Berpikir Komputasional Lebih Penting dari Belajar Penggunaan Koding dan AI

Pemerintah meyakini koding dan AI adalah kebutuhan demi masa depan peserta didik sehingga akan dijadikan mata pelajaran pilihan di sekolah-sekolah SD-SMA.

05 Jun 2025 19:31 WIB · Dikbud

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Rencana penerapan mata pelajaran koding dan kecerdasan buatan atau AI tidak boleh hanya mempelajari cara penggunaannya, tetapi yang jauh lebih penting adalah melatih peserta didik untuk bisa berpikir secara komputasional. Ini akan menjadi bekal bagi mereka untuk menjadi manusia abad ke-21.

Direktur Sekolah Menengah Atas di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Winner Jihad Akbar mengatakan, berpikir komputasional mengajarkan siswa untuk menyelesaikan masalah secara sistematis dan efisien dengan melakukan proses dekomposisi dalam penyelesaian masalah dan pengenalan pola, abstraksi, serta algoritma yang membantu siswa memahami dan menangani tantangan digital.

Quote

Bahkan, pembelajaran koding dan AI dapat digelar tanpa perangkat digital.

”Nah, kami ingin dengan menguasai keterampilan tersebut siswa tidak hanya menghadapi revolusi industri yang terjadi, tetapi juga siap menjadi pemimpin teknologi masa depan Indonesia,” kata Winner dalam diskusi CIPS DigiWeek 2025 di Jakarta, Kamis (5/6/2025).

Dia menjabarkan, pada tingkat SD, pendekatan berbasis permainan dan pembelajaran unplugged (tidak menggunakan perangkat digital) dapat digunakan untuk mengenalkan dasar-dasar berpikir komputasional. Di tingkat SMP, pembelajaran lebih diarahkan pada pemrograman berbasis blok, eksplorasi algoritma sederhana, dan pengenalan konsep AI dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara di SMA dan SMK, peserta didik mulai diperkenalkan pada pemrograman berbasis teks, konsep machine learning, serta aplikasi dalam berbagai bidang industri. Dengan pendekatan yang bertahap dan kontekstual, peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proyek nyata yang dapat meningkatkan kreativitas dan keterampilan memecahkan masalah.

Pemerintah meyakini, koding dan AI akan membuka peluang ekonomi baru, mendukung inovasi, dan mendorong pertumbuhan industri digital, sehingga memungkinkan generasi muda berkontribusi pada ekonomi kreatif. Untuk itu, kata Winner, koding dan AI adalah kebutuhan demi masa depan peserta didik.

Dia menjelaskan, pada tahap awal ini, koding dan AI akan menjadi mata pelajaran pilihan pada jenjang SD (kelas 5 dan 6), SMP (kelas 7, 8, dan 9), serta SMA/SMK (kelas 10) dengan alokasi waktu dua jam pelajaran per minggu.

Kemudian, pada jenjang SMA kelas 11 dan 12, alokasi waktu dapat ditingkatkan hingga lima jam pelajaran, sedangkan untuk SMK kelas 11 dan 12 hingga empat jam pelajaran, menyesuaikan dengan struktur kurikulum yang berlaku.

”Sekolah juga bisa fleksibel untuk tetap mengembangkan koding dan AI dalam bentuk ekstrakurikuler atau mengintegrasikannya ke dalam mata pelajaran lain yang relevan,” ujar Winner.

Infografik-Kebijakan Pengembangan Kecerdasan Buatan *** Local Caption *** Infografik-RISET-Kebijakan Pengembangan Kecerdasan Buatan

Ketua Pengurus Harian Yayasan Guru Belajar Maman Basyaiban menegaskan, jika mata pelajaran koding dan AI hanya belajar cara pemanfaatannya tanpa menumbuhkan cara berpikir komputasional, maka akan sia-sia. Pemerintah harus menekankan sejak awal bahwa tanpa alat pun bisa mempelajari koding dan AI.

”Sering kali yang dipikirkan ketika bicara tentang AI dan koding, oh, berarti harus pakai komputer, harus jago teknologi informasi komputer, ini hanya jebakan-jebakan terkait kontennya, bukan kompetensi dasarnya,” kata Maman.

Selain itu, pemerintah juga perlu mengembangkan kompetensi gurunya terlebih dahulu. Berdasarkan survei Service Delivery Indicator (SDI) oleh Bank Dunia pada 2020, sebanyak 67 persen guru di Indonesia masih kesulitan dalam menggunakan dan mengakses alat digital. Kesulitan itu tergambar sepanjang pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19.

Kemendikdasmen pun mencatat, ada 27.650 Satuan Pendidikan PAUD Dikdasmen yang belum memiliki akses internet dan 3.323 sekolah tidak memiliki jaringan listrik hingga sekarang. Ini akan menjadi tantangan dalam penerapan mata pelajaran koding dan AI ke depan.

”Kita orang dewasa pun, termasuk guru gitu, ya, belum terbiasa menggunakan cara berpikir komputasional ini,” ujar Maman.

Gambar seorang perempuan dan tulisan di papan tulis yang dibuat dengan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) GPT-4o.

Menanggapi itu, Winner mengungkapkan bahwa Kemendikdasmen mulai menggelar pelatihan bagi pelatih atau calon pengajar koding dan AI sejak awal tahun 2025. Mereka dibekali dengan keterampilan teknologi dan strategi kolaboratif agar menjadi fasilitator yang kompeten dan andal.

Pelatihan ini akan menjangkau 59.546 guru dari sekolah sasaran pada tahun 2025 yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemendikdasmen berkolaborasi dengan 90 lembaga penyelenggara diklat yang telah diseleksi ketat untuk memastikan kualitas pelaksanaan pelatihan.

”Kalau yang tidak ada internetnya, nanti akan kita bantu internet satelit. Kalau yang tidak ada listriknya, nanti kita bantu solar panel,” kata Winner.

Bahkan, kata Winner, pembelajaran koding dan AI dapat digelar tanpa perangkat digital (unplugged). Internet dan listrik digantikan dengan permainan papan, kartu, balok bersusun, atau aktivitas yang melibatkan gerakan fisik untuk memahami prinsip koding dan pengembangan algoritma, seperti mensimulasikan ”robot/mesin” yang mampu berpikir dengan melibatkan peserta didik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan