Mengapa Trump dan Zelenskyy Bertengkar?

Presiden AS Donald Trump bertengkar dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Perbedaan mereka tajam, tetapi tak dikira keduanya bertengkar di depan media.

01 Mar 2025 11:54 WIB · Internasional

Oleh Redaksi

Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Ruang Oval, Gedung Putih, Washinton DC, Jumat (28/2/2025) waktu setempat atau Sabtu sian, berakhir dengan pertengkaran sengit. Trump menekan Zelenskyy untuk segera melakukan gencatan senjata dengan Rusia, tetapi Zelenskyy bersikeras bahwa Ukraina membutuhkan jaminan keamanan sebelum berdamai. Ketegangan meningkat ketika Trump menuding Zelenskyy tidak benar-benar menginginkan perdamaian. Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance juga menuduh Zelenskyy tidak bersyukur atas bantuan AS. Suasana pertemuan sangat tidak mengenakkan.

Salah satu agenda utama pertemuan adalah penandatanganan perjanjian mineral tanah jarang antara AS dan Ukraina. Namun, acara penandatanganan batal akibat pertengkaran di Ruang Oval. Zelenskyy juga keberatan dengan tuntutan AS yang ingin mendapatkan keuntungan besar dari mineral Ukraina sebagai imbalan atas bantuan militer.

(COMBO) This combination of pictures created on February 28, 2025 shows US President Donald Trump and Ukraine's President Volodymyr Zelensky meet in the Oval Office of the White House in Washington, DC, February 28, 2025. US President Donald Trump erupted at Volodymyr Zelensky on February 28, 2025, angrily sending the Ukrainian leader out of the White House after an extraordinary Oval Office meltdown because he was "not ready" for peace with Russia. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Sejak Trump menjabat sebagai Presiden AS, hubungan antara negara itu dan Eropa mengalami perpecahan tajam, terutama dalam kebijakan terkait Ukraina. Trump lebih memilih pendekatan negosiasi langsung dengan Rusia, sementara negara-negara Eropa tetap mendukung Ukraina secara penuh. Hal ini menyebabkan ketegangan antara AS dan sekutu-sekutunya di Eropa, yang merasa dikesampingkan dalam proses perundingan.

Para pemimpin Eropa menunjukkan solidaritas kuat terhadap Ukraina setelah pertemuan Trump-Zelenskyy di Gedung Putih. Mereka menegaskan bahwa Rusia adalah agresor, sedangkan Ukraina merupakan korban. Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, serta pemimpin negara-negara Eropa lainnya secara terbuka menyatakan dukungan mereka kepada Zelenskyy, bahkan mempertimbangkan penguatan bantuan militer langsung ke Ukraina tanpa bergantung pada AS.

This handout picture taken and released by the Russian Foreign Ministry shows (L-R) US Middle East envoy Steve Witkoff, Secretary of State Marco Rubio, National Security Advisor Mike Waltz, Saudi Arabia's Foreign Minister Prince Faisal bin Farhan al-Saud, National Security Advisor Mosaad bin Mohammad al-Aiban, the Russian president's foreign policy advisor Yuri Ushakov, and Russia's Foreign Minister Sergei Lavrov attending a meeting together at Riyadh's Diriyah Palace on February 18, 2025. Russia told the United States in talks on February 18 that it opposed any NATO member sending troops to Ukraine as part of a ceasefire, Moscow's foreign minister said. (Photo by RUSSIAN FOREIGN MINISTRY / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / X account of Russian Foreign Ministry " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Sebaliknya, Rusia menyambut baik kebijakan Trump yang cenderung lebih lunak terhadap Moskwa. Kremlin melihat perubahan sikap AS sebagai peluang untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan Rusia, termasuk kemungkinan membuka kerja sama dalam sektor mineral tanah jarang. Putin menunjukkan kesediaan untuk berdialog dengan Trump, yang dianggap lebih terbuka terhadap kompromi dibandingkan pemerintahan AS sebelumnya.

Keputusan AS untuk tidak mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk invasi Rusia ke Ukraina semakin memperlebar jurang antara AS dan Eropa. Ini adalah pertama kalinya sejak awal perang, AS tidak berdiri di pihak Eropa dalam isu Ukraina. Sebaliknya, Trump mengusulkan resolusi alternatif yang tidak menyebut Rusia sebagai agresor, sesuatu yang ditolak oleh banyak negara Eropa.

This handout photograph taken by the Press service of the 24th Mechanized Brigade of Ukrainian Armed Forces on February 8, 2025 shows Ukrainian servicemen of the 24th Mechanized Brigade preparing to fire a 120mm mortar towards Russian positions at an undisclosed location near Chasiv Yar in the Donetsk region, amid the Russian invasion of Ukraine. (Photo by Handout / 24th Mechanized Brigade of Ukrainian Armed Forces / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / Press service of the 24th Mechanized Brigade of Ukrainian Armed Forces " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Perbedaan pendekatan juga terlihat dalam kebijakan keamanan. Trump menekan Zelenskyy untuk menerima perdamaian dengan Rusia, tetapi tanpa menawarkan jaminan keamanan yang kuat. Hal ini membuat Ukraina semakin khawatir akan kehilangan dukungan dari sekutu utamanya, AS, yang selama ini menjadi penyedia utama bantuan militer dan finansial.

Ketegangan semakin meningkat ketika Rusia menawarkan pasokan mineral tanah jarang kepada AS sebagai alternatif jika kesepakatan dengan Ukraina gagal. Langkah ini menandakan bahwa Moskwa melihat peluang untuk mendekati Washington dalam bidang ekonomi, meskipun hubungan politik dan militer tetap tegang.

Russian President Vladimir Putin, gestures as he speaks with Chinese President Xi Jinping via videoconference at Novo-Ogaryovo state residence outside of Moscow, Russia, Tuesday, Jan. 21, 2025. (Gavriil Grigorov, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)

Para pemimpin Eropa pun mulai mempertimbangkan langkah-langkah independen untuk membantu Ukraina, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan perdamaian Eropa. Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengusulkan agar Eropa mengambil peran lebih besar dalam keamanan regional, mengingat ketidakpastian dukungan AS di bawah Trump.

Di sisi lain, Zelenskyy semakin terjepit dalam tekanan politik global. Ukraina menghadapi dilema besar: menerima kesepakatan yang menguntungkan AS dan Rusia atau terus berjuang mempertahankan posisinya dengan dukungan Eropa yang terbatas. Sementara itu, tekanan dari Trump untuk segera menyelesaikan perang tanpa syarat yang menguntungkan Ukraina membuat posisi Zelenskyy semakin sulit.

Dalam situasi ini, masa depan Ukraina bergantung pada bagaimana negara-negara Eropa merespons perubahan kebijakan AS dan apakah mereka mampu mempertahankan dukungan untuk Kyiv tanpa keterlibatan penuh Washington. Sementara itu, Rusia tampaknya semakin percaya diri dalam negosiasi, melihat Trump sebagai pemimpin yang lebih dapat diajak berkompromi dibandingkan pendahulunya.

Catatan: Ringkasan itu dibuat berdasarkan sejumlah artikel di kompas.id dengan bantuan mesin kecerdasan buatan (AI) generatif, serta tetap melalui proses pemeriksaan dan editing oleh editor Kompas.

Untuk dapat lebih memahami perkembangan isu perang Ukraina-Rusia, Anda dapat membaca artikel-artikel yang dijadikan dasar pembuatan ringkasan. Ada 10 artikel yang dipergunakan, yaitu:


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari