Membedah Pergerakan Pemudik, Mengapa Puncak Arus Mudik Relatif Lancar?

Dibandingkan tahun lalu, jumlah pemudik hingga H-3 Lebaran tahun ini terpantau menurun. Mereka yang tetap mudik cenderung lebih memilih pulang lebih awal.

29 Mar 2025 13:17 WIB · Riset

Oleh R Albertus Krisna Pratama P.

Arus lalu lintas pada arus mudik Lebaran 2025 yang dimulai sepekan terakhir dilaporkan relatif lancar. Tidak terjadi penumpukan kendaraan yang relatif panjang, karena rekayasa lalu lintas berupa one way dan contraflow dioptimalkan.

Meski pemerintah memprediksi puncak arus mudik terjadi pada H-3 Lebaran atau Jumat (28/3/2025), nyatanya pantauan data dari Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Indonesia (Siasati) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menunjukkan hal berbeda.

Logo Liputan Lebaran 2025

Data yang diambil pada Sabtu (29/3/2025) menunjukkan, puncak pergerakan arus mudik penumpang dari lima moda transportasi umum justru sudah terjadi pada H-5 dengan total 997.170 orang. Begitu juga dengan pergerakan kendaraan keluar Jakarta melalui jalan tol.

Dibandingkan Lebaran tahun lalu, pergerakan kendaraan keluar Jakarta terlihat lebih merata dari H-10 hingga H-3. Jumlah kendaraan dari H-10 hingga H-8 justru lebih banyak dibandingkan periode yang sama di Lebaran 2024.

Pada H-10 hingga H-8 atau Jumat-Minggu, 21-23 Maret 2025 total sudah ada 458.207 kendaraan keluar Jakarta melalui jalan tol. Sementara pada periode waktu yang sama di Lebaran 2024 baru 285.601 kendaraan.

Sementara itu jumlah kendaraaan yang keluar Jakarta pada H-7 hingga H-3 atau Senin-Jumat, 22-28 Maret 2025 sebanyak 815.795 kendaraan. Sementara di waktu yang sama tahun 2024 mencapai 1.038.996 kendaraan.

Jika di rata-rata, dari H-10 hingga H-3 Lebaran 2025 ini rata-rata kendaraan keluar Jakarta melalui jalan tol sebanyak 159.250 unit. Sementara pada H-10 hingga H-3 Lebaran 2024 sebanyak 165.575 unit. Kondisi ini menunjukkan volume kendaraan yang keluar Jakarta melalui jalan tol di Lebaran tahun ini relatif lebih merata setiap harinya.

Kelancaran arus lalu lintas mudik tahun ini juga dipengaruhi jumlah yang pemudik berkurang. Periode waktu yang sama, akumulasi pergerakan arus mudik Lebaran 2025 sebesar 6.751.488 penumpang. Angka ini berkurang 342.852 penumpang atau 4,8 persen lebih kecil dibandingkan Lebaran tahun lalu. Pergerakan arus mudik ini berasal dari penumpang kereta api, bus, pesawat, kapal laut, dan ASDP.

Dari kelima moda transportasi umum tersebut, moda transportasi darat atau bus yang menurun paling tajam. Tahun lalu akumulasi pergerakan penumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dari H-10 hingga H-3 Lebaran mencapai 1.390.502 orang. Tahun ini menurun 10,2 persen menjadi hanya 1.248.367 orang.

Peringkat kedua disusul arus mudik menggunakan moda pesawat yang turun 6,8 persen. Dari semula 2.039.072 penumpang menjadi 1.900.185 penumpang hingga H-3 Lebaran tahun ini. Peringkat ketiga disusul moda kapal laut yang juga turun 4,8 persen, dari semula 637.027 menjadi 606.493 penumpang.

Karsito (54), warga Cijantung, Jakarta Timur, berencana masih terus bekerja selama Lebaran tahun ini. Biasanya ia pulang ke Banyumas, Jawa Tengah, menggunakan moda transportasi favoritnya bus AKAP. Namun karena keterbatasan dana, ia mengurungkan niat untuk mudik.

”Saya enggak ada ongkos pulang. Terakhir pulang Desember tahun lalu. Saya biasanya naik bus Sinar Jaya kalau kira-kira ada uang lebih untuk pulang,” terang bapak yang berprofesi sebagai sopir taksi sejak tahun 2008 ini.

Karsito baru pulang ke Banyumas beberapa minggu setelah Lebaran. Ia berharap harga tiket bus sudah kembali normal. Selama Lebaran, Karsito tetap bekerja seperti biasa. Bertemu penumpang dan teman-teman seprofesi menjadi salah satu obatnya melepas rindu keluarga di kampung halaman.

Sama halnya dengan Krisna (33), warga Depok, Jawa Barat, yang memutuskan tidak mudik. Alasannya karena tiket yang mahal. Apalagi jika pulang ke Jogja bersama keluarga, yaitu istri dan satu anaknya, Krisna lebih memilih moda kereta api karena kenyamanan yang lebih terjamin dan tepat waktu.

”Harga tiketnya mahal. Lagi pula aku sedang menghemat. Uang THR lebih untuk keperluan keluarga di sini,” terang Krisna.

Krisna dan keluarga terakhir pulang kampung Desember tahun lalu. Waktu itu ia mendapatkan tiket kereta kelas eksekutif sekitar Rp 600.000. Jika dikali tiga dan pulang pergi setidaknya Rp 3,6 juta uang yang harus ia siapkan. Jika pulang Lebaran ini, ia menilai bisa jadi tiketnya lebih mahal dan anggaran yang disiapkan akan lebih besar.

Mengisi waktu Lebaran, Krisna berencana mengajak istri dan anaknya berkunjung ke rumah saudara-saudara dan teman-teman di sekitaran Jakarta. Meski tidak mudik, hal itu ia lakukan agar dapat tetap merasakan hangatnya silaturahmi dan indahnya kumpul keluarga terdekat.

Kesibukan calon penumpang di depan Terminal 1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (28/3/2025). Kepadatan penumpang terlihat di Bandara Soetta pada puncak arus mudik dengan total pergerakan penumpang diperkirakan akan mencapai 173.854 orang pada hari ini.

Mudik lebih awal ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah terkait work from anywhere (WFA) sejak Senin, 24 Maret 2025. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, dengan fleksibilitas WFA, masyarakat memiliki kesempatan memulai perjalanan mudik beberapa hari sebelum perkiraan puncak arus mudik.

”Hal ini tidak hanya akan mengurangi kepadatan lalu lintas pada tanggal-tanggal krusial, tetapi juga memberikan kenyamanan dan keamanan yang lebih baik bagi perjalanan para pemudik,” ujarnya melalui keterangan tertulis Senin (24/3/2025).

Menurut Budy, perjalanan mudik lebih awal dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menghindari tekanan dan kerumunan. Hal itu juga yang dapat mengurangi risiko kecelakaan serta memberikan kenyamanan lebih bagi pemudik. Perjalanan lebih awal juga dapat memberikan waktu lebih untuk beristirahat di perjalanan.


Kerabat Kerja

Penulis:

R Albertus Krisna Pratama P.
 | 

Editor:

Iqbal Basyari
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari