SEPAK BOLA

Analisis: Mengapa Banyak Laga Banjir Gol di Piala Dunia 2026?

Total sudah tercipta 121 gol dari 40 pertandingan Piala Dunia 2026. Rata-rata gol per laga pun berada di atas tiga, sudah jauh melampaui Piala Dunia 2022.

22 Jun 2026 16:35 WIB · Olahraga

AP Photo/Petr David Josek

Oleh Mohamad Final Daeng

Hingga partai ke-40 Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Mesir dan Selandia Baru, Senin (22/6/2026) pagi WIB, jumlah gol yang tercipta telah melejit tinggi. Kondisi ini buntut banyaknya laga yang berakhir dengan banjir gol. Mengapa fenomena tersebut bisa terjadi?

Laga Mesir Vs Selandia baru yang berakhir 3-1 itu membuat total produksi gol Piala Dunia 2026 mencapai 121 gol. Dengan 40 pertandingan, artinya, rata-rata tercipta 3,025 gol di setiap laga Piala Dunia 2026 sejauh ini.

Angka itu sudah melampaui capaian Piala Dunia 2022 di Qatar yang mencatatkan rata-rata 2,69 gol per laga dengan total 172 gol dari 64 pertandingan. Namun, angka rata-rata gol Piala Dunia 2026 masih akan bergerak seiring terus bergulirnya turnamen hingga menyelesaikan seluruh 104 partai nanti.

Menurut data ESPN, jumlah gol rata-rata per laga Piala Dunia 2026 sejauh ini menempati peringkat ketujuh dari 23 edisi Piala Dunia. Angka produktivitas gol tertinggi masih dipegang edisi 1954 dengan 5,4 gol per laga, disusul edisi 1938 (4,7 gol), 1934 (4,1), 1950 (4,0), 1930 (3,9), dan 1958 (3,6).

ATLANTA, GEORGIA - JUNE 21: is tackled by Lamine Yamal #19 of Spain holds off Salem Aldawsari #10 of Saudi Arabia during the FIFA World Cup 2026 Group H match between Spain and Saudi Arabia at Atlanta Stadium on June 21, 2026 in Atlanta, Georgia.   Justin Setterfield/Getty Images/AFP (Photo by Justin Setterfield / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Paling cepat

BBC Sport juga mencatat Piala Dunia 2026 menjadi edisi yang tercepat mencetak 100 gol selama 68 tahun terakhir, yakni dalam 33 partai. Edisi kali ini cuma kalah dari edisi 1954 di Swiss yang menembus gol ke-100 hanya dari 20 pertandingan.

Gol ke-100 Piala Dunia 2026 itu tercapai saat laga Belanda vs Swedia dalam lanjutan Grup F pada Minggu (21/6/2026) dini hari WIB. Adalah gol keempat Belanda yang dicetak Cody Gakpo dalam pertandingan yang berakhir 5-1 untuk tim ”Oranye” tersebut yang menjadi markanya.

Sementara dari 40 laga penyisihan grup yang telah berjalan, sebanyak 11 tim membukukan kemenangan telak atau dengan selisih minimal tiga gol. Paling anyar adalah kemenangan 4-0 juara dunia 2010, Spanyol, atas Arab Saudi pada lanjutan Grup H, Minggu (21/6/2026) malam WIB.

Adapun kemenangan paling besar masih tercatat milik Jerman saat melumat Curacao 7-1 pada laga pembuka Grup E. Selisih gol yang sama juga ditorehkan tuan rumah Kanada kala menggilas Qatar 6-0 dalam partai kedua Grup B.

Germany's Jamal Musiala scores their fourth goal during the World Cup Group E soccer match between Germany and Curacao in Houston, Sunday, June 14, 2026. (AP Photo/Eric Gay)

Laga Jerman vs Curacao itu sekaligus mencatatkan jumlah gol terbanyak dalam satu laga edisi 2026 sejauh ini, yakni delapan gol. Terdapat 10 laga yang berakhir dengan total sajian minimal lima gol.

Terciptanya banyak gol dalam sebuah pertandingan sepak bola tentu membahagiakan bagi para penggemar, terutama yang telah membayar mahal untuk datang langsung ke stadion. Namun, adakah faktor khusus yang memicu fenomena obral gol dalam edisi Piala Dunia kali ini?

Salah satu variabel yang disebut-sebut banyak analis sepak bola menjadi akar fenomena ini adalah format Piala Dunia yang mengembang. Sebelumnya, sejak edisi 1998 hingga 2022, babak utama Piala Dunia diikuti 32 tim yang terbagi dalam delapan grup. Saat ini, total terdapat 48 tim peserta yang tersebar di 12 grup.

Dari 48 tim itu, hanya 26 tim dari edisi 2022 yang tampil kembali dan 18 tim lainnya hadir setelah absen setidaknya satu edisi. Jika catatan absen diperpanjang menjadi dua edisi, ada 12 tim yang kini bisa menikmati babak utama lagi setelah ”bolos” paling sedikit 12 tahun atau terakhir tampil pada edisi 2014.

KANSAS CITY, MISSOURI - JUNE 16: Lionel Messi #10 of Argentina celebrates scoring his team's first goal during the FIFA World Cup 2026 Group J match between Argentina and Algeria at Kansas City Stadium on June 16, 2026 in Kansas City, Missouri.   Charlotte Wilson/Getty Images/AFP (Photo by Charlotte Wilson / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Kesenjangan melebar

Ada pula empat tim berstatus debutan alias baru pertama tampil, yakni Uzbekistan, Tanjung Verde, Jordania, dan Curacao. Kondisi itu membuat spektrum kualitas tim kontestan makin lebar dibanding edisi 1998-2022.

Hal ini, misalnya, dibuktikan lewat ranking FIFA per 1 April 2026 atau sebelum Piala Dunia digelar. Jika dibelah menjadi dua kuadran, sebanyak 22 kontestan berada di urutan 1-24, sedangkan sisa 26 tim lainnya tersebar mulai peringkat 25 hingga 85.

Kondisi itu kemudian tecermin pada disparitas performa di lapangan. Banjir gol pada laga Jerman-Curacao dan Kanada-Qatar menjadi salah satu contohnya. Patut diingat, ini merupakan kali pertama Qatar lolos melalui jalur kualifikasi setelah pada 2022 tampil dengan jatah tuan rumah.

Quote

Kita ingin membuat sepak bola mengglobal ke seluruh dunia.

Selain Tanjung Verde, yang menahan Spanyol dan Uruguay, dua tim debutan lain menelan kekalahan 1-3 atas lawan-lawannya pada laga perdana, yakni Uzbekistan dan Jordania. Irak, tim yang terakhir tampil di Piala Dunia pada 1986 atau 40 tahun lalu, digulung Norwegia, 1-4.

Namun, Arsene Wenger, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, meyakini, pengembangan jumlah kontestan Piala Dunia justru akan meningkatan kesempatan dan merangsang pertumbuhan sepak bola. Di sisi lain, hal itu dianggapnya tidak akan berdampak pada kualitas partai yang ditampilkan.

”Ini evolusi alami. Kita ingin membuat sepak bola mengglobal ke seluruh dunia,” ujar mantan pelatih Arsenal tersebut, seperti dikutip laman FIFA.

Infografik Pembagian Grup Piala Dunia 2026

Mekarnya jumlah kontestan juga membuat jeda waktu antarpertandingan yang harus dilakoni setiap tim menjadi lebih panjang. Meksiko, misalnya, menikmati jeda 7 hari sejak laga pembuka melawan Afsel hingga laga kedua melawan Korsel.

Hal ini membuat setiap tim memiliki waktu yang cukup untuk pemulihan fisik sekaligus mematangkan taktik, sehingga potensi mencetak gol bertambah. Pemain yang mengalami cedera ringan pun berpotensi sembuh sebelum laga berikutnya datang.

Jeda hidrasi (hydration breaks) selama 3 menit pada setiap babak turut membantu pemain menjaga stamina sepanjang 90 menit, terutama untuk mengatasi cuaca panas di AS. Selain itu, kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan pelatih untuk memberi instruksi demi memperbaiki performa.

Pelatih Swiss Murat Yakin mengatakan, jeda 3 menit itu membuat dirinya bisa mengarahkan pemain tentang apa yang harus dilakukan. ”Kami dapat memberi mereka gambaran-gambaran. Selama 3 menit kami berbicara dengan pemain, membahas perubahan taktik maupun penggantian pemain,” ujarnya.

Brazil fans react as they wait for the start of the World Cup Group C soccer match between Brazil and Haiti in Philadelphia, Friday, June 19, 2026. (AP Photo/Petr David Josek)

Dalam sejumlah laga, hal itu terbukti ampuh. Brasil, misalnya, bisa membalas ketinggalan satu gol dari Maroko usai jeda hidrasi babak pertama. Terkini, Uruguay mampu membalikkan defisit satu gol menjadi keunggulan 2-1 saat melawan Tanjung Verde.

Insentif sistem

Satu faktor lain yang memacu setiap tim mengejar produksi gol adalah sistem yang berubah. Untuk pertama kalinya sejak edisi 1994, Piala Dunia kembali memberi jatah fase gugur kepada tim peringkat tiga terbaik. Sebanyak delapan tim akan memperoleh status tersebut.

Quote

Jika ada dua atau lebih tim memiliki poin sama, FIFA memakai selisih gol terbesar sebagai penentunya.

Pada akhir putaran grup, semua tim peringkat tiga akan disusun urutannya berdasarkan jumlah poin. Pengumpul poin terbanyak dipastikan lolos ke babak 32 besar. Namun, jika ada dua atau lebih tim memiliki poin yang sama di antara tim peringkat ketiga, FIFA memakai selisih gol terbesar sebagai penentunya.

Kalau masih sama juga, FIFA akan melihat jumlah gol memasukkan terbanyak, kemudian poin fair play (jumlah kartu kuning dan merah). Terakhir, jika tetap buntu, tim yang lolos adalah yang posisinya tertinggi berdasarkan ranking FIFA terbaru.

TOPSHOT - France's forward #10 Kylian Mbappe (R) celebrates after scoring his team's third goal with teammate France's defender #05 Jules Kounde during the 2026 World Cup Group I football match between France and Senegal at the New York/New Jersey Stadium in East Rutherford on June 16, 2026.  (Photo by CHARLY TRIBALLEAU / AFP)

Insentif selisih gol dan gol memasukkan itulah yang memacu semua tim tampil all-out dalam setiap laga. Bagi tim kuat, walaupun sudah unggul, mereka akan berupaya mencetak gol sebanyak-banyaknya sebagai ”tabungan” di akhir putaran.

Adapun bagi tim lemah, paling tidak mencuri satu kemenangan menjadi misi untuk lolos sebagai peringkat tiga terbaik. Kalaupun kalah, mereka akan berupaya menutup selisih gol seminimal mungkin.

Simulasi superkomputer Opta setelah putaran pertama penyisihan grup menunjukkan, dengan hanya tiga poin (hasil satu kemenangan atau tiga kali seri), sebuah tim memiliki peluang 66,77 persen untuk lolos ke fase gugur.

Sementara jika menilik selisih gol, Opta menunjukkan sebuah tim dengan angka minus 2 memiliki peluang 63,4 persen untuk melaju. Namun, persentase itu melonjak signifikan menjadi 84,2 persen jika setidaknya mereka mencatatkan selisih minus 1 dan menjadi 94,8 persen jika selisihnya impas alias nol.


Kerabat Kerja

Penulis:

Mohamad Final Daeng
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase