Mengapa Kaum Muda Sekarang Kurang Bahagia?

Studi oleh NBER menemukan, teknologi digital, ekonomi, dan kesepian adalah penyebab utama ketidakbahagiaan anak muda sekarang.

14 Mar 2025 04:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Kebahagiaan adalah bagian dari kurva kehidupan. Biasanya, kebahagiaan paling terasa saat seseorang masih muda, lalu berkurang di usia paruh baya dan kembali meningkat di masa tua. Namun, pola semacam ini tidak lagi berlaku bagi generasi Z.

Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) Amerika Serikat meneliti kebahagiaan berbagai kelompok umur. Studi yang dirilis pada Februari 2025 itu menemukan bahwa anak muda ternyata jauh lebih tidak bahagia dibandingkan dengan generasi sebelumnya dalam satu dekade terakhir atau lebih.

Data penelitian berasal dari 11 survei di enam negara yang berbahasa Inggris, yakni Australia, Kanada, Irlandia, Selandia Baru, Inggris Raya, dan Amerika Serikat. Jean Twenge, psikolog dari San Diego State University, dan David G Blanchflower, ekonom dari Dartmouth University, terlibat dalam penelitian tersebut.

”Penurunan ketidakbahagiaan terutama terlihat pada remaja dan dewasa muda berusia 12-25 tahun. Banyak di antara mereka yang menghadapi depresi dan tekanan psikologis pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang hanya beberapa tahun lebih tua,” tulis Twenge dan Blanchflower, dikutip dari Al Jazeera edisi Jumat (7/3/2025).

Sementara itu, orang dewasa yang lebih tua masih merasakan peningkatan kepuasan hidup seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian Twenge dan Blanchflower itu menggugurkan kepercayaan lama bahwa kebahagiaan mengikuti kurva berbentuk U.

Pergeseran yang mengejutkan itu telah menimbulkan kekhawatiran. Tampaknya, generasi muda menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia pascapandemi Covid-19.

Temuan NBER menggaungkan kembali data The World Happiness Report 2024 oleh Pusat Penelitian Kesejahteraan. Laporan ini menyebutkan, kaum muda di bawah usia 30 tahun telah mengalami penurunan kebahagiaan yang dramatis sejak pandemi Covid-19.

Penyebab ketidakbahagiaan

Teknologi digital, ekonomi, dan kesepian adalah penyebab utama ketidakbahagiaan anak muda sekarang. Menurut temuan penelitian, ada korelasi yang jelas antara menurunnya kebahagiaan dan meningkatnya penggunaan internet di era ponsel pintar dan media sosial.

Itulah, kata para peneliti, yang menjadi perbedaan utama antara generasi muda saat ini dan generasi sebelum mereka. ”Internet adalah tokoh utama yang harus disalahkan. Tidak ada hal lain yang sesuai dengan fakta,” ujar Blanchflower.

Gawai menjadi medium bagi anak muda untuk bergaul.

Pernyataan Blanchflower tampaknya didukung oleh penelitian di negara-negara lain seluruh dunia. Pada 2024, survei oleh Pew Research menemukan bahwa tiga dari empat remaja AS merasa bahagia atau damai saat tidak menggunakan ponsel pintar.

Di Inggris, laporan The Good Childhood Report 2024 mendapati bahwa remaja dan praremaja Inggris adalah kaum yang paling tidak bahagia di Eropa dengan media sosial sebagai penyebab utama. Penelitian dengan kesimpulan yang mirip turut muncul di Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, dengan semakin banyak anak muda yang memiliki akses ke ponsel pintar.

”Ini jelas merupakan tren global, terutama bagi mereka yang terhubung dengan internet,” kata Blanchflower, yang juga menemukan masalah serupa di sejumlah negara Afrika lewat penelitian yang berbeda.

Menurut Blanchflower, ada pula bukti yang menunjukkan tingkat kebahagiaan orang-orang paruh baya yang menggunakan ponsel pintar lebih rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya di usia yang sama. Generasi sebelumnya tercatat tidak menggunakan ponsel pintar atau internet.

Internet dan ponsel pintar bukan satu-satunya sumber masalah. Studi oleh NBER menemukan pula, faktor pendorong lain di balik penurunan kebahagiaan di kalangan anak muda ialah kesulitan ekonomi dan kesepian.

”Sejumlah kekuatan budaya mungkin berperan, yang berdampak negatif pada kepuasan hidup dan pandangan masyarakat, termasuk menurunnya interaksi sosial secara langsung, meningkatnya penggunaan media sosial, dan meningkatnya kesenjangan pendapatan,” tulis Twenge dan Blanchflower.

Ximena Carrizalez, 11, dari Tulsa, tertawa saat menuruni bukit dengan kardus di Will Rogers High School di Tulsa, Oklahoma, Kamis (18/2/2021). AP/ Tulsa World/ Ian Maule

Upaya bahagia

Namun, Blanchflower meragukan prospek untuk membalikkan tren ini. ”Kekhawatirannya adalah penurunan kesejahteraan kaum muda terus berlanjut. Hal ini menyebar ke seluruh dunia,” ucapnya.

Blanchflower hanya bisa mengusulkan agar orang-orang menjauh dari ponsel mereka. Sudah saatnya mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang lain.

Di Inggris, kesadaran itu belakangan muncul. Jajak pendapat oleh New Britain Project mendapati, dua pertiga dari partisipan usia 16-24 tahun menganggap media sosial lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaatnya.

Anak muda Inggris mulai bertindak sendiri agar jauh dari ponsel pintar di internet, meski mereka tumbuh secara daring. Menurut The Guardian, semakin banyak kelab malam, klub lari, kelompok baca, dan pesta tatap muka yang meminta agar orang tidak menggunakan ponsel.

Penulis Adele Zeynep Walton (25), misalnya, sampai mendirikan Logging Off Club. Klub ini menyelenggarakan pertemuan sosial di dunia nyata bagi orang-orang yang mencoba menghentikan penggunaan ponsel, tetapi merasa malu membicarakannya.

”Kami mengambil ponsel orang-orang di pintu dan menaruhnya di ember,” kata Walton dengan riang di acara Logging Off Club.

Ghifari Arkanata (8), anak dari Desa Keseneng, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah memainkan ponsel pintarnya pada Sabtu (25/2/2023). Ia salah satu anak yang mengenal gawai sejak usia dini. Orangtuanya memberi gawai untuk mengatasi Ghifari yang rewel saat masih kecil. Kebiasaan menggunakan gawai berlangsung hingga sekarang dengan pengawasan dari orangtua.

Pada salah satu acara, ia memberi peserta sejumlah kartu petunjuk untuk membantu anggota memulai percakapan. Walton punya alasan sendiri untuk mendirikan klub tersebut.

Meski telah berbicara secara daring selama bertahun-tahun dengan berbagai kenalan, dia tidak tahu nama tetangga di sekitar rumah. Bagi dia, pelantar media sosial menjual kebohongan tentang koneksi lewat komunitas semu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada