Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut ini?
- Bagaimana hasil pertandingan leg kedua playoff 16 besar Liga Champions?
- Mengapa klub Serie A terpuruk pada musim ini?
- Mengapa Bodo/Glimt bisa menjungkalkan Inter Milan?
- Bagaimana Real Madrid lolos dari hadangan Benfica?
Bagaimana hasil pertandingan leg kedua playoff 16 besar Liga Champions?
Bayang-bayang tanpa wakil di babak 16 besar Liga Champions menghantui Italia setelah peraih scudetto musim lalu, Napoli, tersingkir sejak fase liga, dan pemuncak klasemen musim ini, Inter Milan, gugur pada babak playoff. Lalu, Atalanta kembali muncul sebagai andalan. ”La Dea” atau ”Sang Dewi” lagi-lagi jadi penyelamat wajah Italia di kancah Eropa lewat rimonta dramatisnya.
Stadion Bergamo, Italia, Rabu (25/2/2026) malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB, jadi saksi kegemilangan Atalanta pada laga kedua babak playoff. Untuk menang atas Borussia Dortmund, Atalanta tahu bahwa mereka harus bisa menciptakan keunggulan minimal tiga gol setelah kalah 0-2 pada pertemuan pertama di markas lawan.
Sang Dewi mewujudkan misi berat itu dengan menang 4-1 untuk melaju ke babak 16 besar lewat agregat 4-3. Keunggulan yang diinginkan itu bahkan sudah tercipta kurang dari satu jam laga lewat gol Gianluca Scamacca pada menit ke-5, Davide Zappacosta (45’), dan Mario Pasalic (57’). Gol penalti Lazar Samardzic pada pengujung laga memastikan kemenangan Atalanta.
Memang, tidak banyak yang menyangka Atalanta yang akhirnya akan melaju lebih jauh dari wakil Italia lainnya. Apalagi, peluang Atalanta dinilai cukup berat karena harus menantang finalis musim 2023-2024, Borussia Dortmund. Kekalahan 0-2 pada pertemuan pertama mempertegas hal itu.
Mengapa klub Serie A terpuruk pada musim ini?
Anomali tengah terjadi pada sepak bola Italia saat ini. Wakil-wakil Liga Italia satu per satu gugur di Liga Champions. Di sisi lain, para pemain Italia yang berkarier di luar negeri justru menjadi tulang punggung utama timnya untuk terus melaju di kompetisi antarklub terelite di Eropa itu.
Inter Milan, pemuncak klasemen sementara sekaligus kandidat terkuat scudetto Serie A Italia, sudah tersisih dari persaingan Liga Champions. Dua kali ”I Nerazzurri” tumbang dari duta Norwegia, Bodo/Glimt. Secara mengejutkan, Inter kalah agregat 2-5.
Sebelumnya, Napoli juga sudah lebih dulu menutup petualangan mereka di Liga Champions. Berstatus juara bertahan Liga Italia, Napoli tersisih dari fase grup. Performa anak asuhan Antonio Conte ini tidak mampu membawa mereka berada di zona 24 besar demi melaju ke playoff babak gugur.
Italia pun berpeluang mencatatkan sejarah kelam di era modern Liga Champions. Untuk pertama kalinya, tidak ada wakil Italia di babak 16 besar.
Dalam kolom khusus di La Gazzetta dello Sport, Arrigo Sacchi menyebut ada tiga faktor yang membuatnya yakin Inter bisa membalikkan ketertinggalan agregat 1-3 pada laga kedua di Stadion San Siro, Rabu (25/2/2026) WIB. Harapan itu berujung semu setelah Inter kalah 1-2 dari Bodo/Glimt di depan pendukung sendiri.
Mengapa Bodo/Glimt bisa menjungkalkan Inter Milan?
Stadion San Siro di kota Milan sudah tidak layak disebut sebagai cattedrale del calcio alias katedral sepak bola Italia, tetapi lebih cocok dianggap sebagai cimitero del calcio atau makam sepak bola. Di arena ikonik itu, ambisi dua tim Italia pupus dalam tiga bulan terakhir.
Performa buruk disaksikan publik Italia ketika menyaksikan tim nasional mereka dipermalukan 1-4 oleh Norwegia pada laga pamungkas fase grup kualifikasi Piala Dunia 2026, November 2025. Hasil itu menyebabkan Italia harus menempuh jalur playoff demi memperebutkan satu tiket tersisa menuju Amerika Utara, musim panas mendatang.
Berselang tiga bulan, giliran klub asal Norwegia, Bodo/Glimt, menyingkirkan kesebelasan terbaik Italia saat ini, Inter Milan. Bodo/Glimt menumbangkan Inter 2-1 pada laga kedua playoff babak gugur Liga Champions 2025-2026, Rabu (25/2/2026) dini hari WIB.
”I Nerazzurri” menelan kekalahan agregat 2-5 dari klub Norwegia itu. Performa Inter jauh menurun dibandingkan dengan capaian mereka menembus babak final pada edisi 2024-2025 lalu. Bahkan, Inter adalah finalis kompetisi antarklub terbaik Eropa itu dalam dua dari tiga edisi sebelumnya.
Bagaimana Real Madrid lolos dari hadangan Benfica?
Siklus Real Madrid jelang mencapai fase gugur Liga Champions Eropa senantiasa berkutat pada Benfica. Kelolosan otomatis Real ke 16 besar sempat rusak akibat kemenangan dramatis Benfica pada laga pamungkas fase liga. Mental juara Real mencegah Benfica mengulangi keajaiban serupa.
Pada laga playoff 16 besar, Real mengembalikan takdir Benfica yang sejak awal memang tidak digariskan untuk melaju ke fase gugur. Duel penentuan di Stadion Bernabeu, Madrid, Kamis (26/2/2026) dini hari WIB akhirnya dimenangi Real 2-1. Real pun unggul 3-1 secara agregat. Dengan demikian, ”Los Blancos” yang sebelumnya berpisah sementara akhirnya berhasil kembali ke pelukan 16 besar.
Sebagai tim yang ulet, tidak mudah bagi Real menaklukkan Benfica. Sekalipun tidak didampingi Pelatih Jose Mourinho dari tepi lapangan akibat hukuman kartu, Benfica tetap bisa menyulitkan Real yang tampil di hadapan puluhan ribu pendukungnya.
Kombinasi Amar Dedic dan Richard Rios di sayap kanan selalu menyulitkan sisi kiri pertahanan Real yang dikawal Alvaro Carreras serta Eduardo Camavinga. Gol Benfica yang dilesakkan Rafa Silva pada menit ke-14 berawal dari ”kebocoran” pada area pertahanan yang dijaga dua pemain itu.
Pelatih Real Alvaro Arbeloa menginstruksikan Carreras untuk lebih naik membantu serangan demi mengamankan posisi Real. Akan tetapi, ruang yang ditinggalkan Carreras tidak mampu ditutupi secara sempurna oleh Camavinga.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut ini?
- Bagaimana hasil pertandingan leg kedua playoff 16 besar Liga Champions?
- Mengapa klub Serie A terpuruk pada musim ini?
- Mengapa Bodo/Glimt bisa menjungkalkan Inter Milan?
- Bagaimana Real Madrid lolos dari hadangan Benfica?
Bagaimana hasil pertandingan leg kedua playoff 16 besar Liga Champions?
Bayang-bayang tanpa wakil di babak 16 besar Liga Champions menghantui Italia setelah peraih scudetto musim lalu, Napoli, tersingkir sejak fase liga, dan pemuncak klasemen musim ini, Inter Milan, gugur pada babak playoff. Lalu, Atalanta kembali muncul sebagai andalan. ”La Dea” atau ”Sang Dewi” lagi-lagi jadi penyelamat wajah Italia di kancah Eropa lewat rimonta dramatisnya.
Stadion Bergamo, Italia, Rabu (25/2/2026) malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB, jadi saksi kegemilangan Atalanta pada laga kedua babak playoff. Untuk menang atas Borussia Dortmund, Atalanta tahu bahwa mereka harus bisa menciptakan keunggulan minimal tiga gol setelah kalah 0-2 pada pertemuan pertama di markas lawan.
Sang Dewi mewujudkan misi berat itu dengan menang 4-1 untuk melaju ke babak 16 besar lewat agregat 4-3. Keunggulan yang diinginkan itu bahkan sudah tercipta kurang dari satu jam laga lewat gol Gianluca Scamacca pada menit ke-5, Davide Zappacosta (45’), dan Mario Pasalic (57’). Gol penalti Lazar Samardzic pada pengujung laga memastikan kemenangan Atalanta.
Memang, tidak banyak yang menyangka Atalanta yang akhirnya akan melaju lebih jauh dari wakil Italia lainnya. Apalagi, peluang Atalanta dinilai cukup berat karena harus menantang finalis musim 2023-2024, Borussia Dortmund. Kekalahan 0-2 pada pertemuan pertama mempertegas hal itu.
Mengapa klub Serie A terpuruk pada musim ini?
Anomali tengah terjadi pada sepak bola Italia saat ini. Wakil-wakil Liga Italia satu per satu gugur di Liga Champions. Di sisi lain, para pemain Italia yang berkarier di luar negeri justru menjadi tulang punggung utama timnya untuk terus melaju di kompetisi antarklub terelite di Eropa itu.
Inter Milan, pemuncak klasemen sementara sekaligus kandidat terkuat scudetto Serie A Italia, sudah tersisih dari persaingan Liga Champions. Dua kali ”I Nerazzurri” tumbang dari duta Norwegia, Bodo/Glimt. Secara mengejutkan, Inter kalah agregat 2-5.
Sebelumnya, Napoli juga sudah lebih dulu menutup petualangan mereka di Liga Champions. Berstatus juara bertahan Liga Italia, Napoli tersisih dari fase grup. Performa anak asuhan Antonio Conte ini tidak mampu membawa mereka berada di zona 24 besar demi melaju ke playoff babak gugur.
Italia pun berpeluang mencatatkan sejarah kelam di era modern Liga Champions. Untuk pertama kalinya, tidak ada wakil Italia di babak 16 besar.
Dalam kolom khusus di La Gazzetta dello Sport, Arrigo Sacchi menyebut ada tiga faktor yang membuatnya yakin Inter bisa membalikkan ketertinggalan agregat 1-3 pada laga kedua di Stadion San Siro, Rabu (25/2/2026) WIB. Harapan itu berujung semu setelah Inter kalah 1-2 dari Bodo/Glimt di depan pendukung sendiri.
Mengapa Bodo/Glimt bisa menjungkalkan Inter Milan?
Stadion San Siro di kota Milan sudah tidak layak disebut sebagai cattedrale del calcio alias katedral sepak bola Italia, tetapi lebih cocok dianggap sebagai cimitero del calcio atau makam sepak bola. Di arena ikonik itu, ambisi dua tim Italia pupus dalam tiga bulan terakhir.
Performa buruk disaksikan publik Italia ketika menyaksikan tim nasional mereka dipermalukan 1-4 oleh Norwegia pada laga pamungkas fase grup kualifikasi Piala Dunia 2026, November 2025. Hasil itu menyebabkan Italia harus menempuh jalur playoff demi memperebutkan satu tiket tersisa menuju Amerika Utara, musim panas mendatang.
Berselang tiga bulan, giliran klub asal Norwegia, Bodo/Glimt, menyingkirkan kesebelasan terbaik Italia saat ini, Inter Milan. Bodo/Glimt menumbangkan Inter 2-1 pada laga kedua playoff babak gugur Liga Champions 2025-2026, Rabu (25/2/2026) dini hari WIB.
”I Nerazzurri” menelan kekalahan agregat 2-5 dari klub Norwegia itu. Performa Inter jauh menurun dibandingkan dengan capaian mereka menembus babak final pada edisi 2024-2025 lalu. Bahkan, Inter adalah finalis kompetisi antarklub terbaik Eropa itu dalam dua dari tiga edisi sebelumnya.
Bagaimana Real Madrid lolos dari hadangan Benfica?
Siklus Real Madrid jelang mencapai fase gugur Liga Champions Eropa senantiasa berkutat pada Benfica. Kelolosan otomatis Real ke 16 besar sempat rusak akibat kemenangan dramatis Benfica pada laga pamungkas fase liga. Mental juara Real mencegah Benfica mengulangi keajaiban serupa.
Pada laga playoff 16 besar, Real mengembalikan takdir Benfica yang sejak awal memang tidak digariskan untuk melaju ke fase gugur. Duel penentuan di Stadion Bernabeu, Madrid, Kamis (26/2/2026) dini hari WIB akhirnya dimenangi Real 2-1. Real pun unggul 3-1 secara agregat. Dengan demikian, ”Los Blancos” yang sebelumnya berpisah sementara akhirnya berhasil kembali ke pelukan 16 besar.
Sebagai tim yang ulet, tidak mudah bagi Real menaklukkan Benfica. Sekalipun tidak didampingi Pelatih Jose Mourinho dari tepi lapangan akibat hukuman kartu, Benfica tetap bisa menyulitkan Real yang tampil di hadapan puluhan ribu pendukungnya.
Kombinasi Amar Dedic dan Richard Rios di sayap kanan selalu menyulitkan sisi kiri pertahanan Real yang dikawal Alvaro Carreras serta Eduardo Camavinga. Gol Benfica yang dilesakkan Rafa Silva pada menit ke-14 berawal dari ”kebocoran” pada area pertahanan yang dijaga dua pemain itu.
Pelatih Real Alvaro Arbeloa menginstruksikan Carreras untuk lebih naik membantu serangan demi mengamankan posisi Real. Akan tetapi, ruang yang ditinggalkan Carreras tidak mampu ditutupi secara sempurna oleh Camavinga.