Korban Keracunan MBG Bandung Barat Trauma, Sanksi Pidana Ditunggu

Korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis di Bandung Barat masih trauma. Sanksi pidana diharapkan muncul pascainsiden ini.

26 Sep 2025 18:23 WIB · Metropolitan

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Ny Irma (32) sudah lega. Sejak Kamis (25/8/2025) malam, anaknya sudah kembali ke rumah mereka di Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Namun, apabila anaknya mesti menyantap lagi menu Makan Bergizi Gratis, Irma belum cukup nyali.

”Bukannya menolak program pemerintah, tetapi masih belum berani,” kata Irma, Jumat (26/9/2025).

Irma adalah ibu dari Fitri (14), salah satu korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari MTS Manarul Huda di Kecamatan Cipongkor, Bandung Barat, yang berjarak 10 kiloneter dari Rongga. Sempat dirawat di Gelanggang Olahraga (GOR) Cipongkor, Fitri tidak menginap dan bisa pulang di hari yang sama.

”Kebetulan cukup mendapat infus satu labu, tetapi cemasnya ini berkali-kali lipat besarnya. Saya belum siap mengizinkan anak menerima kembali sajian MBG. Masih trauma,” kata Irma.

Wajar apabila Irma trauma. Keracunan membuat anaknya sesak napas hingga muntah. Bahkan, keresahan serupa dikatakan orangtua lain yang anaknya tidak menjadi korban keracunan. 

Mobil ambulnas berdatangan untuk menjemput dan mengantar korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di GOR Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025). Mayoritas korban mengeluhkan mual, sakit perut, dan beberapa kejang, keram , hingga sesak nafas. Hingga Kamis (22/9/2025) sore tercatat 35 orang masih di rawat di GOR Cipongkor Dalam tiga hari terakhir, tercatat lebih dari 1.000 siswa keracunan akibat sajian MBG di kawasan tersebut. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
25-9-2025

Salah satunya adalah Ny Nina (33), warga Bandung, Jabar. Dia mengatakan, kabar keracunan di Cipongkor, berjarak 50 km dari rumahnya, tetap bikin dia khawatir.

Sebelumnya, Nina memang pernah mendengar kasus serupa. Akan tetapi, kali ini kasusnya berbeda. Dalam tiga hari, korbannya ribuan siswa.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bandung Barat pada Jumat, ada 1.258 siswa yang dirawat. Sebanyak 1.159 orang sudah pulang. Masih ada 99 anak yang dirawat di berbagai fasilitas kesehatan.

Nina mengaku ikut bersyukur sebagian besar siswa sudah sembuh. Namun, kejadian keracunan itu tetap membuatnya khawatir.

”Sebelum sehat lagi, anak-anak itu mesti melewati fase mual, pusing, muntah, hingga sesak napas. Jangan sampai itu dialami anak saya. Apalagi, katanya ada kasus berulang di satu dapur yang sama,” tuturnya.

Salah satu siswa SD Taruna Bakti dirawat di Puskemas Cugenang, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Kamis (25/9/2025). Dia diduga keracunan santapan MBG.

Nina tidak keliru. Dia berkaca dari kasus di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jabar. Pada Kamis kemarin, 30 siswa SD Taruna Bakti sempat mengeluhkan pusing setelah menyantap menu MBG.

Kepala Polsek Cugenang Komisaris Usep Nurdin mengatakan, kasus ini merupakan kasus keracunan kedua dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama. Kejadian sebelumnya terjadi pada 11 September 2025. Saat itu, 17 siswa SMP Budi Luhur juga mual dan muntah. 

Quote

Saya belum siap mengizinkan anak menerima kembali sajian MBG. Masih trauma.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi juga berulang kali mengutarakan dampak trauma yang rawan dialami semua penerima MBG dan orangtuanya. Kasus keracunan rentan menurunkan kepercayaan terhadap MBG.

”Padahal, program ini sangat baik untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak,” ujarnya.

Suasana kantor dapur SPPG Makmur Jaya Cipari di Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025). Sudah dua hari dapur tersebut ditutup karena menyebabkan keracunan ratusan pelajar. Dapur tersebut setiap hari menyediakan 3.590 porsi untuk murid TK/PAUD, SD, SMP/MTS hingga MA/SMA. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menutup tiga dapur penyedia MBG yang menjadi penyebab keracunan massal. Terdapat 85 dapur MBG di Kabupaten Bandung Barat. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menetapkan kasus keracunan makanan MBG di Cipongkor sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Mayoritas korban mengeluhkan mual, sakit perut, dan beberapa kejang, keram , hingga sesak nafas. Dalam empat hari terakhir, tercatat hampir 1.333 siswa keracunan akibat sajian MBG.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
25-9-2025

Harapan lepas dari trauma menjadi satu dari sekian banyak keinginan kasus ini tak terulang lagi. Dari sisi kesehatan masyarakat, misalnya, ada yang meminta agar perbaikan dilakukan di semua tahapan. Hal itu mulai dari penyiapan bahan makanan, cara dan waktu memasak, hingga proses distribusinya.

Ada juga suara yang berharap agar aparat turun tangan mengatasi hal ini. Sejauh ini, polisi mengklaim tengah mendalami kasus keracunan ini. 

Kepala Polres Cimahi Ajun Komisaris Besar Niko Adi Saputra mengatakan, pihaknya sudah mengambil sampel muntahan dan makanan terkait keracunan di Bandung Barat. Setelah diperiksa, diharapankan bisa diketahui penyebab pasti kejadian itu. 

Kepala Bagian Humas Polda Jabar Komisaris Besar Hendra Rochmawan juga meminta warga tetap tenang menyikapi hal ini. Ia menyebut penyebab pasti keracunan tengah ditelisik polisi bersama Dinkes Kabupaten Bandung Barat.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Kompas/Hendra A Setyawan

Bahkan, pada Jumat, Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo juga mengatakan pihaknya tengah mendalami kasus keracunan itu. Polisi sudah turun ke lapangan.

”Secara resmi, hasilnya akan segera diinformasikan,” kata Listyo di Jakarta.

Satu per satu korban keracunan MBG di Bandung Barat pulang ke rumah. Namun, bukan berarti potensi kejadian berulang tidak akan terjadi. Hanya dengan evaluasi dan penegakan hukum yang tepat, semua trauma ini bisa dicegah terus ada.






Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra