Foto jurnalistik yang kuat dapat mengguncang opini publik sekaligus menjadi bukti penting atas tindakan aparat.
02 Feb 2026 07:09 WIB · Internasional
AP/Alex Kormann/Star Tribune
Sebuah foto yang memperlihatkan perlakuan petugas penegak hukum imigrasi (ICE) saat menahan seorang demonstran di Minneapolis menggemparkan publik di Amerika Serikat. Dalam foto itu, terlihat dua petugas menahan demonstan yang posisinya tertelungkup dengan tangan berada di punggungnya. Sementara itu, petugas ketiga terlihat sedang menyemprotkan cairan kimia berwarna kuning dari sebuah tabung, dari jarak yang sangat dekat. Hanya berjarak beberapa inci dari wajah demonstran. Cairan kuning segera mengalir ke pipinya, sebagian terciprat ke trotoar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/02/846c2fba-eefa-430d-8085-62063ef91113.jpg)
Foto karya fotografer Minnesota Star Tribune, Richard Tsong-Taatarii, ini dipasang sebagai foto utama di halaman depan pada 23 Januari 2026. Segera setelah tayang, foto penangkapan demonstran ini menjadi gambar yang ikonik.
Format foto mendatar berukuran lima kolom dari format koran enam kolom ini terasa besar dan menonjol. Sebagian pembaca memaknai foto ini sebagai kekejaman yang sadis dan membuat banyak warga yang melihat foto itu merasa marah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/02/004757c2-6fa7-4806-9d46-093499fa03d6.jpg)
Saat kejadian, Richard yang tiba di lokasi segera memfokuskan lensanya pada seorang demonstran yang jatuh ke tanah. Posisinya menempatkan sudut yang sempurna untuk mengambil foto yang sangat detail.
Namun, sang empunya foto berpendapat lain. ”Saya hanya mencoba mendokumentasikan dan menyajikan bukti serta membiarkan orang-orang memutuskan sendiri,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/3422d071bb8ebea15e7e702d85a77559-cropped_image.jpg)
Selama Januari, Minnesota Star Tribune telah menerbitkan berbagai berita dan kejadian yang penting. Salah satunya adalah mengungkap identitas petugas penegak hukum yang menembak Renee Good. Selain itu juga menghasilkan berbagai artikel informatif dan instruktif.
Foto Richard Tsong-Taatarii tentang seorang demonstran yang tergeletak dan disemprot dari jarak sangat dekat dengan zat kimia di wajahnya dan sejumlah tindakan ICE telah mengubah cara media tersebut dalam menyajikan berita. Selain itu, di saat banyak surat kabar regional tak berdaya karena penurunan jurnalisme sebagai bisnis, koran ini berhasil mempertahankan jumlah staf yang relatif stabil.
Saat perhatian seluruh Amerika tertuju pada kerusuhan di Menneapolis, rangkaian peristiwa tersebut tidak membuat para jurnalis lokal kewalahan. Salah satu penyebabnya adalah komitmen transformasi digital yang sudah dilakukan sejak 2014.
”Jika Anda tidak berinvestasi di ruang redaksi, Anda tidak akan bisa bereaksi seperti itu,” kata Steve Grove, penerbit dan kepala eksekutif Star Tribune.
Minneapolis memiliki tradisi jurnalisme yang kuat, terutama di radio dan televisi publik. Sahan Journal, sebuah ruang berita digital yang berfokus pada imigran dan komunitas yang beragam, juga telah membedakan dirinya dengan meliput upaya imigrasi Presiden AS Donald Trump dan tanggapan publik.
Meskipun media nasional telah menunjukkan kehadirannya, tim lokal yang kuat menawarkan keuntungan dalam cerita-cerita yang disajikan. Josie Albertson-Grove dari Star Tribune adalah salah satu jurnalis pertama yang tiba di lokasi kejadian setelah perawat ICU, Alex Pretti, ditembak mati pada 24 Januari.
Dia tinggal sekitar satu blok dari sana. Pengetahuannya tentang lingkungan dan penduduknya membantu merekonstruksi dengan cepat apa yang terjadi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/14e45008190fe74373d79af2fff53171-cropped_image.jpg)
Seusai penembakan Good, reporter Minnesota Star Tribune, Liz Sawyer, bersama dengan rekannya, Andy Mannix dan Sarah Nelson, mengembangkan sumber yang membantunya untuk melaporkan siapa yang menembak Good. Sebuah artikel lain karya Kim Hyatt dan Louis Krauss dari media yang sama memerinci konsekuensi kesehatan dari bahan kimia iritan yang digunakan oleh penegak hukum, seusai foto Richard Tsong-Taatarii beredar luas.
Kejadian-kejadian besar di Minneapolis, seperti kasus George Floyd, penembakan anggota parlemen, dan peristiwa penembakan oleh seorang pria di sebuah sekolah, memaksa perubahan bekerja di dunia media.
Selain penekanan pada foto dan video, beberapa media nasional lainnya mengatur ulang staf untuk meliput berita tersebut secara agresif melalui blog langsung yang terus diperbarui di situs web mereka. Dari sini, lalu lintas ke web mereka meningkat lebih dari 50 persen dan meningkatkan jumlah pelanggan berbayar. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra