Kota ramah kepada warganya ketika jarak antara rumah dan tempat kegiatan tidak terlalu jauh sehingga warga tak perlu bersusah payah mencapainya.
03 Nov 2025 07:00 WIB · Metropolitan
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Kota yang padat, tetapi tetap hidup. Warga bisa bepergian ke mana saja dengan mudah. Entah berjalan kaki, naik sepeda, atau transportasi umum. Kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi tanpa terjebak macet berjam-jam.
Bayangan kota ideal itu bisa terwujud melalui mobilitas inklusif, terjangkau, dan rendah emisi. Jakarta dan kota-kota lain masih berupaya keras mewujudkannya.
Transportasi umum sangat berpengaruh pada kualitas hidup warga. Begitu jawaban dari pemengaruh dan kreator konten transportasi Cecilia Novanca.
Jika transportasi umum lancar, aman, dan konsisten, warga bisa sampai ke sekolah atau kantor tepat waktu. Demikian juga saat kembali ke rumah masing-masing.
”Otomatis istirahat jadi lebih teratur, tidur lebih bagus,” kata Cecilia ketika bincang-bincang tentang ”Bus Naik Kelas, Hidup Lebih Berkualitas” di ATMAterra Amphitheatre, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, pada Sabtu (1/11/2025).
Sebaliknya, apabila transportasi umum berantakan, tidak konsisten, dan tak tersistem, warga akan terlambat. Dampaknya, waktu istirahat berkurang, kelelahan, dan hal lain yang menurunkan kualitas hidup.
Pendapat ini selaras dengan kebanyakan komuter. Semuanya terpotret melalui Hasil Survei Komuter Jabodetabek 2023.
Terdapat 14,9 persen komuter dari 29,6 juta penduduk Jabodetabek yang berusia 5 tahun ke atas. Sebagian besar (81,9 persen) pergi pulang untuk bekerja dan sisanya 18,1 persen untuk sekolah, kuliah, atau kursus.
Sepeda motor dan mobil jadi andalan 79 persen komuter. Baru 19,5 persen komuter menggunakan transportasi umum untuk pergi ke tempat kegiatan.
Dalam sebulan terakhir dari waktu survei tersebut, ada 25,4 persen komuter yang mengalami keluhan pegal-pegal. Selain itu, 21,2 persen mengeluhkan masuk angin, 17,3 persen mengalami batuk/pilek, 12,1 persen sakit kepala, 7,4 persen komuter mengalami keluhan demam, 5,5 persen sakit tenggorokan, 0,7 persen mengeluh sesak napas, dan 0,6 persen mempunyai keluhan sakit mata.
Selain itu, 67,3 persen komuter pernah mengalami kemacetan parah, 25,7 persen pernah mengalami gangguan moda transportasi, dan 6,5 persen pernah mengalami kecelakaan. Selebihnya, terdapat 1,4 persen komuter yang pernah mengalami tindak kejahatan dan 0,4 persen pernah mengalami pelecehan seksual.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/01/e9f6f8dc-78d9-3020-8d3d-3f77959df6ae_heic.jpg)
Bincang-bincang sore itu diinisiasi oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia bersama ViriyaENB dan ENVELOPS Co Ltd. Mereka menyelenggarakan kegiatan publik bertajuk ”MOV-E: Moving Cities the Electric Way”.
Tujuannya, untuk meningkatkan pemahaman tentang elektrifikasi dalam transportasi berkelanjutan. Selain itu, menyoroti tren adopsi, tantangan, dan peran kelembagaan dalam implementasi bus listrik, keterjangkauan, aksesibilitas, serta perspektif pengguna dalam transisi ke kendaraan listrik roda dua dan tiga, serta peluang elektrifikasi sistem pengiriman tahap akhir (last mile delivery) seiring pertumbuhan e-dagang dan layanan kurir.
Salah satu bagian penting untuk mewujudkan kota ideal ialah transportasi umum. Jumlahnya masih minim sehingga warga mengandalkan kendaraan pribadi. Masifnya penggunaan kendaraan pribadi itu berkelindan dengan kemacetan dan polusi udara dari emisi gas buang.
ITDP Indonesia mencatat baru 29 kota di Tanah Air yang punya layanan transportasi publik formal. Sebagian besar kualitasnya belum sesuai standar pelayanan minimal.
Deputy Director ITDP Indonesia Deliani Siregar menuturkan, satu bus di kota-kota besar dunia melayani banyak penumpang dengan pengguna berkisar 22-60 persen. Angka ini jauh dari pengguna di Indonesia yang masih di kisaran 2-15 persen. ”Tidak heran masyarakat tetap mengandalkan kendaraan pribadi,” ujar Deliani.
Oleh sebab itu, kota membutuhkan sistem mobilitas perkotaan yang ramah lingkungan dan tetap menjaga ruang hijau. Ini merupakan konsep Kota Kompak.
Kota yang ramah kepada warganya. Jarak antara rumah dan tempat kegiatan tidak terlalu jauh sehingga warga tak perlu bersusah payah mencapainya.
Ada lima aspek Kota Kompak. Dimulai dari kerapatan atau penduduk dan bangunan lebih rapat untuk mencegah pelebaran kota dan menjaga ruang terbuka hijau
Setelah itu, pengembangan campuran. Hunian, komersial, dan rekreasi berdekatan sehingga kebutuhan sehari-hari bisa dicapai tanpa perjalanan jauh.
Keduanya ditunjang mobilitas berkelanjutan. Artinya, mendorong pejalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum yang efisien.
Dua aspek lainnya ialah regenerasi dan keberagaman. Regenerasi terkait dengan menghidupkan kembali ruang kota terbengkalai menjadi area fungsional dan dinamis. Sementara keberagaman membuat kota lebih hidup dan seimbang secara sosial karena penduduk berasal dari berbagai latar, usia, dan penghasilan.
”Kalau sudah jadi Kota Kompak, warga Depok tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk memenuhi kebutuhannya,” kata Deliani.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/34f1804fe39a117b2fc7d8ec16b0e857-FAK_5505.jpg)
Kota Kompak dengan mobilitas berkelanjutan di dalamnya juga dapat membuat napas kota lebih lega. Ini bisa dimulai bertahap dari elektrifikasi armada transportasi umum. Akan tetapi, bus listrik bukan solusi tunggal menekan polusi udara karena butuh kebijakan komprehensif.
Terkait kondisi kota ini, pemengaruh dan kreator konten otomotif Alitt Susanto sama seperti warga Jakarta lainnya. Mereka mendamba langit biru atau udara bebas polusi.
Alitt ditanya tentang bagaimana kondisi Jakarta 5 sampai 10 tahun ke depan dalam sesi bincang-bincang Sabtu sore. Ia membandingkannya dengan perjalanannya ke Shanghai di China pada tahun 2021.
Kala itu, langit Shanghai selalu kelabu dan berselimut kabut. Ketika berada di luar ruangan, maka risikonya batuk-batuk.
”Saya berpikir, semoga Indonesia enggak pernah sampai begitu, tetapi kemudian langit Jakarta mirip Shanghai. Kondisi polusi Indonesia berkali-kali lipat dari batas sehat,” kata Alitt.
Shanghai kemudian berbenah. Langitnya kembali biru. Kendaraan listrik wara-wiri menggantikan kendaraan konvensional dan menjadi kota yang sangat rapi.
”Harapan saya, kita bisa seperti Shanghai. Jakarta jadi kota layak huni,” ujar Alit. Saat ini, ia memutuskan berlibur selama sepekan setiap bulan ke Yogyakarta untuk kesehatan jiwa dan raga dari hiruk-pikuk Jakarta.
Studi ITDP Indonesia yang didukung ViriyaENB menunjukkan bahwa elektrifikasi armada bus perkotaan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 66,7 persen pada tahun 2040. Elektrifikasi sekaligus bisa menghemat subsidi transportasi hingga 30 persen.
Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia Gonggomtua Sitanggang mengatakan, transisi ke bus listrik bukan hanya soal mengganti teknologi, tetapi membuka peluang bagi kota-kota di Indonesia untuk menghadirkan layanan transportasi umum yang lebih efisien, bersih, dan terjangkau. Di sisi satunya, langkah ini dapat menciptakan lapangan kerja hijau dan memperkuat rantai nilai industri transportasi bersih.
”Transisi juga mencakup perubahan sistemik, mulai dari infrastruktur hingga perilaku pengguna transportasi,” ucap Gonggomtua.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul