Juventus telah berada di jalur yang tepat untuk mengejar zona empat besar. Luciano Spalletti bawa Juve kembali mementingkan hasil di atas permainan dominan.
21 Des 2025 15:13 WIB · Olahraga
AFP
Melatih Juventus, tim tersukses di Liga Italia, bukan tugas yang mudah. Dua pelatih muda, Thiago Motta dan Igor Tudor, telah merasakan hal itu. Keduanya gagal memenuhi ekspektasi untuk membawa ”Si Nyonya Besar” tampil konsisten dan bersaing di papan atas.
Satu kesalahan serupa yang dilakukan oleh Motta dan Tudor adalah ingin menyajikan permainan modern di Juve. Sepak bola menyerang yang mengutamakan kontrol dengan zona permainan vertikal yang dominan.
Hasilnya, Juve memulai dua musim beruntun dengan tidak cemerlang. Bersama Motta, Si Nyonya Besar hanya mengemas 1,8 poin per gim pada musim 2024-2025.
Satu musim berselang, Tudor, mantan bek Juve pada awal 2000-an, juga tidak mampu menularkan mental bertandingnya ketika masih berstatus sebagai pemain. Menangani Juve dalam delapan gim, catatan yang diberikan Tudor hanya 1,5 poin per laga.
Kedatangan Luciano Spalletti menjadi harapan baru bagi Juve di sisa musim 2025-2026. Tidak muluk-muluk, manajemen Juve hanya berambisi konsisten menembus zona empat besar pada akhir musim ini, alih-alih bersaing meraih scudetto.
Spalletti, yang datang ke Turin dengan bekal satu gelar Liga Italia untuk Napoli, perlahan memberikan tajinya untuk membenahi berbagai masalah kompleks di dalam skuad Juve.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/294e3896ad77ecf028621bd2099e0ab9-FBL_ITA_SERIE_A_JUVENTUS_ROMA_134847477.jpg)
Performa individu pemain dibenahi. Dua penyerang yang didatangkan pada musim panas lalu, yakni Jonathan David dan Lois Openda telah membuka keran gol mereka di bawah rezim Spalletti.
Openda khususnya mempersembahkan salah satu gol bagi kemenangan 2-1 Juve atas AS Roma, Minggu (21/12/2025) dini hari WIB, di Stadion Allianz Arena. Satu gol Si Nyonya Besar lainnya diciptakan oleh Francisco Conceicao.
Dua kemenangan beruntun yang kami dapatkan memberikan pelajaran berharga untuk menghadapi laga-laga berikutnya dan menghadirkan kepercayaan diri untuk kemampuan bertarung melawan siapa pun.
Hasil positif itu adalah catatan kemenangan ketiga beruntun Juve di seluruh ajang di bulan Desember. Khusus di Liga Italia, Juve sudah memenangi dua duel beruntun kontra Bologna dan Roma yang merupakan pesaing langsung untuk masuk ke zona empat besar.
Dua kemenangan berturut-turut itu membantu Juve kokoh di peringkat kelima dengan koleksi 29 poin. Si Nyonya Besar tinggal terpaut satu poin dengan ”Si Serigala”, julukan Roma yang mengusai posisi keempat.
Kesempatan Juve untuk masuk ke zona elite yang bakal mengunci tiket Liga Champions itu cukup besar hingga pertengahan Januari. Setelah unggul atas Bologna dan Roma yang menjadi ujian penting bagi Spalletti, Juve akan lima gim beruntun pada periode Desember 2025-Januari 2026 dengan menghadapi tim medioker.
Jika mampu menyapu bersih kemenangan dan mengemas 15 poin maksimal, posisi Juve tidak hanya bisa menembus empat besar. Kenan Yildiz dan kawan-kawan juga berpeluang kembali membuka kotak pandora persaingan scudetto yang melibatkan Inter Milan, Napoli, dan AC Milan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/f990552b8647c54be9f2a3c65b28d492-Italy_Serie_A_Soccer_134850419.jpg)
Namun, Spalletti menegaskan lima tim penantang Juve selanjutnya yakni Pisa, Lecce, Sassuolo, Cremonese, dan Cagliari tidak boleh dianggap sebelah mata. Kata Spalletti, tidak ada tim mudah di Liga Italia.
”Mereka semua sulit untuk dikalahkan. Dua kemenangan beruntun yang kami dapatkan memberikan pelajaran berharga untuk menghadapi laga-laga berikutnya dan menghadirkan kepercayaan diri untuk kemampuan bertarung melawan siapa pun,” ujar Spalletti dilansir Tuttosport.
Dalam tujuh laga yang sudah dijalani untuk Juve di Liga Italia, Spalletti telah mengoleksi catatan poin lebih baik daripada Motta dan Tudor. Spalletti mengoleksi rerata 2 poin per laga.
Dari sisi permainan, Spalletti tidak menuntut Juve harus dominan dalam kontrol bola. Ada periode laga Si Nyonya Besar tampil sangat superior, misalnya koleksi 72 persen kontra Torino, tetapi Juve tidak canggung ketika lebih banyak mengejar bola dibandingkan menguasai bola.
Kontra Bologna dan Roma dilalui dengan penguasaan bola lebih rendah. Juve hanya koleksi 49 persen penguasaan bola saat unggul 1-0 di markas Bologna, lalu sekadar catatkan 41 persen penguasaan bola ketika menjamu Roma di kandang. Penguasaan bola menghadapi Roma adalah yang terendah bersama Spalletti sejauh ini.
Namun, Juve justru mampu menciptakan peluang lebih banyak dari Bologna dan Roma. Menghadapi dua tim itu, Juve superior dalam koleksi tembakan mengarah ke gawang dan koleksi masing-masing 1,68 expected goals (xG) dan 2,55 xG.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/2a2e92064b9245499716443cff60819a-Italy_Serie_A_Soccer_134850680.jpg)
Untuk catatan penguasaan bola, rezim Spalletti menciptakan 53,8 penguasaan bola per laga. Angka itu jauh di bawah rata-rata penguasaan bola bersama Motta dan Tudor yang lebih dari 56 persen per gim.
Spalletti belum puas dengan performa anak asuhannya. Di laga menghadapi Roma, kata dia, permainan anak asuhannya seharusnya masih bisa lebih baik, terutama untuk klinis di depan gawang dan menghindari kemasukan sebuah gol dari pemain pengganti Roma, Tommaso Baldanzi, pada menit ke-75.
Secara produktivitas, Juve sudah mencetak sembilan gol dalam tujuh laga bersama Spalletti di liga. Jumlah gol itu masih di bawah dari harapan, yakni 10,96 xG.
Adapun untuk urusan bertahan, Juve baru mengoleksi dua laga nirbobol. Performa bertahan itu yang ingin pula dibenahi Spalletti seiring berjalannya waktu.
”Kami akan terus bekerja untuk membenahi kekurangan yang ada. Pemain telah menunjukkan mental bahwa mereka selalu menginginkan lebih di setiap gim. Kami berharap bisa merangkak naik di klasemen,” tuturnya.
Manuel Locatelli, gelandang dan kapten Juve, mengatakan kondisi internal tim sangat positif. Kata dia, Juve telah membuktikan diri untuk tidak pernah berhenti untuk mengejar gol hingga peluit akhir ditiupkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/0c0d938f07571bc870cd590907a5fbb5-Italy_Serie_A_Soccer_134853382.jpg)
”Hal terpenting bagi kami adalah mencatatkan kemenangan beruntun terus-menerus dan membuktikan kami bisa membaik dibandingkan sebelumnya. Kami tidak ingin terlalu banyak berpikir karena tujuan kami adalah menang dan lihat saja apa yang terjadi ketika memasuki bulan Maret,” kata Locatelli dilansir Sky Sport Italia.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase