Memulai dari posisi berbeda, Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan saling menyejajarkan diri. Perbedaan karakter pun menyatukan hingga bisa meniti puncak bersama.
26 Jan 2025 05:00 WIB · Olahraga
Dimulai dari pertandingan melawan Hong Wei/Shen Ye (China) pada babak pertama Denmark Terbuka 2012, Hendra/Ahsan mengakhiri perjalanan mereka dalam kompetisi bulu tangkis internasional pada babak kedua Indonesia Masters 2025.
Sejak momen yang terjadi di Istora Gelora Bung Karno Jakarta, pada Kamis (23/1/2025), pensiunnya Hendra/Ahsan tak henti menjadi topik bahasan di kalangan pencinta bulu tangkis. Berpamitannya Hendra/Ahsan bagaikan kehilangan sosok yang berpengaruh.
Puncak penghargaan bagi mereka akan digelar dalam acara ”Moment of Honor, Tribute to The Daddies” di Istora pada Minggu (26/1/2025) mulai pukul 10.00 WIB, sebelum lima final Indonesia Masters berlangsung.
Hendra/Ahsan meninggalkan lapangan kompetisi dengan tiga gelar juara dunia, dua gelar All England, tiga trofi juara Final BWF. Mereka menjadi bagian dari tim Indonesia saat menjuarai Piala Thomas 2020.
Pada ajang multicabang, pencapaian tertinggi mereka adalah saat meraih medali emas Asian Games Incheon 2014. Mereka membungkam publik di Gyeyang Gymnasiun yang hampir semuanya mendukung jagoan tuan rumah, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong, sebagai lawan di final. Meskipun merupakan ajang multicabang antara negara-negara Asia, persaingan bulu tangkis bagaikan persaingan level dunia di Asian Games karena atlet-atlet terbaik, sebagian besar, berasal dari Asia.
Semua pencapaian itu merupakan buah perpaduan antara kecerdikan Hendra dalam mengatur pola permainan di depan net dan gebukan keras Ahsan di belakang. Keduanya bisa bertukar peran dengan baik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/5b25809d-1930-4dfb-82b3-a200c50f9039_jpg.jpg)
Mereka juga bisa saling mengisi ketika salah satunya tak bisa tampil maksimal karena cedera. Saat menjuarai All England 2019, Ahsan menutup gerakan Hendra yang terbatas karena cedera betis kanan sejak semifinal. Hendra bahkan berjalan dengan pincang. Maka, selain harus melakukan jump smash beruntun, Ahsan pun harus menutup lapangan ketika Hendra kesulitan bergerak untuk menjangkau kok.
Gelar All England itu didapat ketika Hendra berusia 34 tahun dan Ahsan 31, usia yang tak lagi muda bagi atlet bulu tangkis. Gelar itu didapat berselang lima tahun setelah gelar pertama di ajang yang sama.
Saat menjuarai All England 2014, mereka memecah kebuntuan ganda putra Indonesia yang melahirkan juara pada turnamen bulu tangkis paling prestisius itu. Sejak Christian Hadinata/Ade Chandra juara pada 1972, para juara dari generasi berikutnya lahir, seperti Rudy Heryanto/Hariamanto Kartono, Gunawan/Eddy Hartono, dan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky. Namun, momen itu berhenti cukup lama setelah Candra Wijaya/Sigit Budiarto juara pada 2003.
Tak hanya All England, Hendra/Ahsan menjuarai dua ajang besar lain pada 2019, yaitu Kejuaraan Dunia dan Final BWF World Tour. Tiga gelar dari 11 final menjadikan 2019 sebagai periode terbaik, bahkan lebih baik dibandingkan 2013 jika melihat bahwa mereka dikelilingi pesaing muda yang unggul dalam kecepatan dan kekuatan. Itu adalah dua faktor dasar dalam permainan ganda putra.
Perjalanan itu dilalui ketika Hendra dan Ahsan bisa menyatukan berbagai perbedaan sejak start sebagai pasangan pada 2012. Keduanya pernah berduet dalam kejuaraan Piala Sudirman Guangzhou 2009, di mana rotasi pasangan menjadi hal yang lumrah dilakukan dalam kejuaraan beregu.
Namun, penggabungan pada 2012 dilakukan dengan target agar mereka menjadi pasangan tetap. Kebetulan, Hendra tak lagi memiliki partner setelah berpisah dengan Markis Kido saat mereka berlatih di luar pelatnas sejak 2009. Ahsan pun berpisah dengan Bona setelah Olimpiade London 2012.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/3fe8c3a95857fb3ac2ed8d73876c044d-20140311TOK1.JPG)
Hendra kembali ke pelatnas Cipayung karena ingin mencoba tantangan baru setelah berpisah dengan Kido. Namun, saat datang ke Cipayung, Hendra belum tahu pasangan mainnya karena Ahsan masih disiapkan tampil di London 2012 bersama Bona. Maka, misi pertama Hendra adalah membantu Bona/Ahsan sebagai rekan latih tanding. Duet Hendra/Ahsan pun dimulai September 2012 dalam latihan.
Keduanya start dari posisi berbeda. Bagaikan lomba lari di lintasan atletik, Ahsan tertinggal satu putaran dan dia harus menyejajarkan diri dengan seniornya itu.
Hasil terbaik Ahsan bersama Bona adalah ketika mencapai semifinal Kejuaraan Dunia 2011 di Inggris. Gelar juara pada level tertinggi diraih di Indonesia Masters 2010 dan 2011. Adapun Hendra sudah berstatus juara pada dua ajang prestisius, yaitu Kejuaraan Dunia 2007 dan Olimpiade Beijing 2008, keduanya bersama Markis Kido.
Ahsan tak memungkiri bahwa dia sempat merasa minder saat dipasangkan dengan Hendra. Namun, dia melihat itu sebagai sebuah kesempatan. Dengan bekal kemauan untuk berkembang dan komitmen untuk menyejajarkan diri dengan Hendra, Ahsan bekerja keras.
”Saya mau mengejar supaya bisa naik level ke levelnya Koh Hendra. Apalagi, lawan-lawan yang ada saat itu sangat keras. Keras pun bukan dalam arti naik-turun, tetapi stabil di atas,” kata Ahsan.
Komitmen Ahsan itu sesuai dengan standar yang dimiliki Hendra untuk partner dan (tentu) dirinya sendiri, yaitu harus mau bekerja keras dan disiplin. Latihan bersama lebih difokuskan untuk rotasi karena Ahsan dan Kido memiliki kebiasaan dan karakter permainan berbeda.
Sementara, cara Hendra agar bisa berada pada level top dunia bersama partner berbeda adalah dengan tetap menjaga motivasi meski sudah berstatus juara Olimpiade. Apalagi, dia kembali ke Cipayung dengan target ingin mengukur kemampuan berpasangan dengan pemain lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/ecaf4a5923678546f7661ab899e0f9e1-20190827RON23.JPG)
Menjaga, apalagi mencari motivasi baru setelah meraih emas Olimpiade bukan hal yang mudah. Liliyana Natsir, secara terbuka pernah mengatakan bahwa melanjutkan perjalanan dalam turnamen setelah meraih emas Olimpiade Rio de Janiero 2016 (bersama Tontowi Ahmad) dengan motivasi baru cukup sulit. Apalagi, medali itu diraih Liliyana dalam Olimpiade ketiga dan ketika dia sudah menjuarai ajang besar lain.
”Ibaratnya, kita sudah meraih pencapaian tertinggi, lalu setelah itu, mau apalagi?” kata Liliyana saat berbicara menjelang dia pensiun. Dia akhirnya berpamitan dari kompetisi pada Januari 2019, berselang tiga tahun dengan pencapaian di Rio 2016.
Selain bermodalkan motivasi baru, masa persiapan berduet dengan Ahsan diisi Hendra dengan berbagi pengalaman. ”Saya lebih banyak ngobrol tentang nonteknis, seperti bagaimana menghadapi pertandingan besar dan Ahsan bisa menerima masukan itu,” ujarnya.
Tak butuh waktu lama, Hendra/Ahsan meraih gelar pertama dari Malaysia Terbuka pada Januari 2013. Ini menjadi pembuka gelar lain pada tahun tersebut, dengan total enam gelar termasuk juara dunia dan Final BWF.
”Saya enggak menduga bisa naik secepat itu. Mikirnya butuh satu hingga dua tahun untuk masuk 10 besar dunia, tetapi ternyata bisa lebih cepat. Ini karena Ahsan mau menerima semua masukan,” kata Hendra yang memulai perjalanan bersama Ahsan dari ranking ke-129 dunia, pada Oktober 2012, lalu berada pada posisi teratas di akhir 2013.
Adaptasi lain yang tak kalah penting untuk pebulu tangkis ganda adalah saling beradaptasi dengan karakter masing-masing. Namun, ini bukan berarti bahwa salah satu di antara mereka harus menyamakan karakter dengan yang lain.
Sebelum Hendra/Ahsan, banyak ganda putra Indonesia yang mencapai level elite meski memiliki karakter bertolak belakang: yang satu kalem, satu lagi ekspresif. Sebut saja Ricky/Rexy, Candra/Sigit, dan Hendra/Kido.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/b061a538-e75f-4c94-b67e-a030aca6ff38_jpg.jpg)
Tentang perbedaan karakter yang tak dapat diubah ini, Ahsan dan Hendra menyatakan pendapat, dalam pertemuan menjelang mereka pensiun dan dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya. Dalam wawancara bersama dan berbeda waktu, mereka juga berbicara tentang kesan selama berpasangan.
Karakter apa yang paling berbeda dari kalian dan bagaimana proses adaptasinya?
Ahsan: Koh Hendra kalem, saya sebaliknya. Tapi, karakter, ya, harus dipertahankan dua-duanya. Saya enggak bisa ngikutin Koh Hendra yang kalem.
Kadang, saya yang harus inisiatif membuka komunikasi, nanya gimana atau kalau kalah gimana, tetapi tidak ada masalah karena Koh Hendra lebih ngemong. Dia tenang, jadi bawaan ke saya pun tenang. Dia enggak banyak omong, tapi saya sudah ngerti apa yang dia mau, pake telepati ha-ha-ha….
Hendra: Ahsan orangnya menggebu-gebu. Kalau terlalu emosi saat main, saya harus tenangin. Misalnya ada penilaian salah dari wasit atau line judge dan dia emosi, saya harus tenangin supaya fokus main lagi.
Dengan pembawaan Hendra yang tenang, apakah dia pernah marah?
Ahsan: Sekesel-keselnya cuma menggebu di lapangan. Dia bilang, ”Ayo, semangat lagi. Siap lagi!”. Mungkin itu keselnya, ya. Selain itu, ya udah gak papa. Enggak pernah emosi.
Biarpun tenang, kalau lagi diam, bisa jadi juga itu sebenarnya enggak tenang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/db6ceed49574623b6438b4f690bb9416-20130508MYE27.JPG)
Hendra cenderung tampil tenang dibandingkan Ahsan dan Kido. Apa tidak pernah merasa emosi/gugup saat bertanding?
Hendra: Kadang gugup, kadang tidak. Biasanya terasa gugup ketika akan memasuki lapangan, tapi itu harus ditutupi supaya tidak ketahuan lawan. Kalau emosi, sudah diwakili Kido dan Ahsan ha-ha-ha….
Pernahkah ada perbedaan pendapat serius di antara kalian?
Ahsan: Enggak. Kami menerima kemauan masing-masing. Dia mau apa, saya nerima. Saya mau apa, Koh Hendra juga nerima. Waktu Koh Hendra mau keluar pelatnas (2017), saya tidak bisa memaksakan agar dia tetap di pelatnas. Itu sudah keputusannya dan saya menerima.
Saat itu, Ahsan tidak terpikir untuk keluar pelatnas juga?
Ahsan: Saya belum siap. Koh Hendra sudah punya rencana (berpasangan dengan Tan Boon Heong). Saya ngobrol dengan Koh Herry (Iman Pierngadi, pelatih ganda putra) tentang rencana untuk saya. Ya sudah, saya coba.
Setiap turnamen, apakah kalian selalu tinggal sekamar?
Ahsan: Iya. Saya dan Koh Hendra termasuk pasangan yang selalu sekamar dari awal hingga akhir. Kalau yang lain, kebanyakan pisah-pisah.
Saya senang sekamar dengan Koh Hendra karena orangnya rapi. Saya orangnya males, tapi jadi terbawa. Itu sebenarnya di luar ekspektasi, tapi karena sering bersama, jadi ikut terbiasa rapi.
Saat Hendra kembali ke pelatnas pada 2018, kalian bergabung lagi, lalu prestasi naik lagi pada 2019. Apa pendapatmu?
Ahsan: Saat main bareng lagi, Koh Hendra punya target kembali ke 10 besar. Saya sebenarnya ragu, bisa atau tidak. Tapi, saya jalani dengan komitmen.
Saat juara All England 2019, saya sangat tidak menduga. Dari situ, muncul kepercayaan diri bisa balik kaya dulu, meskipun usia sudah tidak muda. Setelah itu, bisa final terus. Kalau tidak ada “Minions” (Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon), mungkin gelar kami lebih banyak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/87ec05d25859b267e17e4e869cae3f45-20190320IYA02.JPG)
(Hendra/Ahsan 11 kali lolos ke final yang menghasilkan tiga gelar juara. Lima kekalahan dialami dari Kevin/Marcus).
Performa yang naik lagi pada 2019 didapat dalam usia yang tidak lagi muda. Apa kuncinya?
Ahsan: Cara main kami berbeda. Kami enggak bisa adu otot dengan pemain pemain-pemain muda, jadi memang harus mengubah pola. Koh Herry juga menyarankan seperti itu.
Alhamdulillah bisa mengimbangi. Lawan kadang-kadang kewalahan dan bingung, justru mereka yang mati sendiri.
Hendra: Mungkin lawan bingung karena kami mainnya pelan, padahal, ganda putra mainnya cepat.
Apa yang dimaksud dengan pola baru tersebut dan apakah memang benar-benar disiapkan?
Ahsan: Penempatan pukulan yang lebih akurat. Kalau enggak akurat kan capek juga. Tapi, lebih ke bola-bola pasrah sih hahaha….
Tidak terlalu dirancang, tapi, kami coba naluriah saja. Sebisa mungkin jangan banyak reli. Meski bermain dengan cara itu, tenaga kami tidak boleh berkurang. Orang lain mungkin melihatnya cara bermain kami tidak pakai otot, mereka enak aja ngomong seperti itu. Cara main kami harus smes dulu untuk mematikan lawan, lalu berusaha mengatur permainan. Kalau dari awal tidak bisa mematikan lawan lewat smes dan tidak punya tenaga saat bertahan, kami bisa mental ”ditembaki” anak-anak muda.
Apa kunci untuk menjadi pemain ganda yang sukses meski punya perbedaan karakter dengan partner?
Ahsan: Saya harus belajar dan punya insiatif untuk menyesuaikan dengan partner, tidak mengandalkan mereka yang menyesuaikan pada saya. Saya belajar itu dari senior seperti Koh Chris (Christian Hadinata) dan Koh Tony (Gunawan). Mereka selalu bilang, pemain ganda harus bisa fleksibel, harus bisa menyesuaikan, tidak mesti nuntut dari partner.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/45c69dee873ec79680bea67111e17c38-20120515MYE13.JPG)
Dulu waktu sama Rian (Agung Saputro) misalnya, kami sama-sama penggebuk, tapi, karena saya lebih tua dari dia, mau enggak mau, saya main di depan. Dia lebih muda, jadi lebih kuat. Artinya, saya harus belajar mengubah. Partner bersama Rian menjadi ilmu buat saya. Saya belajar bahwa bermain itu tidak harus gebuk terus.
Hendra: Harus bisa memahami diri sendiri, saling memahami, dan saling mengisi dengan partner. Saat diri sendiri atau partner membuat kesalahan di lapangan misalnya, harus segera dilupakan. Jangan memengaruhi permainan.
Apa momen paling berkesan dalam karier?
Ahsan: All England 2019. Tidak menduga bisa balik lagi karena saya berpikir sudah tidak bisa bermain seperti dulu karena faktor usia. Tidak hanya kami, banyak orang berpikir, kami sudah selesai masanya. Apalagi, Koh Hendra cedera saat semifinal dan final, eh ternyata bisa juara.
Momen itu seperti membalikkan semua keadaan. Kami bisa bangkit ketika kami dan banyak orang tidak yakin bisa juara lagi.
Hendra: All England 2019 dan sudah pasti bagi saya sendiri adalah Olimpiade Beijing 2008. Semua orang ingin juara di Olimpiade dan itu menjadi Olimpiade pertama kami, apalagi, mainnya di China. Perjalanan untuk lolos dan menjelang main di sana, juga tak mudah.
Sebelum ke Beijing 2008, Hendra mengalami cedera pergelangan kaki kiri. Dokter mengharuskan istirahat, tetapi Hendra memilih berlatih dengan caranya sendiri, yaitu lebih banyak melatih kekuatan tangan selama kakinya tak bisa digerakkan dengan bebas.
Lalu, apa yang menjadi momen tersulit?
Ahsan: Waktu pisah sama Koh Hendra itu (Hendra keluar pelatnas pada 2017).
Situasi itu benar-benar membuat saya turun karena berganti partner biasanya memulai lagi dari nol dan itu berat. Saat itu, Pak Yoppy (Rosimin, Ketua PB Djarum), sampai bertanya pada saya akan melanjutkan karier seperti apa.
Saya katakan bahwa saya akan memperbaiki diri dulu karena terasa berat, mental turun, permainan pun tertinggal. Biasanya, saya gampang saat mengembalikan smes lawan, saat itu, susah banget, padahal dalam latihan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/da1122d1-6843-4347-ae36-3120dc7ef53f_jpg.jpg)
Akhirnya, mau enggak mau, saya latihan sendiri. Pagi-pagi, saya lari untuk membalikkan fisik, setelah itu latihan. Rutin terus seperti itu. Saya berjuang membalikkan permainan dan mental dan itu terasa berat.
Saya berpikir, jika performa saya tak segera kembali, mungkin pada tahunnya bisa balik. Alhamdulillaah, ternyata bisa balik.
Pada 2017, Hendra mengikuti turnamen BWF dengan berpasangan bersama Tan Boon Heong dengan hasil terbaik mencapai final Australia Terbuka.
Di pelatnas, Ahsan bermain bersama Rian dan memulai performa dari turnamen level bawah, China International Challenge, sebelum bermain pada level BWF Super Series.
Kejutan dibuat ketika Ahsan/Rian mencapai final Kejuaraan Dunia, diantaranya dengan menyingkirkan unggulan teratas, Li Jun Hui/Liu Yu Chen, pada babak kedua dan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (4) pada semifinal. Dalam perebutan gelar juara, mereka akhirnya kalah dari Liu Cheng/Zhang Nan.
Hendra: Periode 2016 saat tidak lolos dari penyisihan grup Olimpiade. Saat itu sebenarnya peluang terbesar kami untuk mendapat medali karena performa kami bagus pada tahun-tahun sebelumnya dan pesaing berat tak begitu banyak.
Saat diwawancara di Rio de Janeiro di tribun penonton, beberapa hari setelah tersingkir, Hendra bercerita bahwa dia sangat terpukul dengan kegagalan itu. Kata “pensiun” seusai Olimpiade pun terlintas.
Berkali-kali, Hendra mengatakan bahwa faktor utama yang menjadi pertimbangan untuk mundur dari arena kompetisi adalah ketika tak lagi punya motivasi untuk berkompetisi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/5ecee4cb-5dfe-404f-9ba6-327e07ba2d4e_jpg.jpg)
”Bagi saya, ketika memutuskan untuk untuk menjadi atlet, harus punya target prestasi, bukan mencari uang. Uang akan datang jika ada prestasi,” katanya.
Namun, motivasi dan semangat tak bisa lagi diiringi kondisi fisik yang menurun seiring bertambahnya usia, Hendra/Ahsan pun pamitan karena faktor itu.
Apa yang berkesan dari partner?
Ahsan: Skill enggak usah dibahas lagi, sudah terbukti dengan banyak gelar juara.
Saya juga kagum dengan kepribadiannya yang kalem. Kalau ada masalah, dia selalu tenang, meskipun enggak tahu dalamnya seperti apa. Dengan pembawaan yang tenang, itu turut menenangkan orang sekitar.
Koh Hendra sudah seperti kakak.
Hendra: Ahsan selalu mau mendengarkan dan menerima masukan secara terbuka. Jadi, lebih enak selama partneran.
Setelah pensiun, kalian ingin dikenal sebagai sosok seperti apa?
(Mendengar pertanyaan ini, keduanya berpikir cukup lama)
Ahsan: Enggak tahu. Kalau prestasi, pasti banyak yang lebih berprestasi. Yang lebih baik atau humble juga pasti banyak. Kalaupun orang menilai saya seperti itu, saya hanya bisa berterima kasih.
Saya sendiri merasa seperti orang biasa-biasa saja.
Hendra: Seperti ini aja. Seperti apa ya? Enggak tahu deh, bingung jawabnya.
Hendra/Ahsan telah meninggalkan dunia kompetisi bulu tangkis internasional. Mereka menanggalkan status juara untuk kembali ke keluarga, mendampingi istri dan mengantarkan anak-anak bersekolah.
Bagi generasi penerus ganda putra Indonesia, dedikasi dan kemampuan bertahan di level atas hingga usia 37 dan 40 tahun menjadi standar tinggi. Namun, itu juga bisa menjadi sumber motivasi.
”Ketika kami bisa, yang lain juga harusnya bisa,” kata Ahsan.
Penulis:
Yulia Sapthiani, Riana A Ibrahim, Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase