Angka kemiskinan di Indonesia kian berkurang. Jumlah kemiskinan menyusut dan ketimpangan pendapatan antarpenduduk semakin mengecil.
26 Jul 2025 09:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
Angka kemiskinan di Indonesia kian berkurang. Jumlah kemiskinan menyusut dan ketimpangan pendapatan antarpenduduk semakin mengecil. Hal ini secara tak langsung menunjukkan peningkatan kualitas kehidupan menjadi relatif lebih baik.
Jumat (25/7/2025), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan nasional terbaru yang merepresentasikan data kemiskinan Maret 2025. Data kemiskinan ini dihitung berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025. Survei ini menjaring sekitar 345.000 rumah tangga yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Ada sejumlah indikator penting yang dihasilkan dalam Susenas tersebut. Di antaranya tentang data kemiskinan dan kemiskinan ekstrem, indeks gini (gini ratio), dan indeks modal manusia.
Khusus kemiskinan, data menunjukkan hasil yang relatif Menggembirakan. Pada Maret 2025, jumlah kemiskinan nasional semakin menyusut menjadi 8,47 persen. Jumlah ini menyusut signifikan dari kondisi Maret tahun lalu yang masih 9,03 persen. Persentase kemiskinan ini merupakan capaian yang terbaik, setidaknya dalam dua dekade terakhir. Jika dirunut lebih jauh ke belakang, persentase kemiskinan terbaru ini merupakan yang terendah, setidaknya sejak era 1970-an (Kompas.id, 26/6/2025).
Penurunan data kemiskinan pada awal tahun ini secara tidak langsung juga menggambarkan sedikit perbaikan kualitas hidup masyarakat. Salah satu gambarannya tecermin dari tingkat pengeluaran masyarakat secara umum. Pada Maret 2025, standar garis kemiskinan meningkat menjadi Rp 609.160 per kapita per bulan. Nominal ini bertambah sekitar Rp 26.000 dari standar garis kemiskinan pada Maret tahun lalu yang Rp 582.932 per kapita sebulan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/25/54b41dc5-b7fe-4e5f-9e19-5f095d73b08f_png.png)
Hal lain yang turut menggambarkan perbaikan kualitas penyusutan kemiskinan Maret 2025 itu adalah menurunnya jumlah kemiskinan ekstrem di Indonesia. Pada Maret 2025, jumlah kemiskinan ekstrem susut menjadi 0,85 persen atau turun 0,41 persen poin dibandingkan Maret tahun lalu yang masih sebesar 1,26 persen. Garis kemiskinan ekstrem ini mengacu pada standar purchasing power parity (PPP) 2017 senilai 2,15 dollar AS.
Dalam laporan Pengentasan Kemiskinan Ekstrem yang diunggah dalam Berkas.dpr.go.id pada awal tahun ini menjelaskan bahwa kemiskinan ekstrem adalah kondisi di mana individu atau kelompok hidup di bawah garis kemiskinan internasional, yaitu dengan pendapatan kurang dari 1,90 dollar AS per hari berdasarkan paritas daya beli (PPP). Kondisi ini mencerminkan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan.
Dalam laporan itu disebutkan, seseorang dikategorikan miskin ekstrem jika pengeluarannya di bawah Rp 10.739 per orang per hari atau Rp 322.170 per orang per bulan. Jadi, apabila satu keluarga yang terdiri dari empat anggota keluarga (ayah, ibu, dan dua anak) memiliki pengeluaran belanja setara atau di bawah Rp 1.288.680 per keluarga sebulan, mereka dikategorikan sebagai kelompok miskin ekstrem.
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan susutnya jumlah kemiskinan pada Maret 2025. Salah satunya karena jumlah pekerja ataupun masyarakat yang berusaha memperoleh penghasilan semakin meningkat jumlahnya.
Berdasarkan laporan BPS tentang Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2025, jumlah angkatan kerja yang terlibat dalam aktivitas pekerjaan meningkat pada tahun ini. Per Februari 2025, jumlah penduduk yang bekerja meningkat menjadi 145,77 juta orang atau naik 2,52 persen dari Februari tahun lalu yang 142,18 juta orang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/25/ae6ab54e-af8f-4640-b7e2-f7add9d8b79e_png.png)
Secara akumulasi, status pekerja di Indonesia sebagian besar bersifat informal. Bahkan, pada data Februari 2025, jumlah pekerja informal naik menjadi 59,40 persen dari tahun lalu yang 59,17 persen. Untuk pekerja formal, proporsinya justru menyusut dari 40,80 persen pada tahun lalu menjadi 40,60 persen pada tahun ini.
Proporsi serapan tenaga kerja dan status pekerjaan tersebut secara tidak langsung turut memengaruhi distribusi sebaran kemiskinan dan juga tingkat ketimpangan pendapatan penduduk di Indonesia. Data kemiskinan Maret 2025 menunjukkan bahwa indeks kedalaman kemiskinan (P1) antara perdesaan dan perkotaan menunjukkan perbedaan yang bertolak belakang.
Indeks P1 di perdesaan dan perkotaan cenderung sama-sama mengecil, yang mengindikasikan pengeluaran masyarakat mendekati garis kemiskinan. Namun, apabila dibandingkan dengan besarannya, antara penduduk desa dan kota cenderung bertolak belakang. Pengeluaran masyarakat desa secara umum cenderung masih jauh dari garis kemiskinan. Sebaliknya, masyarakat perkotaan cenderung mendekati garis kemiskinan.
Hal itu mengindikasikan bahwa mendapatkan pekerjaan cenderung lebih mudah diperoleh diperkotaan daripada perdesaan. Meski serapan tenaga kerja sektor pertanian sangat besar, tidak serta-merta membuat kesejahteraan masyarakat desa meningkat karena bekerja di sektor agraris ataupun pekerjaan lainnya di wilayah desa.
Hanya, untuk saat ini, kualitas kehidupan di perdesaan tampaknya tengah membaik. Indikasinya terlihat dari indeks keparahan kemiskinan (P2) antara perdesaan dan perkotaan. Indeks P2 perdesaan yang cenderung menurun mengindikasikan distribusi pengeluaran penduduk miskin kian merata. Semakin mudah mendapatkan pekerjaan atau terlibat aktivitas ekonomi membuat perbedaan nilai belanja masyarakat desa relatif semakin mengecil. Dampaknya, tingkat kemiskinan di desa menyusut dari 11,34 persen pada September tahun lalu menjadi 11,03 persen pada Maret tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/d17cdad9-0f86-4f73-8087-f59af3822303_jpg.jpg)
Berbeda halnya dengan perkotaan yang cenderung meningkat kemiskinannya pada periode yang sama, yakni dari 6,66 persen menjadi 6,73 persen. Peningkatan kemiskinan itu turut tecermin dari naiknya nilai indeks P2 yang menandakan distribusi pengeluaran penduduk miskin perkotaan kian timpang.
Fenomena perbedaan di kedua kawasan tersebut bisa
jadi terkait dengan sejumlah program yang saat ini tengah diimplementasikan pemerintah, terutama yang terkait dengan program-program pemberdayaan yang menyasar kawasan perdesaan, pertanian, pangan, dan ekonomi kerakyatan.
Secara umum, membaiknya indikator kemiskinan pada awal tahun ini disertai dengan membaiknya kualitas pendapatan. Gap pendapatan antarmasyarakat mengecil menjadi 0,375 dari setahun lalu yang 0,379. Susutnya poin indeks gini ini mengindikasikan bahwa distribusi pendapatan masyarakat kian merata. Semakin banyak masyarakat yang bekerja menjadikan tingkat pengangguran terbuka kian susut, terutama di wilayah perdesaan. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Budiawan Sidik AEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase