Latihan Lari Daring, Cocok untuk Siapakah?

Latihan lari secara daring menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Pelari yang belum berpengalaman tidak disarankan menjalani metode latihan daring.

19 Des 2024 16:17 WIB · Olahraga

Oleh Helena Fransisca Nababan

Di tengah kemajuan teknologi, latihan lari bersama pelatih tidak hanya dilakukan secara tatap muka. Namun, latihan lari juga bisa dilakukan secara online atau daring.

Akan tetapi, pelari seperti apakah yang dipandang sesuai untuk menjalankan latihan secara daring? Agung Mulyawan atau yang akrab dikenal sebagai Agung Gantar, pelatih lari yang banyak menangani pelari rekreasional, Selasa (17/12/2024), menjelaskan, latihan lari baik secara online maupun daring, ataupun secara tatap muka bersama pelatih lari, sama-sama memberikan manfaat yang bagus terhadap performa pelari.

Quote

Dengan mengikuti dari Youtube atau di internet, ternyata tidak cocok sama badannya. Akhirnya menyebabkan cedera atau sakit.

Hanya saja, latihan lari daring lebih sesuai untuk para pelari non-atlet atau pelari rekreasional semipro, serta untuk pelari rekreasional serius yang benar-benar mau mengejar podium, baik podium master maupun podium di lomba yang tidak banyak diikuti pelari atlet.

Agung menjelaskan, para pelari non-atlet rata-rata sudah mengerti dan memahami dasar-dasar olahraga lari. Pelari rekreasional semipro juga sudah berpengalaman menjalani aktivitas lari.

”Dengan begitu, pelari rekreasional semipro akan lebih mudah latihan secara daring, dari Youtube, atau dari internet karena mereka sudah mengerti basic berlari,” jelas Agung yang juga pengasuh dan pelatih sejumlah pelari di Agung Mulawan Track Club (AMTC) di kawasan perkebunan teh di Pangalengan, Jawa Barat.

Suasana latihan di Agung Mulyawan Track Club di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Tidak hanya atlet profesional, penghobi lari bisa ikut serta.

Pemahaman tentang dasar-dasar berlari, menurut Agung, sangat penting. Apabila tidak, justru menimbulkan masalah.

Ambil contoh, kata Agung, seorang pelari mencontoh gerakan atau mencontoh satu metode latihan dari Youtube. Sementara pelari itu belum siap dari aspek ketahanan atau endurance, kekuatan, kecepatan, keseimbangan, ataupun kelentuhannya.

”Dengan mengikuti dari Youtube atau di internet, ternyata tidak cocok sama badannya. Akhirnya menyebabkan cedera atau sakit,” jelas Agung.

Melalui latihan daring, jelas Agung, biasanya para pelatih akan mengirimkan program kepada anak didiknya. Kemudian para pelari akan mengirimkan laporan dari hasil rekaman pada jam pintar atau smartwatch,  atau dari aplikasi yang dipakai si pelari ketika berlari.

”Beberapa tahun belakangan ini, latihan daring sudah mulai tren,” kata Agung.

Agus Hermawan atau yang lebih akrab dipanggil Abah Ush, dalam bukunya, Enggak Lari Enggak Keren, menuliskan, tren latihan daring mulai berkembang sejak pandemi Covid-19 merebak. Selama pandemi, orang-orang dianjurkan membatasi atau tidak keluar rumah untuk menekan persebaran virus Covid-19. Banyak pelatih kemudian melakukan pelatihan secara daring.

Gaya salah satu peserta lari Semarang 10K saat melintasi Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/12/2024). Sebanyak 2.500 pelari dari berbagai daerah memeriahkan ajang Semarang 10K yang bertema "Step Up Your Limit" dengan melintasi rute jalanan Kota Semarang. Semarang 10K merupakan ajang lari tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Semarang, Harian Kompas dan sejumlah pihak sponsor. Lari tidak hanya sebatas olahraga melainkan di antaranya sudah sebagai gaya hidup, tren, dan rekreasi. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 15-12-2024

Latihan daring, tulis Abah Ush, sangat fleksibel karena bisa dilakukan sesuai waktu pelarinya. Adapun inti kesuksesan dari latihan daring ialah adanya komunikasi yang baik antara pelatih dan pelarinya. Komunikasi ini bisa dilakukan kapan pun secara daring.

Itu sebabnya, imbuh Agung, saat ini pelatih lari terbagi dalam dua kategori pelatih, yaitu pelatih offline di lapangan dan pelatih daring.  Agung menyoroti, dua pelatih itu sesuai dengan cara berlatihnya—daring dan langsung tatap muka—sama-sama mendukung performa.

Namun, mengutip dari buku Abah Ush, ada kelebihan dan kekurangan dari dua cara latihan itu. Berlatih secara langsung di mana pelatih dan pelari bertemu fisik, pelatih dan pelari bisa berkomunikasi langsung di lapangan. Pelatih bisa langsung mengawasi latihan dan mengevaluasi latihan pelarinya. Akan tetapi, waktu pertemuan pelatih dan pelari bisa saja tidak pas sehingga sulit bertemu.

Refleksi pelari lintas komunitas di Kota Semarang, Jawa Tengah menggelar latihan untuk menjajal rute Semarang 10K pada, Sabtu (10/12/2022). Lari dengan agenda menjajal rute itu dimaksudkan agar para pelari tidak tersesat saat lomba. Jalur yang datar diharapkan bisa membuat pelari bisa meraih catatan waktu terbaiknya.

Sebaliknya, latihan secara daring membuat waktu latihan lebih efisien dan dapat saling menyesuaikan dengan kesibukan pelarinya. Pelari dan anak latihnya tidak perlu sibuk menentukan jadwal dan tempat latihan. Kekurangannya, pelatih tidak dapat melihat secara langsung bagaimana anak latihnya berlari dengan baik, dari cara ataupun segi kenyamanannya.

Nah, apabila Anda tergolong pelari rekreasional serius, silakan Anda pilih cara berlatih yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda.


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata