Atalanta jadi penyelamat reputasi Italia di Liga Champions dengan mengalahkan Borussia Dortmund. Wakil lain, Juventus, gagal ”rimonta”.
26 Feb 2026 09:16 WIB · Olahraga
AP
Bayang-bayang tanpa wakil di babak 16 besar Liga Champions menghantui Italia setelah peraih scudetto musim lalu, Napoli, tersingkir sejak fase liga, dan pemuncak klasemen musim ini, Inter Milan, gugur pada babak playoff. Lalu, Atalanta kembali muncul sebagai andalan. ”La Dea” atau ”Sang Dewi” lagi-lagi jadi penyelamat wajah Italia di kancah Eropa lewat rimonta dramatisnya.
Stadion Bergamo, Italia, Rabu (25/2/2026) malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB, jadi saksi kegemilangan Atalanta pada laga kedua babak playoff. Untuk menang atas Borussia Dortmund, Atalanta tahu bahwa mereka harus bisa menciptakan keunggulan minimal tiga gol setelah kalah 0-2 pada pertemuan pertama di markas lawan.
Sang Dewi mewujudkan misi berat itu dengan menang 4-1 untuk melaju ke babak 16 besar lewat agregat 4-3. Keunggulan yang diinginkan itu bahkan sudah tercipta kurang dari satu jam laga lewat ol Gianluca Scamacca pada menit ke-5, Davide Zappacosta (45’), dan Mario Pasalic (57’). Gol penalti Lazar Samardzic pada pengujung laga memastikan kemenangan Atalanta.
”Ini sebuah prestasi yang akan tetap tercatat dalam sejarah sepak bola Italia,” kata Pelatih Atalanta Raffaele Palladino, yang tak ragu melebih-lebihkan perkataannya untuk menggambarkan malam yang luar biasa bagi tim, dikutip dari Sky Sport Italia.
”Kami tahu itu sulit, tetapi bukan tidak mungkin. Di ruang ganti, saya memanfaatkan fakta bahwa tidak ada yang percaya kepada kami,” ucapnya lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/26/3af4f7f92049a216d8e083f0a2b173dd-3e157dcde2ea43e99f066aaca6744150_0_e756b4a79d2e44ce87ed7a180ae7bd0c.jpg)
Memang, tidak banyak yang menyangka Atalanta yang akhirnya akan melaju lebih jauh dari wakil Italia lainnya. Apalagi, peluang Atalanta dinilai cukup berat karena harus menantang finalis musim 2023-2024, Borussia Dortmund. Kekalahan 0-2 pada pertemuan pertama mempertegas hal itu.
Italia mengirimkan empat wakil ke Liga Champions 2025-2026. Selain Atalanta, ada Napoli, Inter Milan, dan Juventus. Napoli tersingkir lebih cepat setelah hanya bisa finis pada posisi ke-30 klasemen fase liga.
Adapun dua tim Italia lain bernasib sama dengan Atalanta yang harus berjuang di babak playoff dan kalah pada laga pertama. Inter Milan kalah 1-3 dari Bodo/Glimt, sedangkan Juventus takluk 2-5 dari Galatasaray.
Perbedaannya, kans Inter dan Juventus seharusnya lebih terbuka karena, di atas kertas, lawan berada di bawah mereka. Namun, keunggulan itu pada akhirnya hanya berlaku di atas kertas. Sebab, di lapangan, Inter kalah dengan agregat 2-5 dan Juventus kalah dengan agregat 5-7.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/26/b59041ae734a5e1c6ea1928d8ee7ee65-e7cf059c285b40288fc2bda0ac7900b5_0_286109a4fad0485cab261cf3b2e4b62f.jpg)
Seperti yang dikatakan Palladino, Atalanta memanfaatkan status mereka yang tidak diunggulkan itu menjadi kekuatan untuk membuktikan sebaliknya. Sang Dewi bahkan tak segan langsung bermain menekan dan berhasil menciptakan total 14 tembakan, yang delapan di antaranya tepat sasaran.
Kekalahan 0-2 pada pertandingan pertama seolah tidak lagi membuat mereka terpuruk. Palladino menyampaikan, anak-anak asuhannya berhasil mempelajari lawan dan mendapatkan kepercayaan diri setelah bisa menang 2-1 melawan Napoli di Italia setelah tertinggal lebih dulu.
Meski Dortmund sempat menyalakan harapan dengan menyamakan agregat lewat gol Karim Adeyemi pada menit ke-75, laga tersebut tetap menjadi milik Atalanta. Momen krusial itu datang pada menit akhir masa tambahan waktu saat Ramy Bansebaini mengangkat kaki tinggi saat berusaha menyapu bola dan mengenai kepala Nikola Krstovic di dalam kotak penalti.
Selain membuahkan kartu kuning kedua untuk Bansebaini, pelanggaran itu juga membuat wasit Jose Maria Sanchez Martinez menunjuk titik putih. Samardzic mengeksekusi dengan sempurna.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/26/bd5f87a749e9600c445c1ad7989c76a1-940c9a0fe9784e1cb094929852ee4437_0_e559288d310541ebbe66d84e41b0fd18.jpg)
”Mungkin kemenangan ini tidak terduga bagi mereka yang melihat dari luar, tetapi kami tahu nilai kami. Kami tahu bahwa, ketika kami memainkan gaya sepak bola kami bersama-sama, kami bisa mendapatkan kepuasan yang besar,” ujar Scamacca.
Ini menjadi kali kedua Atalanta menyelamatkan wajah Italia di kompetisi antarklub Eropa. Atalanta memecah kebuntuan tim Italia yang nirprestasi di kompetisi ”Benua Biru” sejak 2009-2010 dengan menjuarai Liga Europa pada 2023-2024.
Atalanta akan menghadapi Arsenal atau Bayern Muenchen pada babak 16 besar. Lawan akan ditentukan dalam undian yang digelar pada Jumat (27/2/2026).
Juventus gagal mengikuti kisah rimonta atau comeback dramatis Atalanta meski sempat menyamakan agregat menjadi 5-5 dengan mencetak tiga gol lebih dulu lewat aksi Manuel Locatelli, Federico Gatti, dan Weston McKennie. Gol Gatti (70’) dan McKennie (82’) bahkan tercipta dalam kondisi Juventus yang pincang setelah Lloyd Kelly mendapatkan kartu merah pada menit k-48.
Namun, dengan keunggulan pemain, Galatasaray mampu mencetak dua gol selama babak tambahan waktu melalui Victor Osimhen (105+2’) dan Baris Yilmaz (119’). Galatasaray pun menang dengan agregat 7-5.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/26/44fad33befeaeacf1320996eb5299d1a-347aa42bf78f48cf8dece782f66d09b0_0_27b0f492d8a64275bc43fb165554dfe3.jpg)
”Kami lelah dan kecewa dengan hasil ini, terlepas dari performa kami. Pada saat yang sama, kami sangat bangga dengan cara kami bermain,” kata Direktur Juventus Giorgio Chiellini, dikutip dari Football Italia.
Chiellini pun berharap kekalahan itu menjadi awal kebangkitan Juventus di sisa musim di Liga Italia. Terdekat, tim asuhan Pelatih Luciano Spalletti ini akan bertandang ke markas AS Roma pada pekan ke-27 Liga Italia.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra