Apakah benar Ballon d’Or telah kehilangan nilai seperti yang diungkapkan Cristiano Ronaldo? Pernyataan Ronaldo tidak tepat, tetapi juga tidak sepenuhnya salah.
08 Jun 2025 08:00 WIB · Olahraga
Penyerang megabintang Portugal, Cristiano Ronaldo, membawa perdebatan Ballon d’Or lebih dari sekadar persaingan antara Lamine Yamal dan Ousmane Dembele. Lima kali penerima trofi penghargaan pemain terbaik di dunia itu sudah masuk ke ranah esensi. Baginya, Ballon d’Or sudah kehilangan nilai akhir-akhir ini.
Perdebatan pemenang Ballon d’Or edisi selanjutnya memanas seusai semifinal Liga Nasional Eropa antara Spanyol dan Perancis, Jumat lalu. Yamal kembali diunggulkan dalam perdebatan setelah sukses mengantar Spanyol ke final dengan sumbangan dua gol. Dembele meredup bersama kegagalan Perancis.
Kebetulan, Spanyol akan berhadapan dengan Portugal di partai puncak. Portugal dipimpin Ronaldo, ikon Ballon d’Or pada abad ke-21. Tidak banyak yang lebih berhak mengomentari penghargaan individu itu dibandingkan dengan dirinya. Ronaldo pun diminta berkomentar tentang siapa yang lebih pantas menang pada edisi selanjutnya.
Ronaldo ternyata tidak memilih Yamal ataupun Dembele, hanya memberikan petunjuk tentang sosok yang semestinya menang. ”Siapa pun yang menang harus berada di tim juara. Pemenang Ballon d’Or seharusnya berasal dari tim yang menjuarai Liga Champions. Penghargaan itu telah kehilangan nilainya,” katanya, Sabtu (7/6/2025) WIB.
”CR7”, panggilannya, merujuk kepada Dembele sebagai pemenang Liga Champions terakhir bersama Paris Saint-Germain. Yamal hanya berhasil membawa Barcelona sampai ke semifinal turnamen terbesar se-Eropa tersebut. Ronaldo konsisten dengan sikapnya yang pernah diungkapkan dalam perdebatan peraih Ballon d’Or sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/05/a68b98ed-4d07-48ab-bcde-72ee0c8825bc_jpg.jpg)
Tahun lalu, Ballon d’Or dimenangi oleh gelandang Manchester City, yaitu Rodri. Dia dinilai layak menang setelah mampu mengantar Spanyol berjaya di Piala Eropa 2024. Kandidat lain, penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, hanya finis di urutan kedua pemungutan suara walaupun berstatus pemenang Liga Champions.
Menurut Ronaldo, Vinicius lebih pantas menang. ”Hasil itu tidak adil. Saya mengatakan ini di depan semua orang. Mereka memberikannya kepada Rodri. Dia pantas juga, tetapi mereka seharusnya memberikan itu untuk Vinicius yang berhasil menjuarai Liga Champions dan mencetak gol di final,” ujarnya pada Desember lalu.
Pernyataan terbaru Ronaldo agak kontroversial. Mengingat tidak semua trofi Ballon d’Or miliknya diraih setelah memenangi Liga Champions. Dia gagal mengantar Real Madrid juara Liga Champions pada musim 2012-2013, tetapi keluar sebagai pemenang penghargaan. Ucapannya seolah mengeliminasi pencapaian sendiri.
Ronaldo menang di 2013 berkat penampilan individu yang sangat dominan. Jangankan Liga Champions, dia bahkan tidak meraih satu pun trofi mayor bersama Madrid pada musim tersebut. Dia menjadi buah bibir berkat kontribusi fenomenal 66 gol dalam 56 laga untuk klub dan negara dalam kalender setahun.
Pemain yang berhasil mengantar Bayern Muenchen berjaya di Liga Champions, Franck Ribery, hanya finis di peringkat ketiga pemungutan suara. Wajar jika Ribery menganggap pernyataan CR7 hanya sebatas lelucon. ”Jadi Anda harus juara Liga Champions untuk meraih Ballon d’Or?” sindir Ribery di media sosial.
Lantas, apakah Ballon d’Or sudah kehilangan nilainya? Penghargaan itu pertama kali diberikan pada 1956 oleh majalah Perancis, France Football. Tujuannya mengapresiasi pemain terbaik di Eropa dalam semusim ke belakang. Trofi hanya diberikan khusus pesepak bola Eropa hingga pada 1995, sebelum berubah menjadi lebih universal.
Selama 12 tahun, sejak 1995, para pemain dari berbagai belahan dunia bisa masuk dalam nominasi Ballon d’Or. Syaratnya, mereka bermain untuk klub-klub Eropa. Baru pada 2007 semua pemain dari klub dan negara mana pun bisa menerima penghargaan. Itu yang membuat Diego Armando Maradona ataupun Pele tidak pernah menang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/b92b2389-0d36-4671-b478-3a90a82a0174_jpeg.jpg)
Pernyataan Ronaldo tidak tepat, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Liga Champions, sebagai turnamen klub terbesar di Eropa, memang menjadi salah satu tolok ukur penilaian utama pemain pada masa-masa awal Ballon d’Or. Hanya Piala Eropa, turnamen antarnegara, yang melebihi pencapaian di Liga Champions.
Meskipun begitu, prestasi di Liga Champions bukanlah faktor utama penilaian. Terbukti tujuh dari sepuluh peraih awal Ballon d’Or tidak memenangi trofi ”Si Kuping Lebar” pada musim sebelumnya. Pemenang edisi pertama, Stanley Matthews, bahkan dipilih karena pengaruh terhadap sepak bola hingga usia kepala empat dan tidak berhubungan dengan trofi.
Tolok ukur penilaian setiap tahun bisa berbeda-beda sejak dulu kala. Seperti di 2006, bek Fabio Cannavaro memenangi penghargaan seusai mengantar Italia juara dunia. Dia mengalahkan para penyerang top yang nyaris selalu keluar sebagai pemenang. Setelah itu, baru Lionel Messi yang menang karena alasan serupa pada 2023.
Standar yang tidak jelas itu disebabkan faktor subyektivitas. Pemenang dipilih oleh para jurnalis terpilih dari banyak negara. France Football yang memberikan daftar nominasi pemain hanya menyarankan tiga aspek untuk penilaian, yaitu pencapian individu, kesuksesan tim, dan sikap pemain.
Semua pun bergantung terhadap subyektivitas pemilih dan narasi yang sedang dibangun. Seperti saat ini, Yamal digadang-gadang sebagai kandidat terkuat bukan hanya karena menghasilkan 18 gol dan 25 asis pada musim lalu. Faktor usia yang masih 17 tahun membuat nilainya terlihat sangat tinggi. Jika sudah berusia 25 tahun, narasi tentang Yamal mungkin tidak semasif sekarang.
Alhasil, perdebatan tidak akan terhindarkan. Subyektivitas pasti memunculkan pandangan yang berbeda-beda. Tidak ada standar saklek. Ronaldo bisa benar sekaligus salah. Esensi penghargaan hanyalah untuk mengapresiasi individu pemain. Ironisnya, esensi tersebut berlawanan dengan prinsip sepak bola yang merupakan permainan tim. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto