Melihat kembali kunjungan perdana kepausan Paus Fransiskus.
26 Apr 2025 16:37 WIB · Foto
Lampedusa adalah pulau kecil di Mediterania. Terletak di bagian paling selatan Italia, pulau ini dianggap sebagai pintu gerbang ke Eropa bagi para migran Afrika yang diselundupkan dengan perahu dari Libya atau Tunisia menyeberangi Laut Tengah. Pulau itu menjadi pintu gerbang bagi ribuan migran Afrika yang lari akibat kesulitan ekonomi dan konflik di negaranya untuk menuju Eropa.
Pada Juni 2013, sebuah kapal kayu reot bermuatan lebih dari 500 migran terbakar dan tenggelam di lepas pantai yang hanya berjarak 1 kilometer dari daratan Pulau Lampedusa. Lebih dari 360 penumpang di dalam kapal ditemukan mengambang kaku dalam dinginnya air laut. Mereka sebagian besar berasal dari Eritrea dan Somalia, yang berusaha pergi dari negaranya untuk menghindari konflik bersenjata.
Pemerintah Italia menetapkan hari berkabung nasional selama satu hari. Hening cipta selama semenit pun dilakukan di seluruh sekolah, untuk mendoakan korban tragedi kapal tenggelam di perairan Pulau Lampedusa. Itulah wujud nyata penghargaan terhadap nyawa manusia, yang bahkan tidak mereka kenal. Berita ini menyebar ke penjuru dunia. Bermacam tanggapan muncul atas kejadian ini.
Mendengar berita Lampedusa, Paus Fransiskus, yang baru saja ditahbiskan sebagai paus, menggantikan pendahulunya yang mengundurkan diri, segera memutuskan untuk mengunjungi Pulau Lampedusa sebagai perjalanan pertama kepausannya keluar kota Roma. Dengan menumpang pesawat terbang, dan disambung dengan kapal penjaga pantai, Paus Fransiskus tiba di Lampedusa pada 8 Juli 2013 dan segera menyapa para migran yang baru tiba.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/26/d1da8dc7-e8a4-4f4d-8afe-bb78d17101ce_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/26/874b2f82-b411-4f8b-8564-952f04ab0da0_jpg.jpg)
Sebuah kapal penjaga pantai baru saja menyelamatkan 162 imigran dari tengah lautan. Paus Fransiskus sangat terharu melihat ribuan pengungsi terus mengalir ke pulau kecil itu. Lampedusa dan Laut Mediterania yang memisahkan Eropa dan Afrika adalah simbol krisis migrasi dan pengungsi global hingga hari ini.
Ribuan migran yang mendamba kehidupan lebih baik berjuang melintasi lautan berbahaya itu. Banyak di antara mereka binasa ketika kapal-kapal mereka ditolak masuk Eropa, terkatung-katung memprihatinkan. Sebagian yang lain tenggelam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/26/bd6eaca8-1362-4d35-acc6-af523bf90f07_jpg.jpg)
Dengan menaiki kapal penjaga pantai, Paus menuju tengah laut Mediterania dari Pulau Lampedusa. Di sana ia melemparkan karangan bunga berwarna putih dan kuning ke laut sebagai tanda berdukacita. Paus juga memberkati laut dan berdoa untuk ribuan nyawa yang tidak selamat dan terkubur di dalamnya laut.
Sementara itu, saat misa bersama warga dan pengungsi, Paus membawa salib kayu yang terbuat dari bekas kapal pengungsi yang hancur ketika menuju Lampedusa. Salib itu didominasi warna biru tua, biru muda, dan warna putih. Di atas salib terdapat gambar ikan dan jantung berwarna merah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/26/2020670e-d001-47e3-be07-ff7497af847b_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/26/60fe008b-fe51-40d8-bc0b-4af3fb65583f_jpg.jpg)
Mengenakan jubah ungu, seperti yang digunakan selama masa Prapaskah, Paus Fransiskus dalam homilinya mengatakan, kematian para imigran harus menjadi pendorong bangkitnya hati nurani untuk sesama.
Lampedusa sangat istimewa bagi Paus Fransiskus.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji