Martin Zubimendi adalah kepingan yang hilang di tubuh Real Madrid dalam era Xabi Alonso. Itu tergambar jelas dengan kontribusi Zubimendi saat berseragam Arsenal.
16 Jan 2026 07:01 WIB · Olahraga
AP/alastair grant
Bola salju soal isu penyebab perpisahan Real Madrid dengan Pelatih Xabi Alonso bergulir begitu jauh. Perpisahan itu terjadi di Madrid, tetapi rumor terbawa hingga London. Tepatnya di klub raksasa asal London Utara, Arsenal, yang berhasil mendaratkan pemain impian Alonso pada jendela transfer musim panas lalu.
Pemain tersebut adalah gelandang tim nasional Spanyol Martin Zubimendi. Menurut surat kabar Spanyol, Diario AS, Alonso sudah meminta kepada manajemen untuk mendatangkan Zubimendi. Namun, klub tidak melihat urgensi pembelian gelandang baru. Madrid terlambat bergerak, sang pemain telanjur memilih Arsenal.
Laporan itu menjelaskan, Alonso berkali-kali mengeluhkan soal kegagalan transfer tersebut kepada staf pelatih Madrid. Gelandang bertahan ”El Real”, seperti Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga, sangat berkualitas. Akan tetapi, belum ada sosok pengatur tempo seperti Toni Kroos yang sudah pensiun di 2024.
Dia adalah pemain yang sangat bagus, tidak pernah merasa tertekan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/16/2d6be7f1a6cb4d708ad075b19aac2f31-Britain_League_Cup_Soccer_2_.jpg)
Urgensi Alonso bisa dimengerti, terutama jika menyaksikan laga semifinal pertama Piala Liga Inggris antara Arsenal dan Chelsea pada Kamis (15/1/2026). Arsenal menang 3-2 dengan penampilan memukau dari Zubimendi. Selain menyumbang satu gol berkelas, dia juga sukses mengontrol permainan dari lini tengah.
Pujian tertinggi diberikan Henry Winter, mantan kepala penulis sepak bola The Times. ”Zubimendi bekerja keras menjaga lini pertahanan, melakukan tekel, mencegat bola, menjaga formasi, lalu juga melancarkan serangan. Dia baru enam bulan di Arsenal, tetapi terlihat seperti sudah enam tahun,” tulisnya lewat X.
Jika musim dihentikan sekarang, Zubimendi sangat layak mendapatkan gelar perekrutan terbaik Liga Inggris musim ini. Arsenal bisa mendominasi Liga Inggris dan Liga Champions sejauh ini, serta masih berpotensi juara dalam empat kompetisi, salah satu faktor terbesarnya berkat kehadiran gelandang 26 tahun tersebut.
Buktinya, Zubimendi (2.300 menit) merupakan pemain Arsenal dengan jumlah menit terbanyak di seluruh kompetisi setelah penjaga gawang David Raya. Dia menjadi starter sebanyak 26 kali dari 28 laga. Itu cukup untuk memperlihatkan betapa pentingnya sang pemain di mata Manajer Mikel Arteta.
Apakah Arsenal bisa menutupi kehilangan sosok dua gelandang veteran, Jorginho dan Thomas Partey? Pertanyaan itu sempat menghantam Arsenal di tengah kedatangan Zubimendi. Partey memberikan kenyamanan di pertahanan lewat presensi fisik atletis, sementara Jorginho menawarkan peran pembagi bola dan pengatur tempo.
Zubimendi ternyata mampu menggabungkan dua sosok itu dalam satu tubuh. Dalam penguasaan bola, kualitasnya tidak perlu diragukan. Layaknya para gelandang asal Spanyol, dia memiliki teknik tinggi dan kecerdasan membaca ruang. Bola hampir bisa dipastikan tidak akan hilang jika mengumpan ke arahnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/16/000634d7f73344b0a3614e43b7363aaf-ZUBIMENDI_STATISTIK.png)
Bek Arsenal William Saliba turut bersaksi soal ketenangan sang jangkar di lini tengah. Saat terdesak, dia selalu mencari Zubimendi. ”Dia adalah pemain yang sangat bagus, tidak pernah merasa tertekan. Anda bisa memberikannya bola, bahkan dengan pemain lawan di belakangnya, dan dia tidak tertekan,” ujar Saliba.
Keraguan utama terhadap Zubimendi adalah soal urusan fisik. Tingginya hanya 180 sentimeter, di bawah rerata gelandang bertahan Liga Inggris, meski tubuhnya atletis seperti Partey. Seperti diketahui, duel fisik sudah menjadi elemen terpenting di liga paling kompetitif sedunia tersebut, apalagi dia bermain di lini tengah.
Menariknya, presensi Zubimendi tak tenggelam saat bertahan. Dia justru menjadikan ”Si Meriam” sangat dominan dengan agresivitasnya. Menurut Opta, Zubimendi masuk tiga besar dalam berbagai statistik bertahan di Arsenal, dari jumlah intersepsi (pertama), tekel dan mengembalikan penguasaan (kedua), hingga duel udara (ketiga).
Zubimendi bahkan mencatat kemenangan duel udara hingga 65,8 persen. Itu melampaui bek Gabriel Magalhaes yang merupakan spesialis adu bola atas. Fisiknya boleh kalah, tetapi tidak dengan penempatan posisi dan waktu. Menurut gelandang Declan Rice, kemampuan otak Zubimendi menjadi pembedanya.
Menariknya, peran Zubimendi di Arsenal berbeda jika dibandingkan dengan di Sociedad ataupun timnas. Dia tidak hanya sebatas jangkar yang membagi bola dan membentengi para bek sejajar. Alih-alih menjaga kedalaman di belakang, Zubimendi berkali-kali turut terlibat dalam menyerang sampai ke kotak penalti lawan.
Itulah yang membuat pemain bernomor punggung 36 itu sedang merasakan musim terbaik dari sisi ofensif. Zubimendi sudah mencetak 4 gol dan 3 asis saat musim baru berlangsung separuh jalan. Adapun sumbangan terbanyaknya dalam semusim hanya 4 gol dan 1 asis saat bersama Sociedad di musim 2023-2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/16/36326be85f3501a215be650577369458-Britain_League_Cup_Soccer.jpg)
Arteta memberikan kebebasan anak asuhnya itu untuk menjelajah ke kotak penalti lawan. Tentu, Zubimendi bergantian memainkan peran itu dengan dua gelandang lain, yaitu Rice dan Martin Odegaard. Biasanya hanya salah satu di antara mereka yang bisa berada di kotak penalti. Dua pemain lain menunggu di luar.
Zubimendi pun berevolusi. Dari semula kurang nyaman menguasai bola di kotak penalti, dia kini begitu tenang dalam penyelesaian akhir. Lihat saja di kotak penalti Chelsea. Zubimendi pura-pura menembak, mengelabui bek lawan Wesley Fofana, sebelum mengeksekusi bola dengan kaki kiri. Itu merupakan kaki lemahnya.
”Ketika berbicara soal Zubumendi, apa lagi yang bisa dia lakukan? Dia bisa melakukan apa pun yang diinginkan. Kami hanya perlu menggali potensi dalam dirinya, dalam pikirannya. Dia sangat bagus dalam menguasai ruang, menggiring bola, memenangi duel, dan punya bakat untuk naik ke sepertiga akhir,” puji Arteta.
Dari setengah tahun Zubimendi di Inggris, bisa sedikit terbayang bagaimana pengaruhnya di klub dengan segudang talenta seperti Madrid. Nasib Alonso mungkin bisa berakhir lebih baik jika sang pemain berlabuh di ibu kota Spanyol pada musim panas lalu. Sekarang, skenario kesuksesan itu hanya bisa dinikmati dalam khayalan. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra