SEPAK BOLA

Liga Champions Terlalu Kejam untuk ”Calcio”

Pundak Atalanta tak mampu memanggul beban martabat Liga Italia. Pembenahan akademi jadi syarat klub Italia mengatasi ketertinggalan kualitas dari para raksasa Eropa.

19 Mar 2026 08:34 WIB · Olahraga

AP PHOTO/TOM WELLER

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Liga Champions edisi 2025-2026 terasa amat kejam bagi sepak bola Italia alias calcio. Berstatus sebagai satu-satunya duta Italia di babak perempat final, Atalanta justru mengalami kekalahan agregat terburuk bagi tim asal ”Negeri Espreso” itu dalam sejarah Liga Champions Eropa. Di sisi lain, tim nasional sepak bola Italia terancam kehilangan pemain andalan di babak playoff Piala Dunia 2026.

Atalanta benar-benar tidak berdaya di hadapan raksasa Jerman, Bayern Muenchen. Pada laga kedua babak 16 besar Liga Champions, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB, di Stadion Allianz Arena, Muenchen, Jerman, Atalanta harus bertekuk lutut dengan kekalahan 1-4.

”Si Dewi” tidak berdaya untuk menghentikan trisula lini serang Bayern. Mereka adalah Harry Kane yang mencetak dua gol pada menit ke-25 dan ke-54 lalu Lennart Karl dan Luis Diaz yang masing-masing menambah derita Atalanta pada menit ke-56 dan ke-70. Sebuah gol hiburan tim asal Bergamo itu dihasilkan melalui sundulan pemain pengganti, Lazar Samardzic.

Meskipun mendapat dukungan sekitar 4.000 suporter setia yang rela datang dari Italia, Atalanta benar-benar tidak mampu mengimbangi performa dan kualitas superior skuad Bayern. Hasilnya, mereka gugur dari kompetisi antarklub terbaik Eropa itu karena kalah agregat secara mutlak, 2-10.

Tak ayal, Atalanta menorehkan catatan terburuk bagi wakil Italia di kompetisi Eropa. Mereka menjadi tim Italia pertama yang mencatat kekalahan agregat terburuk di fase gugur Liga Champions.

Bayern Munich's Raphaël Guerreiro celebrates after Lennart Karl scores to make it 3-0 against Atalanta Bergamo, Wednesday, March 18, 2026, in Munich, Germany. (Tom Weller/dpa via AP)

Sebelumnya, tidak ada tim Italia yang pernah kalah agregat dengan selisih lebih dari lima gol. Catatan Atalanta itu lebih menyakitkan dibandingkan kekalahan AC Milan 2-7 dari Manchester United di babak 16 besar 2009-2010, AS Roma 3-8 juga dari MU pada perempat final edisi 2006-2007, dan Juventus 3-8 dari Wiener Sport-Club pada babak playoff babak utama musim 1958–1959.

Kekalahan telak yang dialami Atalanta dari Bayern merangkum sinyal penurunan kualitas tim-tim Italia di ranah kontinental. Dua klub Italia dengan skuad termahal—merujuk nilai pasar Transfermarkt—Inter Milan (Rp 483,9 miliar) dan Juventus (Rp 389,5 miliar) tersingkir pada playoff babak 16 besar oleh tim yang berasal dari negara medioker di Eropa, yaitu Bodo/Glimt (Norwegia) dan Galatasaray (Turki).

Napoli, yang berstatus juara bertahan Liga Italia, bernasib lebih tragis. Mereka gagal sekadar menembus zona 24 besar agar tidak tersingkir sejak dini atau di fase liga.

Quote

Kami harus melakukan perubahan dari pembinaan akademi. Sebab, ketika kami bermain melawan tim seperti Bayern Muenchen, kami seperti berasal dari olahraga yang berbeda.

Pelatih Atalanta Raffaele Palladino menyebut bahwa Bayern adalah salah satu tim terbaik di dunia saat ini dan kandidat kuat juara Liga Champions. Dalam tangkapan kamera televisi seusai laga, Palladino tidak segan memuji performa ”Die Roten” dalam dua laga ketika bersalaman dengan Pelatih Bayern Vincent Kompany setelah peluit akhir. Kompany pun tersenyum menerima kata-kata positif dari Palladino.

Terlepas dari kualitas Bayern, Palladino menyebut permainan tim-tim Italia harus berubah pesat demi bisa bersaing di Eropa. Ia menekankan, alur bola di Liga Italia amat lambat sehingga menyebabkan klub Italia kesulitan mengimbangi tensi permainan di kompetisi Eropa.

Bayern Munich's Jonathan Tah heads the ball over Atalanta Bergamo's Nikola Krstovic, Wednesday, March 18, 2026, in Munich, Germany. (Tom Weller/dpa via AP)

”Perbedaan mencolok adalah betapa cepatnya bola bergulir di lapangan. Anda mungkin tidak menyadari itu lewat televisi, tetapi kami merasakan kecepatan operan yang sulit diimbangi,” kata Palladino kepada Sky Sport Italia.

”Mereka (Bayern) selalu memberikan operan ke kaki yang tepat, mengontrol tempo permainan, mengelabui bek-bek kami, dan juga berada dalam kecepatan lebih baik dalam situasi lari cepat (sprint),” ujar Palladino kemudian.

Revolusi akademi

Lebih lanjut, Palladino menyebut perubahan nasib wakil Italia di Liga Champions hanya bisa dilakukan dengan revolusi dari sistem pembinaan. Menurut dia, akademi Italia sudah usang karena tidak mampu lagi melahirkan bakat-bakat terbaik untuk bersaing di level Eropa.

”Kami harus melakukan perubahan dari pembinaan akademi. Sebab, ketika kami bermain melawan tim seperti Bayern Muenchen, kami seperti berasal dari olahraga yang berbeda,” kata Palladino.

”Kami harus lebih fokus pada perkembangan individu dan kemampuan dasar di tahun-tahun awal pemain. Hal itu yang memberikan perbedaan jelas,” ujarnya kemudian.

infografik
16 Besar Liga Champions Laga 2

Pernyataan Palladino itu sejalan dengan kehadiran bintang-bintang muda di Liga Italia musim ini yang bukan produk akademi Italia. Merujuk laman statistik Sofascore, lima besar pemain kategori di bawah usia 23 (U-23) dengan nilai tertinggi hanya satu yang berstatus homegrown atau produk akademi Italia. Ia adalah Matias Soule (Roma), lulusan akademi Juve.

Empat pemain lain ialah Kenan Yildiz (Juve) yang dibina sejak anak-anak di akademi Bayern; lalu duo Como, Nico Paz dan Jacobo Ramon, yang dibesarkan akademi Real Madrid; serta Wesley (Roma) yang ditempa oleh sistem pembinaan klub Brasil, Flamengo.

Di laman statistik lain, Fotmob, Yildiz, Paz, dan Ramon juga memiliki nilai tertinggi untuk pemain U-23 di Liga Italia musim ini. Mereka diikuti Maximo Perrone (Como) yang sempat dididik Manchester City dan Marin Baturina (Como) yang merupakan produk akademi Dinamo Zagreb di Kroasia. Dalam penilaian Fotmob, pemain U-23 hasil binaan Italia yang cemerlang hanya bek Atalanta, Giorgio Scalvini.

Ancaman timnas Italia

Selain hilangnya duta Italia di fase gugur, Liga Champions musim ini juga menjadi mimpi buruk bagi pemain-pemain Italia. Sandro Tonali, gelandang Newcastle United, hanya mampu berlaga selama 55 menit ketika ”The Magpies” dihancurkan Barcelona 2-7 di Stadion Camp Nou, Kamis WIB.

Tonali menderita cedera. Kondisinya itu menimbulkan kekhawatiran bagi kedalaman skuad timnas Italia jelang bertarung di laga babak playoff zona Eropa Piala Dunia 2026 pada akhir Maret ini.

Newcastle's Sandro Tonali celebrates after scoring during the Champions League second leg playoff match between Newcastle and Qarabag in Newcastle, England, Tuesday, Feb. 24, 2026. (Owen Humphreys/PA via AP)

Manajer Newcastle Eddie Howe telah mengonfirmasi gelandang andalannya itu berpeluang absen pada laga Liga Inggris sebelum jeda internasional kontra Sunderland, Minggu (22/3/2026). ”Sepertinya dia (Tonali) mengalami masalah di pangkal paha. Kami sangat kehilangan kemampuannya di babak kedua,” ujar Howe dilansir BBC.

Padahal, Tonali tidak tergantikan bagi Italia di kualifikasi Piala Dunia 2026. Ia bermain dalam tujuh laga beruntun.

Satu-satunya laga saat ia absen adalah ketika Italia tumbang 1-4 dari Norwegia, 17 November lalu. Kekalahan di Stadion San Siro itu menyebabkan ”Gli Azzurri” kalah dalam persaingan tiket langsung ke Amerika Utara 2026 dari Norwegia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan