ALL ENGLAND

”Kompak” Tersingkir di Perempat Final All England

Empat wakil Indonesia yang bermain di perempat final All England sesi pertama ”kompak” tersingkir. Mereka kalah bersaing dengan pemain unggulan.

06 Mar 2026 21:41 WIB · Olahraga

Humas PP PBSI

Oleh Yulia Sapthiani

BIRMINGHAM, JUMAT — Setelah menjadi bagian dari mereka yang menyingkirkan unggulan pada babak kedua, hasil sebaliknya didapat sebagian besar pebulu tangkis Indonesia di perempat final All England. Kemampuan dari sebagian besar atlet itu masih berada di bawah atlet top dunia dalam menjalani persaingan pada level tinggi.

Empat wakil yang bermain di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Jumat (6/3/2026), pada perempat final sesi pertama adalah Alwi Farhan, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat, dan Putri Kusuma Wardani.

Dua wakil lainnya, yaitu Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, tampil pada sesi kedua yang dimulai Sabtu dini hari waktu Indonesia. Raymond/Nikolaus melawan Liang Wei Keng/Wang Chan (China), sementara Febriana/Meilysa berhadapan dengan Pearly Tan/Thinaah Muralitharan (Malaysia).

Bagi Alwi, Amri/Nita, dan Rahmat, hasil perempat final sebenarnya tak terlalu buruk mengingat All England edisi ke-116 ini menjadi yang pertama bagi mereka. Namun, kecuali Amri/Nita, performa mereka di perempat final tidak sesuai harapan. Begitu pula dengan Putri.

Amri Syahnawi bertahan dari pukulan lawan pada perempat final All England. Amri/Nita Violina Marwah kalah dari Guo Xin Wa/Chen Fang Hui (China) di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Jumat (6/3/2026).

Hanya Amri/Nita yang bisa memberi perlawanan tiga gim, yaitu pada juara bertahan ganda campuran, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui (China). Mereka kalah dengan skor 17-21, 21-18, 15-21.

”Alhamdulillah bisa main cukup baik hari ini, tetapi pada akhir-akhir laga, kami kehilangan fokus yang membuat situasinya jadi menyulitkan. Itu membuat lawan yakin lagi seperti di gim pertama,” kata Amri.

Nita juga menilai bahwa mereka mempunyai peluang untuk menang karena unggul lebih dulu pada gim ketiga, dari skor 4-0 hingga 10-9. ”Namun, pada poin-poin akhir, kami melakukan banyak kesalahan. Pengembaliannya banyak yang salah arah. Mereka pun mempercepat pola yang terlambat kami adaptasi,” kata Nita.

Sebelum bertemu di Birmingham, Amri/Nita unggul 2-1 atas Guo/Chen yang menjadi unggulan keenam di Birmingham. Namun, di ajang Super 1000, pasangan Indonesia ranking ke-17 dunia itu kalah pengalaman.

Mereka baru menembus level Super 1000 pada 2025 dengan hasil babak kedua di Indonesia dan China Terbuka. Adapun Guo/Xin, yang berpasangan sejak September 2024, tampil di ajang Super 1000 sejak tahun tersebut dengan hasil terbaik ketika menjuarai All England 2025.

Alwi Farhan berhadapan dengan Kunlavut Vitidsarn pada perempat final tunggal putra All England di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Jumat (6/3/2026). Alwi kalah 17-21, 12-21.

Alwi juga mempunyai modal berharga saat melawan Vitidsarn. Dia selalu kalah dalam tiga pertandingan dari pemain Thailand itu, tetapi dalam persaingan yang selalu berlangsung tiga gim dengan durasi lebih dari satu jam. Pada babak ketiga Kejuaraan Dunia Paris 2025, misalnya, Alwi kalah dengan skor tipis 18-21, 21-18, 20-22.

Namun, di Birmingham, Alwi hanya bisa bermain baik pada awal hingga pertengahan gim pertama. Dia pun tak bisa mewujudkan keinginan mengulang kemenangan atas unggulan ketujuh Chou Tien Chen pada babak kedua. Alwi kalah 17-21, 12-21.

Alwi tampil tak sebaik pada tiga pertemuan sebelumnya dengan Vitidsarn, meski langsung unggul 4-0 pada awal pertandingan melalui tiga winner dari smes dan dropshot. Keunggulan itu hanya bisa dipertahankan hingga 12-11 dan Alwi tak bisa memimpin lagi sampai pertandingan selesai.

Gim kedua diwarnai robeknya sepatu kiri Alwi pada skor 1-3. Dia baru bisa mengganti sepatu dalam kedudukan 6-11.

Kejadian itu mengganggu pergerakan atlet berusia 20 tahun tersebut, tetapi permainan Vitidsarn memang sulit diimbangi. Dia begitu solid dalam bertahan hingga Alwi kesulitan mendapat poin.

”Saya tidak terlalu puas dengan performa hari ini. Sebenarnya, dari start gim pertama sudah benar, tetapi dari mulai interval pertama, Kunlavut mengubah pola dan saya kurang bisa antisipasi dengan lebih cepat. Itu kesalahan saya,” kata Alwi.

Putri Kusuma Wardani kalah dari An Se-young (Korea Selatan) dalam perempat final tunggal putra All England di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Jumat (6/3/2026). Putri kalah 11-21, 14-21.

Putri pun tak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik saat melawan tunggal putri nomor satu dunia, An Se-young. Padahal, bermain maksimal tanpa beban bisa menjadi modal untuk (setidaknya) mendapat skor lebih baik setelah selalu kalah dalam delapan pertemuan lain.

Alih-alih memberi perlawanan ketat, Putri begitu mudah kehilangan angka. Dia kalah 11-21, 14-21 dalam pertandingan selama 39 menit.

Performanya tak berbeda jauh seperti ketika kalah 16-21, 8-21 pada perempat final India Terbuka, Januari. Padahal, Putri bisa menahan An bermain tiga gim dalam penyisihan grup Final BWF 2025.

”Melawan pemain top, konsistensi bermain dan cara berpikir harus benar-benar kuat dan saya belum berhasil melakukan itu. Saya bisa mendapat 2-3 poin, tetapi setelah itu kehilangan angka banyak sekali,” kata Putri yang mencapai perempat final pertamanya di All England setelah tersingkir pada babak kedua, setahun lalu.

Sementara itu, dalam pertemuan sesama pemain non-unggulan, Rian/Rahmat kalah dari Chen Bo Yang/Liu Yi (China) 16-21, 10-21. Mereka tak bisa memperlihatkan permainan solid seperti ketika mengalahkan unggulan kedelapan, Goh Sze Fei/Nur Izuddin (Malaysia) pada babak kedua.

Rian/Rahmat bermain monoton dengan selalu menyerang melalui smes meski kesulitan menembus pertahanan lawan. Chen/Liu pun cukup bermain bertahan sambil menanti kesalahan yang dilakukan Rian/Rahmat. ”Kami bermain kurang sabar, kurang bisa mengontrol permainan ketika lawan tidak mudah dimatikan,” kata Rahmat.

Bekal Ke Swiss Terbuka

Perjalanan di All England akan dibawa Alwi dan kawan-kawan untuk turnamen berikutnya Swiss Terbuka, 10-15 Maret. Alwi, Putri, Amri/Nita, dan Rian/Rahmat beserta pemain Indonesia lainnya, termasuk yang berangkat dari Jakarta, akan tampil pada turnamen berlevel Super 300 itu. Absennya sebagian besar atlet top dunia seharunya menjadi kesempatan bagi mereka untuk mendapat hasil lebih baik.

Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat bermain dalam perempat final ganda putra All England di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Jumat (6/3/2026). Rian/Rahmat dikalahkan Chen Bo Yang/Liu Yi (China) 16-21, 10-21.

”Hasil ini semoga membawa pengaruh positif untuk Swiss Terbuka. Kami bisa mengeluarkan semua hal yang dilatih di sini, tinggal diperbaiki agar bisa bermain lebih rapi dengan mengurangi kesalahan,” tutur Amri.

Putri membawa pelajaran dari pertandingan melawan An untuk menjadi unggulan teratas di Swiss. ”Saya belajar banyak dari pemain nomor satu dunia bagaimana penerapan cara berpikir dan konsisten di lapangan. Cara bermainnya tidak hanya mematikan lawan, tapi juga bisa membuat lawan mati sendiri,” ujar Putri.

Alwi juga mendapat pengalaman dari laga melawan Vitidsarn, juga, dari latihannya selama ini. ”Saya sudah mulai bisa revans dari atlet yang mengalahkan saya, seperti Chou tien Chen, tetapi memang belum bisa saat melawan Kunlavut. Dia adalah pemain ulet yang tidak mudah membuat kesalahan. Itu modal dia mencapai level seperti sekarang,” kata Alwi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto