Lee Jae-myung, Mantan Buruh Anak Jadi Presiden Korsel

Presiden Korea Selatan terpilih, Lee Jae-myung (61), mengucapkan sumpah pelantikan dalam upacara sederhana di Gedung Majelis Nasional.

04 Jun 2025 11:17 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

SEOUL, RABU — Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung (61) dilantik dalam upacara sederhana di Gedung Majelis Nasional, Seoul, Rabu (4/6/2025), pukul 11.00 waktu setempat. Mantan pengacara itu antara lain harus segera menangani guncangan politik, ekonomi, geopolitik, dan pertahanan.

Ketua Partai Demokratik Korea itu menekankan soal kebahagiaan nasional. ”Saya mengambil langkah pertama hari ini sebagai Presiden ke-14 Republik Korea menuju republik demokrasi sejati. Sudah saatnya sepenuhnya membuka era kebahagiaan nasional,” kata Lee dalam pidato pelantikan dilansir dari Korea JoongAng.

Berdasarkan aspirasi 52 juta rakyat, Lee berjanji menghidupkan kembali mata pencarian, memulihkan pertumbuhan, dan menciptakan masa depan sembari memulihkan demokrasi. ”Kita harus mengganti kebencian dan konflik yang telah memecah belah kita dengan jembatan koeksistensi, rekonsiliasi, dan solidaritas,” tuturnya.

”Saya akan menjadi presiden untuk semua yang merangkul dan melayani setiap warga negara, terlepas dari siapa yang mereka dukung dalam pemilihan ini,” lanjutnya.

Lee juga kembali menekankan untuk mengupayakan dialog dengan Korea Utara. Kemitraan trilateral dengan Amerika Serikat dan Jepang akan diperkuat.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung (kiri) dan istrinya Kim Hye-kyung tiba untuk upacara pelantikannya di Majelis Nasional, Seoul, Rabu (4/6/2025)

Lee menggantikan Yoon Suk Yeol sebagai Presiden Korsel. Yoon yang disokong Partai Kekuatan Rakyat (PPP) itu dimakzulkan setelah memberlakukan darurat militer pada Desember 2024. Yoon beralasan, negara dalam kondisi genting karena ada kekuatan ”anti-negara” yang dipengaruhi Korea Utara dan China.

Pemerintahan Lee kemungkinan bakal berjalan lebih lancar ketimbang Yoon. Saat ini, kaum liberal juga menguasai Majelis Nasional.

Kaum konservatif sekarang khawatir Lee dan rekan-rekannya akan menggunakan kekuasaan untuk meloloskan undang-undang yang diblokir Yoon. Misalnya, RUU penguatan perlindungan serikat buruh terhadap tuntutan perusahaan dan perlindungan petani dari harga beras yang tidak stabil.

Janji Demokrat

Ada harapan dan kekhawatiran atas kemenangan Lee. Para pendukung menganggap dia cakap memperbaiki kesenjangan ekonomi dan korupsi yang mengakar di negara itu. Sementara, para kritikus menilai Lee akan menekan lawan politik dan memperparah perpecahan dalam negeri.

”Kemenangan Lee bukan berkat usulan kebijakan tertentu, melainkan hasil dari keruntuhan Yoon yang spektakuler,” kata Leif-Eric Easley, profesor di Universitas Ewha, kepada The Guardian.

Dalam kampanye, Lee mengatakan akan melakukan reformasi politik dan ekonomi untuk membantu negara pulih dari guncangan darurat militer dan perubahan geopolitik. Ekonomi Korsel sangat bergantung pada ekspor.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung (kanan) menyapa orang-orang saat meninggalkan rumahnya di Incheon, Korsel, Rabu (4/6/2025). Lee Jae-myung, tokoh kiri-tengah, dinyatakan sebagai presiden pada pemilu sela tanggal 4 Juni.

Di bidang ekonomi, Partai Demokrat secara khusus berjanji, antara lain meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan serta investasi kecerdasan buatan. Korsel tidak akan buru-buru mencapai kesepakatan dagang dengan AS soal tarif sehingga lebih fokus pada diversifikasi impor dan ekspor.

Terkait kebijakan luar negeri, Partai Demokrat bakal menjalin kerja sama yang lebih kuat dengan Dunia Selatan serta Uni Eropa. Lee turut berjanji melakukan diplomasi yang pragmatis, yakni menekankan pentingnya aliansi Korsel-AS dan kemitraan keamanan trilateral Seoul-Washington-Tokyo.

Lee ingin meredakan ketegangan dengan Korut sambil mempertahankan wacana denuklirisasi Semenanjung Korea. Lee pun memilih pendekatan seimbang terkait isu China-Taiwan, China, dan Rusia.

Untuk politik dalam negeri, Partai Demokrat memiliki sejumlah agenda guna menjaga stabilitas politik, demokrasi, dan sistem hukum, termasuk mempersulit penerapan darurat militer. Ada pula rencana dalam mengatasi masalah budaya kerja yang keras, depopulasi, dan perubahan iklim.

Buruh anak

Media Korsel sering menggambarkan Lee sebagai orang yang keras kepala dan penuh tekad. Lee lahir dari orangtua petani pada Oktober 1963 di Andong, Gyeongsang Utara, daerah yang berhaluan konservatif. Ia adalah satu dari tujuh bersaudara.

Pada 1976, keluarganya pindah ke kota industri waktu itu, yakni Seongnam, Gyeonggi. Setelah lulus sekolah dasar, ia bekerja sebagai buruh anak di berbagai pabrik di Seongnam, kota dekat Seoul. Keluarga tidak mampu membiayai sekolahnya lagi.

Di pabrik produsen sarung tangan bisbol, tangan kiri Lee yang berusia 13 tahun tergencet mesin press sehingga cacat permanen. Dia menjadi bulan-bulanan di pabrik. Lee juga benci bertemu seorang gadis jika sedang membantu ayahnya memulung di pasar.

Calon presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung dari Partai Demokrat bersiap dalam debat calon presiden yang disiarkan televisi untuk pemilihan presiden 3 Juni 2025 di studio SBS, Seoul, Korsel, Minggu (18/5/2025).

Putus asa, Lee mencoba bunuh diri dua kali, tetapi aksinya gagal. Dia kemudian bangkit dengan menyelesaikan sekolah dan kuliah hukum di Universitas Chung-Ang Seoul dengan beasiswa penuh. Lee lalu menjadi pengacara hak asasi manusia.

”Harapan dan cobaan selalu datang bersamaan. Cobaan bukanlah untuk membuat orang menyerah, tetapi menguji seberapa serius dan putus asa harapan mereka,” kata Lee dalam memoar tahun 2017.

Lee melanjutkan karier sebagai politisi vokal yang kontroversial. Ia awalnya menjadi Wali Kota Seongnam lalu Gubernur Gyeonggi. Pada 2016, Lee terkenal lantaran menyampaikan serangkaian pidato berapi-api mengkritik Presiden Park Geun-hye yang konservatif di jalan.

Pada 2022, Lee kalah dalam pemilihan presiden melawan Yoon. Tahun lalu, seorang pria menikam leher Lee agar dia tidak menjadi presiden.

Lee tidak luput dari masalah hukum. Ia didakwa dalam lima persidangan atas tuduhan korupsi dan lainnya.

Pada satu titik, ancaman hukum dapat mengganjal upayanya menjadi presiden. Untuk sekarang, posisinya aman sebab Konstitusi Korsel melarang presiden yang sedang menjabat didakwa atas sejumlah kejahatan. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari