Piala Dunia 2026 akan mulai berlangsung Jumat (12/6/2026) dini hari WIB. Namun, yang banyak mencuat ke permukaan justru karut-marutnya.
11 Jun 2026 07:00 WIB · Tajuk Rencana
AP/Lindsey Wasson
Peristiwa menghebohkan terjadi pada Sabtu (6/6/2026) saat wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, ditolak masuk Amerika Serikat. Padahal, Artan yang merupakan wasit terbaik Afrika itu bersama 52 wasit utama, 88 asisten wasit, dan 30 asisten wasit video (VAR) akan menjalani pelatihan terakhir sebelum bertugas di Piala Dunia.
US Customs and Border Protection (CBP) menegaskan, kepemilikan dokumen visa tidak menjamin seseorang lolos dari pemeriksaan di pintu masuk AS. Seiring dengan kegagalan Artan masuk AS ini, Federasi Asosiasi Sepak Bola Dunia (FIFA) mencoret Artan dari Piala Dunia (Kompas, 10/6/2026).
Penolakan terhadap Artan ini bukan satu-satunya noda imigrasi dalam persiapan menjelang tendangan awal (kick off) Piala Dunia 2026. Masalah visa dan penolakan imigrasi bagi anggota tim peserta, staf teknis, hingga ofisial dari sejumlah tim peserta telah memengaruhi citra kesiapan tuan rumah AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/09/7f33deb8d11061d41415ad9932f45b7b-20260609RZF39.jpg)
Delegasi Iran, misalnya, sempat mengalami ketegangan diplomatik setelah 15 anggota staf pendukung mereka, termasuk kepala federasi sepak bola dan direktur media, ditolak visanya pada menit-menit terakhir oleh otoritas AS. Tak pelak, tim Iran memindahkan basis pelatihan dari AS ke Meksiko.
Interogasi berlarut-larut juga menimpa striker Irak, Aymen Hussein, yang ditahan dan diinterogasi berjam-jam di Bandara O’Hare, Chicago, sebelum masuk AS. ”Mengapa AS bisa menggelar Piala Dunia jika sangat agresif kepada warga asing?” respons Hussein dilansir Al Jazeera.
Sejarah panjang Piala Dunia yang bermula dari perhelatan di Uruguay pada 1930 menorehkan berbagai kisah tentang perjuangan, pergulatan, kegembiraan, kesedihan, nasib, harapan, kesuksesan, dan kegagalan manusia. Beragam cerita itu menjadi inspirasi bagi yang lain, membuahkan prestasi-prestasi dari tim yang terpacu pencapaian juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/12/29/PAOLO-ROSSI-1-02_1609210965.jpg)
Di Piala Dunia Spanyol 1982, penyerang Italia, Paolo Rossi, dalam hitungan pekan berubah dari pesakitan menjadi idola. Rossi yang nyaris tak dipanggil memperkuat tim ”Azzurri” karena hukuman akibat terlibat skandal ”Totonero” di Italia kemudian menjadi pahlawan saat Italia tampil sebagai juara.
Piala Dunia AS 1994 menghadirkan wajah sebaliknya bagi Roberto Baggio, striker Italia yang tampil mengesankan sehingga membawa ”Azzurri” ke final menantang Brasil. Cahaya Baggio seketika redup ketika ia gagal mengeksekusi tendangan penalti dalam drama adu penalti sehingga membuat Brasil meraih trofi piala dunia untuk keempat kalinya.
Adapun di Piala Dunia Meksiko 1986, pencinta sepak bola sejagat ingat betul akan insiden ”Tangan Tuhan”, yakni saat bintang Argentina Diego Maradona mencetak gol ke gawang Inggris, dengan tangannya. Kontroversi itu seakan sirna, seiring aksi menawan Maradona sepanjang kejuaraan, yang membawa Tim ”Tango” menjadi juara dunia 1986.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/10/a2952489-391a-464e-8ec1-3fd86f1e1aa5.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/22/adedd5b9-2303-4515-9304-177a3813b97e.jpg)
Qatar, tuan rumah perhelatan 2022, juga menjadi saksi bagaimana Lionel Messi akhirnya membayar lunas ”utangnya”, yakni membawa Argentina juara dunia. Messi yang dijuluki ”Titisan Maradona” mengemban utang ini dalam empat Piala Dunia sebelum Qatar 2022, yakni Jerman 2006, Afrika Selatan 2010, Brasil 2014, dan Rusia 2018.
Pencandu sepak bola menanti pesta empat tahunan yang kaya kisah seperti 22 perhelatan sebelumnya. Terciptanya atmosfer pesta mengharuskan tuan rumah, yakni AS, Meksiko, dan Kanada, menjamin pelayanan terbaik bagi tamu-tamu mereka, mulai dari pemain, pelatih, ofisial, wasit, hingga suporter. Patut disayangkan jika sebelum pesta yang dominan justru berita-berita sarat problematik.
Penulis:
RedaksiEditor:
Adi PrinantyoPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim