Pasca-tumbangnya Assad di Damaskus, benang yang menyambung poros Bulan Sabit Iran, simbol kekuatan geopolitik Teheran di Timur Tengah, telah terputus.
03 Jan 2025 14:21 WIB · Opini
Tumbangnya rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah pada 8 Desember 2024 secara geopolitik sangat merugikan Iran. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 11 Desember 2024 menyebut apa yang terjadi di Suriah merupakan hasil perencanaan bersama antara Amerika Serikat dan rezim zionis di Israel.
Khamenei menuduh pesawat tempur AS dan Israel menutup teritorial udara Suriah untuk mencegah datangnya bantuan dari Iran dalam upaya menyelamatkan rezim Assad pada hari-hari terakhir sebelum Assad tumbang.
Iran adalah salah satu pendukung rezim Assad yang mampu mencegah Assad jatuh selama lebih dari 13 tahun, yakni sejak meletusnya revolusi Suriah tahun 2011 hingga tumbangnya pada 8 Desember 2024. Iran dan loyalisnya, Hizbullah, secara resmi masuk ke Suriah pada awal tahun 2013 untuk membantu menyelamatkan rezim Assad di Damaskus.
Dubes AS untuk Suriah periode 2011-2014, Robert Ford, dalam sebuah wawancara dengan harian berbahasa Arab, Asharq al-Awsat, mengungkapkan, jika tidak ada bantuan segera dari Iran dan Hizbullah pada awal tahun 2013, niscaya rezim Assad sudah jatuh saat itu.
Bagi Iran, keberadaan secara langsung di Suriah selama 10 tahun terakhir ini mempunyai tujuan strategis. Tidak hanya untuk tujuan menyelamatkan rezim Assad, tapi lebih jauh dari itu.
Salah satu tujuan strategis Iran adalah keberadaannya secara langsung di Suriah semakin memperkuat tersambungnya akses darat, udara, dan laut menuju Lebanon, yakni negara tempat markas loyalis terkuatnya di Timur Tengah, Hizbullah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/03/07825bd9a2c919e5ba7211b4adf9fbd0-SYRIA_IRAN_CONFLICT_EMBASSY_126061340.jpg)
Sudah maklum bahwa Suriah dikenal sebagai halaman belakang pasokan logistik dari Iran untuk Hizbullah di Lebanon dalam menghadapi Israel. Sudah maklum pula, kekuatan Hizbullah di Lebanon terbangun berkat pasokan logistik dari Iran yang sebagian besar lewat Suriah.
Karena itu, di mata Iran, posisi Suriah secara geografis mempunyai nilai sangat strategis yang memperkuat posisi Iran secara geopolitik di Timur Tengah. Sudah cukup populer tentang adanya poros Bulan Sabit yang membentang dari Teheran, Baghdad, Damaskus, hingga Beirut.
Bulan Sabit yang membentang dari Teheran, Baghdad, Damaskus, hingga Beirut, menjadi simbol kekuatan Iran secara geopolitik di Timur Tengah.
Poros Bulan Sabit itu adalah gugusan negara yang berada di bawah pengaruh Iran atau loyalis Iran yang secara geografis menyambung dengan Iran. Poros Bulan Sabit pun menjadi simbol kekuatan Iran secara geopolitik di Timur Tengah.
Poros Bulan Sabit juga dikenal dengan poros perlawanan di bawah pimpinan Iran terhadap Israel. Jika ditambah dengan loyalis Iran di Yaman, yakni kelompok Houthi dan Hamas di Jalur Gaza, poros Bulan Sabit itu membentang dari Teheran, Baghdad, Damaskus, Beirut, hingga Sana’a di Yaman dan Kota Gaza di Jalur Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/03/9018f2743b2b7a0942b1097cb31fb79a-IRAN_IRAQ_US_SOLEIMANI_ANNIVERSARY_126474865.jpg)
Pasca-tumbangnya rezim Assad di Damaskus, kini terjadi semacam putusnya benang yang menyambung secara geografis dalam poros Bulan Sabit. Hal ini sangat melemahkan poros Bulan Sabit karena posisi Suriah secara geografis sangat strategis lantaran berbatasan langsung dengan Israel dan Lebanon.
Maka, pasca-tumbangnya rezim Assad, Iran dan Hizbullah kini kehilangan akses pasokan logistik lewat Suriah. Ini sangat melemahkan poros Bulan Sabit dalam menghadapi Israel.
Baik Iran maupun Hizbullah harus membuat kalkulasi baru jika hendak membuka front peperangan dengan Israel di masa mendatang karena mereka sudah tidak didukung akses pasokan logistik langsung dari Suriah.
Pasca-tumbangnya rezim Assad di Damaskus, kini terjadi semacam putusnya benang yang menyambung secara geografis dalam poros Bulan Sabit.
Iran kini tidak mudah memasok logistik, baik senjata maupun dana, ke Hizbullah di Lebanon pasca-tumbangnya rezim Assad di Damaskus. Bagi Iran kini hanya ada dua opsi, yaitu lewat laut (Pelabuhan Beirut) dan udara (Bandar Udara Internasional Beirut) untuk memasok logistik ke Hizbullah.
Dua opsi tersebut sesungguhnya sama-sama sulit. Israel bisa dengan mudah mencegat kapal laut atau pesawat udara yang dicurigai membawa logistik untuk Hizbullah di Lebanon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/10/02/5cc203e1-6988-42a6-b26b-0e50d10a6296.jpg)
Situasi baru itu cukup membuat sulit posisi Iran. Ini ada kaitan dengan semakin gencarnya serangan rudal balistik dari kelompok Houthi di Yaman ke arah Israel akhir-akhir ini.
Pada 27 Desember 2024, Houthi menembakkan serangkaian rudal balistik ke Israel. Sebelumnya pada 21 Desember 2024, mereka juga menembakkan sejumlah rudal balistik yang menghantam area kota Jaffa, selatan kota Tel Aviv, dan melukai 16 orang.
Sebelumnya, pada 19 Desember 2024, Houthi juga menembakkan serangkaian rudal balistik yang menghantam Distrik Ramat Gan di dekat kota Tel Aviv dan melukai sedikitnya 3 orang.
Menurut laporan militer Israel, Houthi selama 14 bulan terakhir ini telah menembakkan lebih dari 200 rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke arah Israel. Bisa jadi, semakin gencarnya serangan rudal balistik dari Houthi ke Israel merupakan pesan politik dari Iran bahwa perjuangan poros perlawanan terhadap Israel belum sepenuhnya ambruk pasca-tumbangnya rezim Assad.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/03/bec50a3d118006d2faaf05e2b054e145-Yemen_Israel_Palestinians_126381075.jpg)
Teknologi rudal balistik dan pesawat nirawak (drone), yang dimiliki Iran dan loyalisnya, membuat kedekatan geografis dengan Israel bukan segala-galanya lagi dalam melawan Israel. Iran ingin menyampaikan pesan bahwa serangan rudal balistik dari Houthi di Yaman ke arah Israel yang berjarak sekitar 2.000 kilometer menjadi bukti aksi perlawanan masih bisa dilakukan pasca-tumbangnya rezim Assad.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 1 Januari 2025 menegaskan, Lebanon dan Yaman adalah simbol perlawanan. Sementera Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada kantor berita Tasnim pada 1 Januari 2025 juga menyatakan, aksi perlawanan kini menghadapi pukulan, tetapi akan terus berlanjut.
Namun, tetap tidak bisa dibantah bahwa nilai strategis Suriah yang berbatasan langsung dengan Israel, jauh lebih unggul dibandingkan dengan Yaman yang berjarak 2.000 kilometer dari Israel. Jatuhnya rezim Assad di Damaskus, yang juga dikenal loyalis Iran, tetap menjadi kerugian besar bagi Iran yang sulit tergantikan oleh negara mana pun.
__________
Musthafa Abd Rahman, Wartawan Kompas 1991-2022
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786_jpg.jpg)
Penulis:
Musthafa Abd RahmanEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji