Kecerdasan buatan tak ada gunanya tanpa ada data. Pembangunan ekosistem satu data pendidikan menjadi fondasi utama dalam mendorong kebijakan berdasarkan data.
30 Mei 2025 08:05 WIB · Dikbud
JAKARTA, KOMPAS — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak dapat dihindari, termasuk dalam upaya transformasi pendidikan berkelanjutan dan inklusif. Namun, kecerdasan buatan bisa bekerja dengan optimal jika data yang tersedia berkualitas.
Untuk itu Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah membangun ekosistem satu data pendidikan yang menjadi pusat analitik. Ekosistem ini secara bertahap akan digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pendidikan berbasis data.
”AI tak ada gunanya tanpa ada data. Maka dari itu, pembangunan ekosistem satu data pendidikan yang andal menjadi fondasi utama dalam mendorong kebijakan berdasarkan data,” kata Kepala Pusdatin Kemendidasmen Yudhistira Nugraha, dalam keterangan pers, dikutip Jumat (30/5/2025).
Namun, dia menegaskan peran manusia dalam dunia pendidikan, khususnya guru dan tenaga kependidikan yang mengajar, tak akan bisa tergantikan AI. Sebab, AI hanyalah teknologi yang membantu para pengajar mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya.
Pusdatin, kata Yudhistira, akan menjadi penggerak inovasi dengan membuka ruang kolaboratif seperti unit Center for Data and Technology (CDT) Lab yang berfungsi sebagai ruang diskusi terbuka untuk para pendidik, pemangku kebijakan, dan praktisi edutech.
Ruang tersebut bisa digunakan para guru, mitra, dan perusahaan perintis untuk menguji coba teknologi secara tepat guna, utamanya di bidang pendidikan. ”Guru tetap harus belajar AI, tetapi guru punya wisdom (kebijaksanaan) yang tidak akan pernah tergantikan AI,” ucapnya.
Jangan sampai kita tidak bisa kontrol karena tanpa sadar kita akan dikontrol AI.
Yudhistira mengungkapkan, rencana menerapkan pelajaran AI dan koding sebagai mata pelajaran pilihan di pendidikan dasar dan menengah akan berbeda-beda pada tiap jenjangnya. Misalnya, pada jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), murid diajarkan berpikir sistematis dan logikanya, lalu di jenjang sekolah dasar akan diajarkan materi konseptualnya.
Masuk ke level sekolah menengah pertama (SMP), murid-murid tidak hanya sekadar diajarkan konsep, tetapi mulai belajar etika memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI. Hal ini penting agar para murid memiliki pikiran kritis bahwa apa yang dihasilkan AI itu tidak sepenuhnya benar.
Guru tetap harus belajar AI, tetapi guru punya ’wisdom’ (kebijaksanaan) yang tidak akan pernah tergantikan oleh AI.
”Di tingkat SMA/SMK (sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan), anak-anak harus bisa menjadi pemecah masalah, jadi bagaimana menggunakan AI itu untuk menjadi solusi, menggunakan berbagai bahasa pemrograman menjadi sebuah produk,” kata Yudhistira.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/10/cf3fc943-811e-4dce-af08-4034f9933384_jpg.jpg)
Kemendikdasmen mulai menggelar pelatihan bagi pelatih atau calon pengajar koding dan AI sejak awal tahun 2025. Mereka dibekali dengan keterampilan teknologi dan strategi kolaboratif agar menjadi fasilitator yang kompeten dan andal.
Pelatihan ini akan menjangkau 59.546 guru dari sekolah sasaran pada tahun 2025 yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemendikdasmen berkolaborasi dengan 90 lembaga penyelenggara diklat yang telah diseleksi ketat untuk memastikan kualitas pelaksanaan pelatihan.
Ketua Tim Pelaksana Dewan TIK Nasional (Wantiknas) Ilham Akbar Habibie menekankan pentingnya pemanfaatan AI untuk meningkatkan pemerataan dan kualitas pendidikan di Indonesia.
Kecerdasan buatan bisa menjadi asisten unggul yang membantu guru dan siswa, mulai dari administrasi hingga pembelajaran yang dipersonalisasi, tetapi keputusan tetap harus ada di tangan manusia.
Di sisi lain, pemanfaatan AI untuk pemajuan sektor pendidikan juga perlu dibarengi dengan pengembangan ekosistem digital yang aman. Data yang dihimpun untuk menunjang kerja AI harus memiliki sistem keamanan yang kuat agar terhindar dari kejahatan siber.
”Kita harus sadar bahwa data yang kritis sekali kita harus punya back up (cadangan) atau tidak semua data harus dimasukkan karena ada hal-hal yang harus hati-hati. Karena kadang kita tidak sadar komunikasi kita di internet itu kita sedang berada di ruang publik,” kata Ilham.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/25/842dda84-3a4f-418c-b3d9-59f06740dff8_jpg.jpg)
Untuk itu, sebelum menganalisis data lalu menggunakan AI, gerakan literasi digital setiap masyarakat harus digalakkan. Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) dari tahun 2022 hingga tahun 2024 menunjukkan tren peningkatan, skor tahun 2024 tercatat 43,34.
Pilar keterampilan digital menjadi indikator dengan skor tertinggi, yaitu 58,25. Namun, pemberdayaan digital menjadi indikator dengan skor terendah, yaitu 25,66. Ini perlu menjadi perhatian semua pihak.
”Selama AI ini masih kita kontrol, bagus, tetapi jangan sampai kita tidak bisa kontrol, karena tanpa sadar kita akan dikontrol (AI). Ini satu hal yang mengharuskan kita berpikir kritis,” ucapnya.
Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Fahmi Zulkarnain menambahkan, sekolah masih menghadapi sejumlah tantangan sebelum penerapan AI. Tantangan itu antara lain keterbatasan infrastruktur, ketimpangan literasi digital guru, dan biaya implementasi AI yang masih tinggi.
”AI bisa menjadi asisten guru, memperkuat interaksi di kelas, dan mempermudah proses administratif. Tapi negara harus hadir sebagai pemimpin dalam adopsinya,” kata Fahmi.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari