”Kota Emas” Tengah Tumbuh Lemas

Tren kenaikan harga emas dan masih bagusnya harga tembaga tidak mampu menahan anjloknya pertumbuhan ekonomi Papua Tengah pada triwulan I-2025.

09 Mei 2025 15:35 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

Ekonomi Provinsi Papua Tengah yang berjuluk ”Kota Emas” tengah lemas. Pada triwulan I-2025, ekonomi daerah penghasil tembaga dan emas itu tumbuh minus 25,53 persen. Kenaikan harga emas dan masih tingginya harga tembaga tidak terlalu dinikmati daerah itu.

Anjloknya kinerja sektor pertambangan dan ekspor menjadi biang keladi utamanya. Kontraksi di sektor konstruksi dan konsumsi atau belanja pemerintah semakin membuat lesu pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dari 17 lapangan usaha, hampir semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan, kecuali pertambangan dan penggalian, serta konstruksi. Pada triwulan I-2025, sektor pertambangan dan penggalian, serta konstruksi, masing-masing tumbuh -32,82 persen dan -0,11 persen secara tahunan.

Adapun pertumbuhan produk domestik bruto regional (PDRB) menurut pengeluaran hanya ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,38 persen. Lima komponen lainnya, termasuk ekspor dan pengeluaran pemerintah, terkontraksi.

Ekspor barang dan jasa pada triwulan I-2025 terkontraksi paling dalam, yakni tumbuh -54,55 persen secara tahunan. Kemudian, diikuti konsumsi atau belanja pemerintah yang tumbuh -9,37 persen.

Quote

Kala pemerintah memberlakukan larangan ekspor bijih dan konsentrat tembaga pada awal Januari 2025, sudah barang tentu bakal berdampak pada perekonomian Papua Tengah.

single
Infografik Pertumbuhan PDRB Papua Tengah Menurut Lapangan Usaha dan Pengeluaran pada Triwulan I-2025

Kepala Departemen Riset Industri dan Daerah Kantor Ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani, Jumat (9/5/2025), mengatakan, selama ini, pertumbuhan ekonomi Papua Tengah sangat bergantung pada PT Freeport Indonesia (PTFI). Tambang tembaga dan emas yang dikelola perusahaan itu menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Papua Tengah.

Kala pemerintah memberlakukan larangan ekspor bijih dan konsentrat tembaga pada awal Januari 2025, efeknya sudah barang tentu bakal berdampak pada perekonomian Papua Tengah. Memang, pemerintah memperpanjang izin ekspor konsentrat tembaga PTFI yang berakhir pada 31 Desember 2024 menjadi September 2025.

Namun, Dendi melanjutkan, izin perpanjangan itu baru dikeluarkan pada Maret 2025. Di sisi lain, smelter (pabrik pemurnian) tembaga PTFI juga sempat terbakar pada tahun lalu sehingga produksi tembaga olahan menjadi terganggu.

”Maka, tidak mengherankan jika kondisi itu membuat pertumbuhan sektor pertambangan dan ekspor tembaga Papua Tengah terkontraksi pada triwulan I-2025,” ujarnya di Jakarta.

Aktivitas pencetakan anoda tembaga di fasilitas pemurnian konsetrat logam PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus, Gresik, Jawa Timur, Senin (23/9/2024). Presiden Joko Widodo mengestimasikan operasional smelter Freeport Indonesia secara penuh dapat berkontribusi pada pendapatan negara hingga Rp 80 triliun per tahun.

Pada 14 Oktober 2024, unit asam sulfat smelter atau yang biasa disebut common gas cleaning plant di Kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, terbakar. Selain di JIIPE, sebelumnya, PTFI sudah mengoperasikan smelter tembaga di Gresik yang dikelola PT Smelting, perusahaan yang didirikan PTFI bekerja sama dengan Mitsubishi Materials Corporation (MMC).

Pada Indonesia Mining Summit 2024, Rabu (4/12/2024), Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menargetkan bahwa smelter baru akan beroperasi lagi pada Juni 2025. Kemudian, dalam rapat dengar pendapat PTFI dengan Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu (19/2/2025), ia menyatakan, kebakaran itu menyebabkan sekitar 1,5 juta ton konsentrat tembaga tidak dapat diolah.

Dendi berpendapat, tren kenaikan harga emas dan masih bagusnya harga tembaga tidak berdampak siginifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Tengah. Hal itu terjadi lantaran volume produksi dan penjualan tembaga dan emas PTFI turun.

Berdasarkan laporan kinerja Freeport-McMoRan Inc (FCX), pada triwulan I-2025, produksi tembaga PTFI turun 39,71 persen secara tahunan menjadi 296 juta pon. Penjualan tembaga juga turun 41,17 persen menjadi 290 juta pon.

Begitu juga dengan produksi dan penjualan emas PTFI yang pada triwulan I-2025 masing-masing turun drastis 47,8 persen dan 77,8 persen secara tahunan. Pada triwulan tersebut produksi emas PTFI hanya sebanyak 248.000 ons dan penjualannya 125.000 ons.

-utk Koko Freeport- Kawasan perkantoran penambangan bawah tanah Grasberg Block Cave II PT Freeport Indonesia Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang terletak di area ruang terbuka, Jumat (5/9/2024). Penambangan bawah Grasberg Block Cave II PT Freeport Indonesia merupakan area eksplorasi yang kini aktif beroperasi menggantikan penambangan terbuka di atas pegunungan Grasberg. Area penambangan di Grasberg Block Cave memiliki kandungan cadangan mineral sebesar 963 juta ton metrik, yang mencakup kandungan emas, perak, dan tembaga. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 15-9-2024

Sumber pertumbuhan lain

Dendi juga mengemukakan, larangan ekspor bijih dan konsentrat tembaga bakal memengaruhi pertumbuhan ekonomi Papua Tengah selama dua hingga tiga tahun ke depan. Kondisi itu sama kala pemerintah memberlakukan larangan ekspor bijih nikel karena baru dua hingga tiga tahun ke depan, ekonomi daerah penghasil nikel bisa tumbuh baik.

”Namun, dalam jangka pendek, PTFI dapat memanfaatkan perpanjangan izin ekspor bijih dan konsentrat tembaga setidaknya hingga Juni 2025. Langkah itu pasti dapat memperbaiki pertumbuhan ekonomi Papua Tengah,” katanya.

Di sisi lain, Dendi menambahkan, terkontraksinya pertumbuhan ekonomi Papua Tengah juga disebabkan oleh penurunan kinerja konsumsi pemerintah dan konstruksi. Hal itu tidak terlepas dari kebijakan penghematan anggaran 2025 yang membuat dana tranfser daerah dan pembangunan infrastruktur daerah dipangkas.

Sisi positifnya, konsumsi rumah tangga di Papua Tengah pada triwulan I-2025 justru tumbuh 4,38 persen secara tahunan. Angka pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I dan IV tahun 2024 yang masing-masing sebesar 4,28 persen dan 3,51 persen.

”Ini mengindikasikan geliat ekonomi Papua Tengah pada triwulan I-2025 masih ditopang dengan belanja dan daya beli masyarakat yang masih baik. Kemungkinan besar, penurunan kinerja sektor pertambangan tidak diikuti dengan pemutusan hubungan kerja, sehingga daya beli masyarakat masih tumbuh bagus," katanya.

Dendi juga merekomendasikan agar sumber-sumber pertumbuhan lain di Papua Tengah, terutama yang menyangkut hajar hidup orang banyak, lebih diperkuat. Salah satunya adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Quote

Sisi positifnya, konsumsi rumah tangga di Papua Tengah pada triwulan I-2025 justru tumbuh 4,38 persen secara tahunan.

Kepala Departemen Riset Industri dan Daerah Kantor Ekonom PT Bank Mandiri (Perrsero) Tbk Dendi Ramdani,

Sementara itu, Lembaga Bidang Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) memproyeksikan permintaan tembaga dunia bakal tumbuh tumbuh cukup signifikan pada 2040. Namun, pertumbuhan permintaan itu tidak diimbangi dengan pertumbuhan pasokan.

Hal itu tertuang dalam laporan UNCTAD tentang Prospek Perdagangan Global: Tembaga dalam Ekonomi Hijau dan Ekonomi Digital yang dirilis pada 6 Mei 2025. Dalam laporan itu, UNCTAD memperkirakan permintaan tembaga global tumbuh 40 persen pada 2040.

Potensi peningkatan tembaga tersebut tidak terlepas dari peran tembaga sebagai bahan baku strategis baru dalam ekonomi hijau dan ekonomi digital baru. Tembaga sangat penting untuk menopang sketor kendaraan listrik, energi terbarukan, infrastruktur kecerdasan buatan, pusat data, dan jaringan pintar.

Namun, kadar bijih yang rendah, risiko geopolitik, dan jangka waktu pengembangan yang panjang, hingga 25 tahun untuk tambang baru, menimbulkan tantangan struktural. Untuk memenuhi lonjakan permintaan tembaga hingga 40 persen pada 2040, setidaknya dibutuhkan 80 tambang baru dengan nilai investasi sebesar 250 miliar dollar AS pada 2030.

Infografik Sumber Tembaga Dunia

UNCTAD menemukan, banyak negara kaya sumber daya alam terjebak di dasar rantai nilai, mengekspor bahan mentah tetapi tidak mampu melakukan industrialisasi. Lebih dari separuh cadangan tembaga dunia berada di lima negara saja, yaitu Australia, Chile, Peru, Kongo, dan Rusia.

Hanya saja, sebagian besar nilai tambah tembaga justru berasal dari negara lain, bukan negara penghasil utama komoditas itu. China, misalnya, yang rerata per tahun mengimpor sekitar 60 persen bijih tembaga dunia dan mampu memproduksi lebih dari 45 persen tembaga olahan.

”Salah satu faktor yang menyebabkan adalah peningkatan bea masuk kurang dari 2 persen untuk tembaga olahan hingga 8 persen untuk produk jadi lainnya,” sebut UNCTAD dalam laporan itu.

Direktur Divisi Perdagangan Internasional dan Komoditas UNCTAD Luz María de la Mora menuturkan, saat ini, tembaga bukan lagi sekadar komoditas, melainkan aset strategis. Pasar tembaga memperlihatkan ketidakseimbangan kekuatan yang masih membentuk perdagangan global.

”Oleh karena itu, kita perlu berinvestasi dalam penambahan nilai lokal, meningkatkan daur ulang, dan menghilangkan hambatan perdagangan yang membatasi peluang perdagangan dan pemanfaatan tembaga di berbagai sektor, termasuk ekonomi hijau dan ekonomi digital,” tuturnya.

Spesimen produk emas dipajang di salah satu sudut butik logam mulia Antam Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (14/4/2025). Saat harga emas sedang tinggi, sebagian orang justru antusias melakukan pembelian. Sebab, harga emas diperkirakan bakal terus naik hingga beberapa waktu ke depan.

Berdasarkan konsensi Bloomberg, harga tembaga pada 2025 diperkirakan mencapai 9.197 dollar AS per ton. Kemudian pada 2026 dan 2027 bakal meningkat masing-masing-masing menjadi 9.573 dollar AS per ton dan 9.860 dollar AS per ton.

Di sisi lain, prospek pasar emas juga diperkirakan masih mengilap untuk beberapa tahun ke depan. Hal itu terutama dipicu oleh menguatnya ketidakpastian ekonomi global yang membuat emas menjadi instrumen investasi yang dianggap paling aman.

Pada 14 April 2025, Goldman Sachs, bank investasi dan juga perusahaan jasa keuangan multinasional asal Amerika Serikat, memperkirakan harga emas pada akhir 2025 senilai 3.700 dollar AS per troy ons atau sekitar 1,96 juta per gram. Perkiraan harga itu naik dari proyeksi sebelumnya yang senilai 3.300 dollar AS per troy ons.

Kenaikan harga emas itu didorong oleh sejumlah faktor. Hal itu mulai dari permintaan bank sentral sejumlah negara hingga meningkatnya arus dana ke produk investasi berbasis emas seperti dana tukar dagang (ETF).

Berbeda dengan Goldman Sachs, konsensi Bloomberg memperkirakan harga emas pada 2025 senilai 3.008 dollar AS per troy ons. Harga tersebut bakal terus turun pada 2026 dan 2027 masing-masing menjadi 2.915 dollar AS per troy ons dan 2.825 dollar AS per troy ons.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra