan dikutip dari ESPN. 

Hasrat atau motivasi turut berperan penting dalam mendorong seorang pemain mengeluarkan performa terbaiknya. Dalam konteks ini, pandangan Guendogan masuk akal lantaran City sudah terbuai kesuksesan cukup lama dengan empat kali beruntun menjuarai Liga Inggris.

Roda nasib tidak selalu membuat kita berada selamanya di atas. Demikian pula City yang musim ini harus menerima kenyataan terpental dari persaingan juara. Hal yang perlu dilakukan segera oleh Guardiola adalah memantik kembali motivasi para pemain untuk berburu gelar musim depan bahwa mereka bukan lagi tim terbaik di Tanah Inggris. Ada Liverpool atau Arsenal yang menjadi semakin tangguh setiap musimnya.

Kemelut terakhir, dan yang paling krusial, memukul City adalah kepergian Direktur Olahraga Txiki Begiristain. Sahabat karib Guardiola ini memutuskan mundur pada September 2024. Dialah orang pertama yang menyadari bakat manajerial Guardiola saat masih di Barcelona. 

Aitor "Txiki" Begiristain Mujika

”Indra keenam” Begiristain sanggup melihat apa yang tidak orang lain saksikan. Dia berperan penting mendatangkan sejumlah pemain yang pada akhirnya bersinar bersama City, seperti Kevin De Bruyne, Kyle Walker, Bernardo Silva, Rodri, dan Ederson. 

Tidak berlebihan jika Guardiola begitu sedih dengan hilangnya Begiristain. Bagi Guardiola, dialah pasangan sepadan yang membantunya meraih kejayaan di Barca dan City. Guardiola ibarat koki andal, sementara Begiristain adalah pencari bahan-bahan bermutu untuk dimasak.

Spekulasi terkait masa depan Guardiola di City bahkan menyeruak seiring kepergian Begiristain. Guardiola ramai dikabarkan akan meninggalkan City. Namun, ia akhirnya meredakan spekulasi dengan menerima tawaran perpanjangan kontrak selama dua musim.

”Sebagian dari diri saya akan pergi. Seorang teman saya. Saya akan katakan dia arsitek yang menciptakan salah satu tim terbaik di Barcelona dan sekarang di sini. Dia membuat saya seimbang dalam pekerjaan ini. Saya sangat energik dan ketika kami kalah, saya ingin menghancurkan segalanya dan dia selalu berkata ’luangkan waktu sejenak’,” kata Guardiola.

Kerja sama Begiristain dengan Guardiola masih terjalin hingga akhir musim ini. Belum ada yang dapat memastikan bagaimana kiprah Guardiola pada musim depan tanpa kehadiran Begiristain. Satu yang pasti, City tidak akan pernah sama lagi. Kejatuhan City musim ini sangat mungkin terulang bila Hugo Viana yang didapuk menjadi pengganti gagal menyamai kualitas Begiristain. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari