Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa alasan Elon Musk keluar dari pemerintahan Trump?
- Apakah kondisi perusahaannya memengaruhi keputusan Elon Musk untuk keluar?
- Siapa saja yang sudah menjadi ”korban” DOGE?
- Apakah efisiensi model DOGE pernah dilakukan sebelumnya?
- Bagaimana nasib DOGE selanjutnya?
Apa alasan Musk keluar dari pemerintahan Trump?
Setelah mengkritik rancangan undang-undang yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, miliarder Elon Musk mengundurkan diri dari Gedung Putih. Ia akan mengurus perusahaannya, tetapi siap dipanggil lagi oleh Trump apabila dibutuhkan.
Hubungan Trump-Musk mulai tampak goyang ketika Trump secara sepihak menjatuhkan tarif impor untuk negara-negara mitra dagang AS. Dilaporkan oleh CBS edisi 8 April 2025, Musk bertengkar dengan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Peter Navarro. Sebagai pengusaha, Musk menentang segala bentuk proteksionisme, termasuk tarif.
Pekan lalu, Trump mengumumkan sedang menggodok RUU baru yang ”besar dan cantik”. Besar karena RUU itu membahas banyak hal sekaligus, mulai dari pengurangan pajak sampai dengan peningkatan perburuan dan deportasi terhadap para imigran ilegal. Hal pasti dari RUU ini adalah pengeluaran pemerintah bertambah.
Ini bertentangan dengan prinsip dan langkah yang telah diambil Departemen Efisiensi Pemerintah atau Department of Government Efficiency (DOGE) yang dipimpin Musk. Musk melihat RUU itu sebagai pertanda sudah waktunya meninggalkan politik dan kembali fokus ke perusahaan-perusahaannya. Apalagi, saham Tesla anjlok sejak ia memimpin DOGE.
Apakah kondisi perusahaannya memengaruhi keputusan Musk untuk keluar?
Atas dalih merampingkan birokrasi dan efisiensi, DOGE memecat pegawai-pegawai federal AS, termasuk para pendukung Trump. Per Februari 2025, DOGE sudah memecat 30.000 pegawai federal. Walhasil, bisa dibilang Musk dalam waktu singkat menjadi orang yang paling dibenci di AS.
Imbasnya ke produk-produk yang dibuat oleh perusahaannya. Kanada membatalkan kontrak dengan Starlink untuk 2025. Produk Musk yang paling populer, Tesla, menjadi bulan-bulanan.
Banyak orang kehilangan gairah membeli Tesla dan memilih mempertimbangkan membeli mobil listrik buatan China. Akibatnya, saham Tesla terjun bebas, sampai 50 persen. Para penanam modal melakukan divestasi. Bahkan, hanya dalam dua hari, Musk kehilangan 148 miliar dollar AS. Nilai kekayaan Musk kini 333,1 miliar dollar AS.
Majalah bisnis Fortune melaporkan, harga Tesla Model X dan Y bekas pada 2022 minimal masih 70.000 dollar AS (Rp 1,14 miliar). Sekarang, harganya cuma 26.000 dollar AS (Rp 425 juta) dan diperkirakan turun lagi. Ini penurunan harga terburuk dari semua jenis mobil listrik di dunia.
Siapa saja yang sudah menjadi ”korban” DOGE?
Demi efisiensi anggaran, pemerintahan Trump melalui DOGE menargetkan pemecatan hingga 2,3 juta pegawai pemerintah di lingkup federal AS. Sebagai langkah awal, sasaran pertama pemangkasan adalah para pegawai yang masih dalam masa percobaan dengan masa kerja kurang dari satu tahun. Trump menilai, pemerintah federal terlalu gemuk dan menggerogoti anggaran karena terlalu boros dan terlalu banyak pekerjaan yang menipu.
Musk lalu mengirim anggota DOGE ke sedikitnya 16 badan pemerintah. Mereka mengakses sistem komputer pemerintah yang berisi informasi sensitif soal personel dan informasi keuangan pegawai. Hal ini diikuti dengan pemecatan pekerja.
Selain PHK, Trump dan Musk menggagas penghapusan sejumlah lembaga pemerintah, seperti Badan Pembangunan Internasional AS dan Biro Perlindungan Keuangan Konsumen (CFPB). Badan untuk Pembangunan Internasional AS (USAID) juga ditutup sebagai bagian dari pemotongan anggaran pemerintah.
Trump menganggap, memberi bantuan pembangunan kepada negara-negara lain menghambur-hamburkan uang AS. Trump ingin USAID dilebur ke dalam Departemen Luar Negeri. Padahal, selama ini, USAID adalah lembaga pemerintah yang independen dan tidak berada di bawah departemen mana pun.
Departemen Luar Negeri AS juga menangguhkan semua program kerja sama internasional, seperti beasiswa Fulbright, Gilman, dan studi bahasa kritis. Anggaran perguruan-perguruan tinggi paling elite di AS, seperti Universitas Harvard, Columbia, Pennsylvania, dan Brown, pun dipotong. Walhasil, biaya operasional laboratorium dan hibah litbang turun drastis. Banyak program penelitian tidak bisa dilanjutkan.
Apakah efisiensi model DOGE pernah dilakukan sebelumnya?
Presiden AS periode 1993-2001 Bill Clinton pernah melakukan efisiensi. Melalui Kemitraan Nasional Perumusan Ulang Pemerintahan (REGO) yang dipimpin Wapres Al Gore, mereka memecat 426.000 pegawai. Namun, berbeda dengan DOGE, REGO melakukan kajian mendalam di setiap departemen/lembaga. Mereka mendengar masukan departemen/lembaga mengenai jenis efisiensi yang harus dilakukan.
Setelah enam bulan, REGO mengeluarkan proposal efisiensi dengan 400 usulan yang diserahkan kepada Kongres. Begitu disetujui oleh Kongres, efisiensi dilakukan secara bertahap. Hasilnya, para pegawai tidak sakit hati, kinerja departemen/lembaga meningkat, dan pemerintah surplus anggaran.
Bagaimana nasib DOGE selanjutnya?
Meski Musk keluar dari pemerintahan Trump, DOGE akan tetap beroperasi. Direktur Kantor Pengelolaan dan Pendanaan Russ Vought mengatakan kepada Fox News, DOGE sudah memasukkan usulan pemotongan anggaran terbaru ke DPR. Tinggal melihat DPR menyetujui atau tidak. DOGE belum memenuhi target menghemat 2 triliun dollar AS sesuai dengan yang mereka janjikan.
Musk sesumbar, dari 7 triliun dollar AS pengeluaran pemerintah, DOGE bisa menghemat 2 triliun dollar. Mereka baru menghemat 150 miliar dollar AS, tetapi dengan efek samping kekacauan kinerja di lembaga-lembaga pemerintah.
Pemecatan berskala besar yang dilakukan DOGE menjadi senjata makan tuan bagi Musk. Banyak lembaga yang lumpuh, antara lain Departemen Pertanian dan Komisi Pengaturan Nuklir (NRC). Wabah flu burung yang mematikan ayam petelur dan ayam potong di AS menjadi tidak terkendali. DOGE sudah meminta para pegawai yang dipecat kembali bekerja. Namun, banyak yang sudah telanjur sakit hati sehingga tidak mau.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa alasan Elon Musk keluar dari pemerintahan Trump?
- Apakah kondisi perusahaannya memengaruhi keputusan Elon Musk untuk keluar?
- Siapa saja yang sudah menjadi ”korban” DOGE?
- Apakah efisiensi model DOGE pernah dilakukan sebelumnya?
- Bagaimana nasib DOGE selanjutnya?
Apa alasan Musk keluar dari pemerintahan Trump?
Setelah mengkritik rancangan undang-undang yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, miliarder Elon Musk mengundurkan diri dari Gedung Putih. Ia akan mengurus perusahaannya, tetapi siap dipanggil lagi oleh Trump apabila dibutuhkan.
Hubungan Trump-Musk mulai tampak goyang ketika Trump secara sepihak menjatuhkan tarif impor untuk negara-negara mitra dagang AS. Dilaporkan oleh CBS edisi 8 April 2025, Musk bertengkar dengan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Peter Navarro. Sebagai pengusaha, Musk menentang segala bentuk proteksionisme, termasuk tarif.
Pekan lalu, Trump mengumumkan sedang menggodok RUU baru yang ”besar dan cantik”. Besar karena RUU itu membahas banyak hal sekaligus, mulai dari pengurangan pajak sampai dengan peningkatan perburuan dan deportasi terhadap para imigran ilegal. Hal pasti dari RUU ini adalah pengeluaran pemerintah bertambah.
Ini bertentangan dengan prinsip dan langkah yang telah diambil Departemen Efisiensi Pemerintah atau Department of Government Efficiency (DOGE) yang dipimpin Musk. Musk melihat RUU itu sebagai pertanda sudah waktunya meninggalkan politik dan kembali fokus ke perusahaan-perusahaannya. Apalagi, saham Tesla anjlok sejak ia memimpin DOGE.
Apakah kondisi perusahaannya memengaruhi keputusan Musk untuk keluar?
Atas dalih merampingkan birokrasi dan efisiensi, DOGE memecat pegawai-pegawai federal AS, termasuk para pendukung Trump. Per Februari 2025, DOGE sudah memecat 30.000 pegawai federal. Walhasil, bisa dibilang Musk dalam waktu singkat menjadi orang yang paling dibenci di AS.
Imbasnya ke produk-produk yang dibuat oleh perusahaannya. Kanada membatalkan kontrak dengan Starlink untuk 2025. Produk Musk yang paling populer, Tesla, menjadi bulan-bulanan.
Banyak orang kehilangan gairah membeli Tesla dan memilih mempertimbangkan membeli mobil listrik buatan China. Akibatnya, saham Tesla terjun bebas, sampai 50 persen. Para penanam modal melakukan divestasi. Bahkan, hanya dalam dua hari, Musk kehilangan 148 miliar dollar AS. Nilai kekayaan Musk kini 333,1 miliar dollar AS.
Majalah bisnis Fortune melaporkan, harga Tesla Model X dan Y bekas pada 2022 minimal masih 70.000 dollar AS (Rp 1,14 miliar). Sekarang, harganya cuma 26.000 dollar AS (Rp 425 juta) dan diperkirakan turun lagi. Ini penurunan harga terburuk dari semua jenis mobil listrik di dunia.
Siapa saja yang sudah menjadi ”korban” DOGE?
Demi efisiensi anggaran, pemerintahan Trump melalui DOGE menargetkan pemecatan hingga 2,3 juta pegawai pemerintah di lingkup federal AS. Sebagai langkah awal, sasaran pertama pemangkasan adalah para pegawai yang masih dalam masa percobaan dengan masa kerja kurang dari satu tahun. Trump menilai, pemerintah federal terlalu gemuk dan menggerogoti anggaran karena terlalu boros dan terlalu banyak pekerjaan yang menipu.
Musk lalu mengirim anggota DOGE ke sedikitnya 16 badan pemerintah. Mereka mengakses sistem komputer pemerintah yang berisi informasi sensitif soal personel dan informasi keuangan pegawai. Hal ini diikuti dengan pemecatan pekerja.
Selain PHK, Trump dan Musk menggagas penghapusan sejumlah lembaga pemerintah, seperti Badan Pembangunan Internasional AS dan Biro Perlindungan Keuangan Konsumen (CFPB). Badan untuk Pembangunan Internasional AS (USAID) juga ditutup sebagai bagian dari pemotongan anggaran pemerintah.
Trump menganggap, memberi bantuan pembangunan kepada negara-negara lain menghambur-hamburkan uang AS. Trump ingin USAID dilebur ke dalam Departemen Luar Negeri. Padahal, selama ini, USAID adalah lembaga pemerintah yang independen dan tidak berada di bawah departemen mana pun.
Departemen Luar Negeri AS juga menangguhkan semua program kerja sama internasional, seperti beasiswa Fulbright, Gilman, dan studi bahasa kritis. Anggaran perguruan-perguruan tinggi paling elite di AS, seperti Universitas Harvard, Columbia, Pennsylvania, dan Brown, pun dipotong. Walhasil, biaya operasional laboratorium dan hibah litbang turun drastis. Banyak program penelitian tidak bisa dilanjutkan.
Apakah efisiensi model DOGE pernah dilakukan sebelumnya?
Presiden AS periode 1993-2001 Bill Clinton pernah melakukan efisiensi. Melalui Kemitraan Nasional Perumusan Ulang Pemerintahan (REGO) yang dipimpin Wapres Al Gore, mereka memecat 426.000 pegawai. Namun, berbeda dengan DOGE, REGO melakukan kajian mendalam di setiap departemen/lembaga. Mereka mendengar masukan departemen/lembaga mengenai jenis efisiensi yang harus dilakukan.
Setelah enam bulan, REGO mengeluarkan proposal efisiensi dengan 400 usulan yang diserahkan kepada Kongres. Begitu disetujui oleh Kongres, efisiensi dilakukan secara bertahap. Hasilnya, para pegawai tidak sakit hati, kinerja departemen/lembaga meningkat, dan pemerintah surplus anggaran.
Bagaimana nasib DOGE selanjutnya?
Meski Musk keluar dari pemerintahan Trump, DOGE akan tetap beroperasi. Direktur Kantor Pengelolaan dan Pendanaan Russ Vought mengatakan kepada Fox News, DOGE sudah memasukkan usulan pemotongan anggaran terbaru ke DPR. Tinggal melihat DPR menyetujui atau tidak. DOGE belum memenuhi target menghemat 2 triliun dollar AS sesuai dengan yang mereka janjikan.
Musk sesumbar, dari 7 triliun dollar AS pengeluaran pemerintah, DOGE bisa menghemat 2 triliun dollar. Mereka baru menghemat 150 miliar dollar AS, tetapi dengan efek samping kekacauan kinerja di lembaga-lembaga pemerintah.
Pemecatan berskala besar yang dilakukan DOGE menjadi senjata makan tuan bagi Musk. Banyak lembaga yang lumpuh, antara lain Departemen Pertanian dan Komisi Pengaturan Nuklir (NRC). Wabah flu burung yang mematikan ayam petelur dan ayam potong di AS menjadi tidak terkendali. DOGE sudah meminta para pegawai yang dipecat kembali bekerja. Namun, banyak yang sudah telanjur sakit hati sehingga tidak mau.