Tiga kali menjalankan misi, tiga kali gagal akibat intervensi militer Israel. Namun, GSF berkomitmen terus mencoba mencapai pesisir Jalur Gaza.
04 Okt 2025 12:00 WIB · Internasional
Hal yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:
1. Bagaimana nasib misi Global Sumud Flotilla jilid ketiga?
2. Seperti apa tanggapan GSF atas pencegatan dan penangkapan itu?
3. Seperti apa tanggapan publik?
4. Apakah ada warga negara Indonesia yang ikut misi GSF?
5. Bagaimana perkembangan proposal perundingan damai Hamas-Israel?
Misi Global Sumud Flotilla (GSF) untuk ketiga kalinya gagal. Sama dengan misi pada Juni dan Juli lalu, misi kali ini terhenti gara-gara armada dicegat oleh kapal-kapal Angkatan Laut Israel.
Kejadiannya pada Rabu (1/10/2025). Ketika itu, 46 kapal GSF berlayar menuju perairan Gaza. Mereka dicegat oleh militer Israel. Sebanyak 13 kapal segera disuruh berputar arah dan para pegiatnya ditangkap.
Sebanyak 30 kapal berhasil meloloskan diri dan tetap berlayar menuju Gaza. Namun, per Jumat (3/10/2025), kapal terakhir GSF pun akhirnya ditangkap oleh militer Israel. Para pegiatnya, termasuk Greta Thunberg dan Mandla Mandela, berada dalam tahanan dan akan dideportasi.
GSF mengecam pencegatan armada dan penangkapan pegiat-pegiat mereka. Organisasi itu mengatakan, tujuan GSF hanya satu, yakni menyalurkan bantuan sosial kepada warga sipil di Jalur Gaza, Palestina. Bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan alat-alat kesehatan.
Menurut GSF, walaupun misi mereka digagalkan militer Israel tiga kali, mereka tidak akan menyerah. GSF akan terus mencoba menyalurkan bantuan ke Gaza dan siap merencanakan misi berikutnya.
Masyarakat dunia mengecam perbuatan militer Israel. Mereka menilai, ini upaya sistematis militer Israel memperpanjang bencana kelaparan di Gaza.
Unjuk rasa pengecaman itu berlangsung di beberapa negara, antara lain Italia, Perancis, dan Spanyol. Kelompok Yahudi pencinta perdamaian dan pro-Palestina turut menggugat Pemerintah Israel agar membiarkan konvoi bantuan memasuki Gaza dan menghentikan perang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Pelapor Khusus Palestina, Francesca Albanese, menegaskan bahwa militer Israel tidak berhak campur tangan di wilayah perairan Gaza tempat armada GSF berlayar.
Pemerintah Spanyol meminta Pemerintah Israel membuka blokade perairan agar bantuan menuju Palestina bisa masuk. Pemerintah Turki dan Irlandia hendak melakukan penyelidikan berdasarkan hukum laut internasional atas penangkapan para pegiat mereka yang ikut armada GSF.
Ada dua warga negara Indonesia, yaitu Wanda Hamidah dan Muhammad Fatur Rohman, yang mengikuti misi GSF. Awalnya, mereka bersama armada berlayar dari Tunisia menuju Gaza.
Namun, di tengah perjalanan, sepuluh kapal di armada tersebut mengalami kendala teknis sehingga terpaksa merapat di Sisilia, Italia. Setelah dicek, kapal-kapal itu dinilai tidak layak untuk melanjutkan perjalanan.
Wanda, Fatur, dan sejumlah pegiat lintas negara masih menunggu di Sisilia. Sejauh ini, mereka belum memperoleh kapal baru yang bisa membawa mereka menuju Gaza. Kemungkinan terburuk, jika kapal tidak kunjung ada, bantuan akan disalurkan ke lembaga-lembaga kemanusiaan di Sisilia agar tidak mubazir.
Pada Jumat (3/10/2025), Hamas mengatakan menerima sebagian poin dari proposal perundingan damai yang dibesut oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump mengancam, jika sampai dengan Minggu (5/10/2025) tidak ada tanggapan dari Hamas, ia akan meluncurkan ”neraka” ke Gaza.
Hamas masih belum sreg menerima klausul yang menyatakan mereka harus meletakkan senjata dan tidak akan terlibat di dalam pemerintahan baru Palestina. Menurut mereka, hal itu perlu dirundingkan lebih lanjut.
Aspek yang disetujui Hamas ialah membebaskan 48 sandera Israel yang masih mereka tawan. Sebanyak 28 orang dari sandera itu diperkirakan sudah meninggal, tetapi jasad mereka akan dipulangkan.
Trump menuturkan, begitu Hamas bersedia membebaskan sandera, Israel harus berhenti menyerang Gaza. Proses pemulangan sandera ini dikejar agar bisa diselesaikan secepatnya.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan