Kondisi Beras Adem Ayem, Minyakita Bermasalah

Masih mahalnya harga minyak goreng bukan lantaran produksi dan stok terbatas. Namun, ada manipulasi minyak goreng karena disparitas harga berbagai jenis minyak itu.

05 Des 2024 15:14 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS – Pasokan dan harga beras relatif adem ayem atau tidak bergejolak. Sebaliknya, minyak goreng justru bermasalah. Stok minyak tersebut berlimpah, tetapi ada yang diselewengkan, sehingga harganya stabil tinggi bahkan cenderung naik.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Sabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Menjelang Natal dan Tahun Baru 2024/2025 yang digelar Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Jakarta, Kamis (5/12/2024). Rapat itu dihadiri perwakilan kementerian/lembaga, pelaku usaha, dan asosiasi yang bergerak di sektor pangan pokok.

Quote

Pasokan dan harga beras sangat stabil atau adem ayem menjelang Natal dan Tahun Baru 2024/2025. Bahkan, pemerintah melalui Perum Bulog miliki stok beras 2,07 juta ton per 4 Desember 2024.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan, pasokan dan harga beras sangat stabil atau adem ayem menjelang Natal dan Tahun Baru 2024/2025. Bahkan, pemerintah melalui Perum Bulog miliki stok beras 2,07 juta ton per 4 Desember 2024.

Stok tersebut terdiri dari 1,82 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) dan 252.070 ton beras komersial. Stok beras Bulog itu tertinggi dalam lima tahun terakhir, karena setiap akhir tahun, stok beras Bulog selalu di bawah 800.000 ton.

“Dengan stok itu, pemerintah memiliki kemampuan menstabilkan pasokan dan harga beras pada Desember 2024 hingga Februari 2025. Hal itu penting mengingat produksi beras nasional pada Februari selalu di bawah 2 juta ton dan Februari tahun depan sudah memasuki masa Ramadhan,” ujarnya.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi


KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS)
24-9-2024

Kendati begitu, Bapanas dan Bulog tetap akan menstabilkan pasokan dan harga beras di wilayah tertinggal, terpencil, terdepan, dan perbatasan (3TP). Saat ini, harga beras di beberapa wilayah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara masih cukup tinggi.

Direktur Rantai Pasok dan Pelayanan Publik Bulog Mokhamad Suyamto menyatakan, Bulog akan fokus menggelontorkan beras ke wilayah-wilayah 3TP. Namun, biaya distribusi beras dari gudang Bulog ke daerah-daerah tersebut tinggi, sehingga dibutuhkan subsidi ongkos angkut.

Dalam rapat koordinasi itu juga terungkap, stok minyak goreng, termasuk Minyakita atau minyak goreng kemasan sederhana program Minyak Goreng Rakyat (MGR), berlimpah. Namun, harga minyak goreng, khususnya minyak goreng curah dan Minyakita, masih tinggi.

Bahkan, Bulog dan ID Food yang telah siap mendistribusikan Minyakita ke berbagai daerah di Indonesia justru tidak mendapat pasokan yang memadai. Suyamto mengaku Bulog kesulitan mendapatkan pasokan Minyakita padahal siap membeli berapa pun Minyakita yang disediakan produsen.

Hal serupa juga disampaikan Direktur Manajemen Rantai Pasok dan Teknologi Informasi ID Food Bernadetta Raras. ID Food siap untuk mendistribusikan Minyakita, tetapi tidak mendapatkan pasokan yang cukup. Saat ini, stok minyak goreng, termasuk Minyakita, ID Food hanya 6,5 kiloliter.

Pedagang menunjukkan minyak goreng kemasan sederhana Minyakita di lapaknya di Pasar Bukit, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (1/12/2024). Harga minyakita di pasar tersebut rata-rata masih dijual Rp 17.000 perliter. Janji pemerintah untuk menurunkan harga minyak goreng bersubsidi belum membuahkan hasil.


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
01-12-2024

Manipulasi minyak goreng

Dalam forum tersebut, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, menyebutkan stok minyak goreng, termasuk Minyakita, berlimpah.

Saat ini, banyak produsen memproduksi minyak goreng untuk pasar dalam negeri, karena permintaan global tengah lesu dan ada kewajiban memasok kebutuhan dalam negeri (DMO).

“Jadi, persoalan tingginya harga minyak goreng domestik bukan lantaran produksi dan stok terbatas. Namun, ada manipulasi atau penyelewengan minyak goreng karena disparitas harga berbagai jenis minyak goreng tinggi,” katanya.

Quote

Ada manipulasi atau penyelewengan minyak goreng karena disparitas harga berbagai jenis minyak goreng tinggi.

Sahat menjelaskan, saat ini, harga minyak goreng premium tembus Rp 21.000 per liter, Minyakita di ritel modern Rp 15.700 per liter, dan minyak goreng curah Rp 17.000-Rp 18.000 per liter. Di sisi lain, harga minyak bekas atau jelantah untuk bahan baku biodiesel di pasar internasional lumayan tinggi, yakni sekitar Rp 18.000 per liter.

Pedagang mengemas minyak goreng curah ukuran satu kilogram di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (3/12/2024). Minyak goreng mengalami inflasi beruntun dalam lima bulan terakhir.

Disparitas harga yang cukup tinggi itu dimanfaatkan oknum-oknum tertentu memborong minyak goreng untuk dimanipulasi. Mereka bisa menjualnya ke luar negeri dalam bentuk minyak jelantah atau memperdagangkannya sebagai minyak goreng curah yang harganya lebih tinggi.

“Ini seperti yang dikatakan Kantor Staf Presiden (KSP). Jadi bukan masalah pasokan, tetapi disparitas. Pemerintah harus memiliki kekuatan untuk mengatasinya. Misalnya, melalui Bulog atau ID Food yang tentu saja harus diperkuat permodalannya,” kata Sahat.

Senin lalu, KSP menduga ada sejumlah faktor penyebabnya yang menyebabkan harga Minyakita masih tinggi dan cenderung naik. Dua di antaranya adalah Minyakita merembes ke pasar curah dan minyak goreng curah merembes ke luar negeri dalam bentuk minyak jelantah (Kompas, 3/12/2024).

Disparitas harga Minyakita per 4 Desember 2024

Sementara Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bambang Wisnubroto menuturkan stok Minyakita cukup berlimpah. Realisasi DMO minyak goreng pada Oktober 2024 dan November 2024 masing-masing mencapai 176.500 ton.

DMO tersebut mulai didominasi Minyakita lantaran Kemendag sudah mengeluarkan minyak goreng curah dari program MGR dan kewajiban itu. Realisasi DMO itu lebih tinggi dari rerata bulanan kebutuhan minyak goreng curah dan Minyakita yang sebesar 170.000 ton.

Oleh karena itu, Wisnu melanjutkan, Kemendag berkomitemen menurunkan harga dan mengawal distribusi Minyakita. Peran Bulog dan ID Food akan dioptimalkan. Ini mengingat banyak distributor dan pengecer yang terlibat dalam penyaluran Minyakita di luar rantai distribusi dalam Simirah atau sistem pengelolaan dan pengawasan minyak goreng untuk rakyat.

“Namun lantaran minyak goreng dari produsen harus dibayar sebelum dikirimkan (cash before delivery), maka kemampuan finansial Bulog dan ID Food perlu diperkuat,” katanya.

Pedagang menata minyak goreng merek minyakita di tokonnya di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (11/9/2024). Pemerintah tidak lagi mengatur harga minyak goreng curah sehingga harganya naik terus. Begitu juga dengan Minyakita, harga minyak kemasan program Minyak Goreng Rakyat itu juga tak kunjung turun.

Guna mengatasi persoalan itu, Arief meminta Bulog, ID Food, dan produsen minyak goreng langsung bekerja sama dalam pembelian dan pendistribusian Minyakita. Langkah itu dapat memutus rantai distribusi sekaligus potensi penyelewengan Minyakita.

Badan Pusat Statistik menyebutkan, kenaikan harga berbagai jenis minyak goreng itu telah menyebabkan minyak goreng mengalami inflasi selama lima bulan beruntun, yakni pada Juli-November 2024.

Di tahun ini, tingkat inflasi bulanan minyak goreng pada Juli sebesar 0,3 persen, Agustus 0,39 persen, September 0,38 persen, Oktober 0,78 persen, dan November 2,71 persen.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kemendag, per 4 Desember 2024, harga rerata nasional Minyakita Rp 17.100 per liter. Sementara, harga minyak goreng kemasan premium Rp 21.500 per liter dan minyak goreng curah Rp 17.300 per liter.

Sejak Juli 2024, harga Minyakita naik 5,56 persen, minyak goreng kemasan premium 3,86 persen, dan minyak goreng curah 9,49 persen.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra