Lemahnya Posisi Pelatih Kepala dalam Kasus Maresca,  Amorim, dan Alonso

Tren pergeseran peran dari manajer ke pelatih kepala menjelaskan penyebab pemecatan tiga pelatih klub besar. Posisi pelatih kepala rawan terusik.

16 Jan 2026 11:52 WIB · Olahraga

AP

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Belum genap sebulan semenjak tahun baru 2026, tiga peristiwa penting terjadi dalam sepak bola Eropa. Tiga klub besar, Chelsea, Manchester United, dan Real Madrid, berpisah dengan pelatih kepala mereka. Kepergian Ruben Amorim, Enzo Maresca, dan Xabi Alonso bukan kebetulan. Mereka adalah korban lemahnya posisi seorang pelatih kepala dalam klub.

Pemecatan ketiga pelatih klub besar itu terjadi pada waktu yang berdekatan. Performa tim bukanlah alasan utama pemecatan. Dalam kasus Amorim dan Maresca, mereka terdepak setelah mengkritik petinggi klub dalam sesi konferensi pers. Maresca mengungkapkannya dalam kiasan, bagaimana persiapannya jelang melawan Everton sebagai ”48 jam terburuk” selama karier kepelatihannya.

Lewat itu, Maresca secara tersirat mengatakan minimnya dukungan yang dia dapat dari manajemen Chelsea. Amorim pun mengungkapkan rasa frustrasinya dengan keadaan di MU. Dia mengatakan datang ke klub untuk peran sebagai manajer, bukan pelatih kepala. Kenyataannya, Amorim memang direkrut sebagai pelatih kepala.

Posisi pelatih kepala menjadi sangat problematik dalam kasus Amorim dan Maresca. Sejak 18 tahun belakangan, terjadi pergeseran otoritas dari manajer ke pelatih kepala dalam satu klub Liga Inggris. Saat ini, hanya ada lima klub yang mempekerjakan pelatih dengan jabatan resmi sebagai manajer, yaitu Arsenal, Manchester City, Crystal Palace, Aston Villa, dan Leeds United.

Meski terdengar sederhana, nyatanya otoritas pelatih kepala dan manajer sangat timpang. Manajer seperti Pep Guardiola, Juergen Klopp, atau dulu Sir Alex Ferguson serta Arsene Wenger punya kendali yang besar atas tugas-tugas di luar kepelatihan. Mereka juga bertanggung jawab atas transfer klub, hubungan dengan akademi, serta operasi keseharian klub tersebut.

Manchester United's head coach Ruben Amorim reacts during the English Premier League soccer match between Liverpool and Manchester United in Liverpool, England, Sunday, Oct. 19, 2025. (AP Photo/Ian Hodgson)

Sementara kewenangan pelatih kepala sebatas melatih. Merekalah yang bertugas merumuskan strategi tim, menentukan susunan pemain mula, dan memimpin sesi latihan. Secara sederhana, tugas pelatih hanya beredar di seputar urusan atas lapangan.

”Sebagai pelatih kepala, Anda berbicara tentang sistem dan taktik sepak bola. Tapi itu hanya 10 persen dari pekerjaan. Pekerjaan sebenarnya adalah menciptakan semangat, energi, dan budaya,” kata suksesor Maresca, Liam Rosenior.

Munculnya friksi

Dari jurang perbedaan wewenang itulah friksi sering muncul di antara pelatih kepala dan manajemen klub, terutama untuk urusan perekrutan pemain. Pelatih kepala tidak diragukan lagi adalah orang yang paling tahu kebutuhan timnya.

Quote

Perebutan kekuasaan, baik dengan para eksekutif klub (Amorim), karyawan klub (Maresca), maupun pemain (Alonso), pada akhirnya menjadi akar penyebab berakhirnya setiap masa jabatan.

Hanya saja sering kali permintaan untuk menutupi kebutuhan itu diabaikan oleh petinggi klub. Maresca menginginkan bek tengah baru setelah Levi Colwill cedera. Namun, ia justru diminta mencari solusi dengan para pemain yang ada.

Situasi bertolak belakang dialami Mikel Arteta sebagai manajer di Arsenal. Arteta bisa dengan leluasa bermanuver di bursa transfer saat merekrut Mikel Merino dari Real Sociedad pada 2024. Upaya transfer Merino berbuah hasil meski beberapa pihak di Arsenal, kecuali Areteta tentunya, yang terlibat dalam perekrutan itu meragukan kemampuan Merino dan biaya transfernya.

Chelsea's Italian head coach Enzo Maresca shouts instructions to the players from the touchline during the English Premier League football match between Chelsea and Aston Villa at Stamford Bridge in London on December 1, 2024. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

”Perebutan kekuasaan, baik dengan para eksekutif klub (Amorim), karyawan klub (Maresca), maupun pemain (Alonso), pada akhirnya menjadi akar penyebab berakhirnya setiap masa jabatan,” kata mantan manajer Middlesbrough dan pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, dalam unggahannya di Linkedin.

Southgate menilai peran manajer sepak bola yang kini banyak bergeser menjadi pelatih kepala memiliki porsi besar dalam kasus pemecatan Amorim dan Maresca. Posisi pelatih kian rentan dengan meluasnya peran direktur entah itu direktur sepak bola, teknik, atau olahraga.

Para direktur ini, yang sering kali minim pengalaman melatih, turut mengawasi strategi sepak bola jangka panjang. Mereka juga bisa melapor langsung kepada chief executive officer (CEO) atau pemilik klub. Posisi direktur pun secara struktural berada di atas pelatih kepala.

Sementara untuk kasus Alonso, pemecatannya terjadi karena friksi dengan para pemain, bukan manajemen atau petinggi klub. Alonso datang membawa sistem yang membuatnya sukses di Bayer Leverkusen. Sejak awal Alonso yang pernah bermain untuk Real tahu sistem itu akan menemui hambatan luar biasa dengan kultur klub yang dipenuhi pemain bintang. Alonso pada akhirnya berkompromi atau melakukan penyesuaian kecil, langkah yang menyebabkan Real bermain tanpa karakter jelas.

Penyesuaian kecil pun tidak mencegah Alonso dari terlibat perbedaan pendapat dengan para pemain, seperti Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan Federico Valverde. Vinicius enggan terlibat menekan sejak lawan membangun serangan dari belakang. Dia pun kerap tidak ikut turun membantu pertahanan secara kolektif, sedangkan Valverde mengeluh tidak nyaman bermain di posisi bek kanan.

Real Madrid's head coach Xabi Alonso gestures during the Spanish Super Cup semifinal soccer match against Atletico Madrid at King Abdullah Sports City Stadium in Jeddah, Saudi Arabia, Thursday, Jan. 8, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

Petinggi Real membaca situasi itu. Sebagai klub dengan orientasi bisnis yang kuat, manajemen tentu akan lebih berpihak kepada pemain yang juga merupakan aset klub bernilai tinggi. Dalam hal ini, manajemen Real seperti berpegang pada apa yang Simon Kuper dan Stefan Szymanski utarakan dalam bukunya Soccernomics. Menurut mereka, hanya satu dari 10 pelatih yang benar-benar berperan dalam kesuksesan tim. Sumber trofi dan kejayaan lebih besar berasal dari kerja keras dan peran dari pemain (mahal).

Dari sini saja sudah tergambar betapa lemahnya posisi Alonso sebagai pelatih kepala. Belum lagi dia gagal menciptakan konsistensi bagi Real dalam beberapa pekan terakhir.

Piala Super Spanyol tiada ubahnya medan ujian bagi Alonso. Pada akhirnya, dia gagal. Trofi direbut Barcelona dan dari sana manajemen Real sudah tidak lagi memiliki beban untuk memecat Alonso. (BBC)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra