Kompas.id Brief
KOMPAS BRIEF

Mengapa Upaya Diplomasi Amerika Serikat-Iran Buntu?

Negosiasi putaran kedua di antara kedua negara batal. Dunia khawatir perang akan berlanjut dan dampak perang semakin meluas.

28 Apr 2026 17:00 WIB · Internasional

AFP/GHULAM RASOOL

Oleh Elsa Emiria Leba

Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana perkembangan upaya diplomasi damai AS-Iran?
  2. Apa pemicu kebuntuan dan kegagalan negosiasi?
  3. Bagaimana sikap Iran setelah pertemuan gagal?
  4. Apa saja dampak dari kebuntuan perundingan damai kedua negara?
  5. Apakah perang akan berlanjut?

Bagaimana perkembangan upaya diplomasi damai AS-Iran?

copy title

Setelah gencatan senjata AS-Iran berlaku pada 8 April 2026, negosiasi perdamaian putaran pertama berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026. Pembicaraan gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran.

Sayangnya, negosiasi putaran kedua pada akhir pekan lalu batal. Presiden AS Donald Trump tidak mengirim utusan khusus Steven Witkoff dan Jared Kushner serta tim delegasi ke Islamabad untuk berunding, Sabtu (25/4/2026). Padahal, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan tim delegasi Iran sudah tiba di sana.

”Berbagi posisi Iran mengenai kerangka kerja yang dapat diterapkan untuk mengakhiri perang di Iran secara permanen. Belum melihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi,” kata Araghchi.

Trump menyatakan, pembatalan keberangkatan tim delegasi karena AS tidak terkesan dengan posisi negosiasi Teheran. Menurut dia, proposal yang direvisi datang beberapa menit setelah keputusan pembatalannya.

”Mereka memberi kami dokumen yang seharusnya lebih baik dan—yang menarik—segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit, kami mendapat dokumen baru yang jauh lebih baik,” ujar Trump.

Apa pemicu kebuntuan dan kegagalan negosiasi?

copy title

Dalam negosiasi putaran pertama, upaya bina damai AS-Iran terganjal oleh tuntutan berat Washington terkait sejumlah isu utama, khususnya program nuklir Iran dan Selat Hormuz. AS ingin agar Iran menghentikan program nuklir, menyerahkan uranium yang diperkaya, dan melepas kendali selat.

Sebaliknya, Iran ingin agar AS mempertimbangkan kekhawatiran Iran yang lain, termasuk sanksi ekonomi terhadapnya. ”Sanksi sepihak ilegal yang telah dikenakan Amerika Serikat terhadap Iran telah menargetkan rakyat Iran, mencekik mereka, dan membuat mereka memberontak terhadap struktur politik di dalam Iran,” ucap Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh.

Ganjalan yang muncul di negosiasi pertama tersebut masih membayangi rencana negosiasi putaran kedua. Masalah bertambah karena AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran selama masa gencatan senjata. Bagi Teheran, aksi itu adalah pelanggaran.

Oleh sebab itu, ketegangan di selat masih berlangsung. Militer AS menyerang kapal kargo berbendera Iran yang menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran, Minggu. Aksi ini dibalas oleh Iran dengan menembak kapal kontainer yang melintas di selat tersebut.

”Trump mempunyai dua pilihan terkait blokade tersebut. Pertama, mencabutnya yang akan memperkuat pengaruh Iran. Kedua, mempertahankannya, tetapi berisiko mengancam gencatan senjata,” ucap peneliti senior di Center for International Policy, Sina Toossi.

In this photo released by the Pakistan Prime Minister Office, Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi, fifth left, meets with Prime Minister Shehbaz Sharif, center, in Islamabad, Pakistan, Saturday, April 25, 2026. (Pakistan Prime Minister Office via AP)

Bagaimana sikap Iran setelah pertemuan gagal?

copy title

Setelah batal bertemu, Araghchi menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg, Senin (27/4/2026) waktu setempat. Araghchi juga menyalahkan AS atas kegagalan perundingan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama dua bulan.

”Pendekatan AS menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya, meskipun ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” ujar Araghchi.

Saat bertemu Putin, Araghchi menyampaikan terima kasih atas dukungan Rusia di tengah perang. Ia menggambarkan Rusia sebagai sekutu Iran yang hebat. ”Iran dan Rusia adalah mitra strategis. Kedua negara selalu saling mendukung. Kerja sama kita akan berlanjut,” tuturnya.

Sementara Putin menekankan, rakyat Iran telah berjuang dengan berani untuk kedaulatan mereka serta berharap perdamaian segera terwujud. ”Rusia siap melakukan segala daya upaya untuk memastikan perdamaian di Timur Tengah tercapai secepat mungkin,” ujar Putin.

Di Kirgistan, Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik. Belousov menilai, perang di Iran harus diselesaikan melalui jalur diplomatik. Ia mengatakan, Rusia dan Iran akan terus saling mendukung.

Apa saja dampak dari kebuntuan perundingan damai kedua negara?

copy title

Salah satu dampak paling krusial dari perang adalah penutupan Selat Hormuz, jalur distribusi energi global. Iran kembali menutup selat setelah AS memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Pelayaran melintasi Hormuz menjadi sangat terbatas. Menurut analis perkapalan, Kpler, hanya ada satu tanker yang memasuki Teluk Persia pada Minggu (26/4/2026).

Karena kebuntuan diplomasi, harga minyak merangkak naik lagi. Pada Senin (27/4/2026), harga minyak mentah di bursa Brent meningkat 3 persen menjadi 108,3 dolar AS per barel, sementara harga minyak mentah di bursa Texas West naik 2,45 dolar AS per barel menjadi 96,85 dolar AS per barel.

”Kebuntuan diplomasi berarti setiap hari 10 juta-13 juta barel minyak dari kawasan Teluk gagal dikirim ke pasar internasional. Ini memperburuk neraca ketersediaan minyak. Harga masih akan naik,” kata analis minyak Tamas Varga dari PVM Oil Associates.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan, Dewan Keamanan PBB harus mendukung kerangka kerja darurat sementara yang diajukan Organisasi Maritim Internasional (IMO). Jika tidak segera diatasi, akan ada gangguan rantai pasok terburuk sejak pandemi Covid-19 dan perang Ukraina-Rusia.

Negara-negara pengimpor minyak juga terus memutar otak menjaga pasokan, termasuk dengan membeli minyak Rusia, termasuk India dan Filipina. Di Selat Hormuz, para pelaut yang terjebak tak putus berdoa agar bisa pulang. Lebih dari 20.000 pelaut terdampar di kawasan Teluk karena tidak bisa keluar dari Selat Hormuz.

Sebuah kapal angkatan laut berlayar di Selat Hormuz, Minggu (1/3/2026). Dua kapal dilaporkan diserang di perairan strategis tersebut ketika Iran melancarkan hari kedua serangan balasan menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Apakah perang akan berlanjut?

copy title

Sejauh ini, Trump menyatakan, pembatalan perundingan itu tidak berarti perang akan kembali berlanjut. Gencatan senjata kedua negara sudah diperpanjang Trump tanpa menyebutkan batas waktu, Rabu (22/4/2026). Perpanjangan waktu ini dinilai untuk memberi waktu lebih banyak bagi perundingan.

Namun, baik Iran maupun AS sama-sama menyatakan kesiapan mereka untuk kembali berperang. Sementara Israel bakal senang jika perang berlanjut.

Di sisi lain, Iran tampak tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan AS karena enggan patuh pada kesepakatan yang buruk. Para pengamat menilai, kepemimpinan Iran juga percaya bahwa pemerintahan Trump dan publik AS tidak punya keberanian untuk membiarkan perang berkepanjangan.

”Bagi Iran, konflik ini bersifat eksistensial, sementara bagi sebagian besar warga AS, lebih baik konflik ini berakhir dan dilupakan, dengan harapan harga bensin akan segera turun,” tulis Daniel Byman, profesor di School of Foreign Service Georgetown University, dalam artikel untuk Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul