Pendekatan pembelajaran sekarang membuat murid menjadi tertekan karena hanya belajar untuk lulus ujian, bukan memahami secara utuh materi belajar.
23 Mei 2025 08:08 WIB · Dikbud
JAKARTA, KOMPAS - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyatakan bahwa tidak mudah untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran (learning loss) yang dialami para murid akibat pandemi Covid-19. Dampak dari wabah yang menyebabkan pembelajaran jarak jauh itu semakin terasa dengan kualitas para pelajar yang menurun pascapandemi.
Mu'ti mengatakan, beberapa hasil pemantauan tumbuh kembang anak di Indonesia memperlihatkan bahwa kemampuan kognitif pelajar sekarang semakin menurun. Beberapa potongan video di media sosial yang memperlihatkan kebingungan anak menjawab hal-hal umum adalah bukti dari learning loss tersebut.
"Sekarang mengembalikannya cukup rumit, perlu waktu. Saya sebagai dosen merasakan betul dampaknya, mereka yang sudah kuliah itu jauh di bawah yang seharusnya," kata Mu'ti melalui keterangan pers, Jumat (23/5/2025). Sehari sebelumnya, Mu’ti berbicara dalam seminar ''Pembelajaran SD dengan Pendekatan Deep Learning” di Universitas Muhammadiyah Purworejo, Jawa Tengah.
Dia bercerita, saat membimbing mahasiswa pascasarjana, ia melihat kemampuan kognitif mahasiswa tersebut tidak seperti apa yang diekspektasikannya. Kasus seperti ini tidak hanya dialami oleh Mu'ti saja, tetapi oleh banyak guru dan dosen di Indonesia sekarang.
Ini tergambar dalam Skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia tahun 2022 yang mengalami penurunan di semua bidang, yaitu literasi membaca (359 poin), matematika (366 poin), dan sains (383 poin). Secara keseluruhan, Indonesia mendapatkan skor 369 poin.
Menurut Mu'ti, selain karena wabah, fenomena ini disebabkan oleh pendekatan pembelajaran yang masih berorientasi kuantitatif dan belum memberikan ruang berpikir tingkat tinggi. Pendekatan ini membuat para murid menjadi tertekan karena dia belajar hanya untuk lulus ujian, bukan memahami secara utuh materi belajar.
Banyak sekolah masih terjebak dalam pola pembelajaran permukaan.
Untuk itu, menteri sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini akan menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Dengan pendekatan ini, murid akan memahami suatu konsep secara menyeluruh, lalu menghubungkannya dengan pengetahuan lain, serta menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan nyata.
"Secara kebijakan, yang pertama adalah gurunya dulu yang diperbaiki. Orang boleh bicara teknologi secanggih apapun, tetapi guru itu punya peran penting menentukan keberhasilan dan memotivasi belajar. Mengajar itu menginspirasi, bukan menjejali murid," ungkap Mu'ti.
Dalam kesempatan ini, Mu'ti kembali menegaskan bahwa ini bukan berarti mengganti Kurikulum 2013 (K-13) maupun Kurikulum Merdeka yang berdasarkan peraturan masih berlaku secara nasional sekarang. Ini menampik anggapan banyak pihak bahwa kurikulum akan diganti saat ia menjabat sebagai menteri.
"Kami tidak akan mengubah kurikulum itu, K-13 biarlah berjalan, merdeka biarlah berjalan, tetapi dengan pendekatan pembelajaran mendalam," tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/03/16/d626070f-301f-4503-b9bb-6e8c5f33e675_jpg.jpg)
Sebelumnya, pakar pendidikan dari Australia, Rob Randall saat bertemu para guru di Balai Guru Penggerak Provinsi Banten, Maret lalu mengungkapkan, deep learning bukanlah konsep baru. Namun, sistem pendidikan modern harus berfokus menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan memiliki keterampilan memecahkan masalah melalui deep learning.
"Tetapi dalam sistem pendidikan modern sekarang, banyak sekolah masih terjebak dalam pola pembelajaran permukaan (surface learning) yang berfokus pada hafalan dan pemahaman dasar," kata Rob.
Terdapat beberapa aspek penting dalam penerapan deep learning, antara lain; pemahaman konseptual yang kuat, penerapan dalam berbagai konteks, peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, kolaborasi dan pembelajaran berbasis proyek, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan dalam pembelajaran, serta pentingnya pembelajaran seumur hidup.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/22/fafa286e-603b-43f4-8fc8-506a79021278_jpg.jpg)
Namun, untuk mencapai itu, sistem pendidikan Indonesia perlu diperbaiki dengan mempersiapkan guru agar mampu menerapkan metode pembelajaran yang berbasis eksplorasi dan pemecahan masalah. Kemudian, kurikulum harus disederhanakan agar siswa memiliki waktu lebih banyak untuk mendalami suatu konsep sebelum beralih ke materi berikutnya.
Selain itu, infrastruktur teknologi harus ditingkatkan agar siswa dan guru dapat memanfaatkan sumber belajar digital secara optimal. Dan terakhir, penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir dan pemecahan masalah siswa.
"Jika kita ingin menciptakan generasi yang siap menghadapi masa depan, kita harus memastikan bahwa pembelajaran di sekolah bukan hanya tentang mengingat informasi, tetapi tentang bagaimana memahami, menerapkan, dan berinovasi," kata Rob.
Deep learning direncanakan akan diterapkan mulai tahun ajaran 2025/2026 di Indonesia. Penerapannya akan dimulai secara bertahap di beberapa sekolah prioritas terlebih dahulu, yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Model. Sekolah Model merupakan transformasi dari Sekolah Penggerak yang telah memiliki guru-guru yang terlatih.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .