Jafar/Felisha bisa mengatasi dan keluar dari tekanan dengan kombinasi daya juang tinggi, komunikasi, dan cara bermain yang tepat. Tiket semifinal pun diraih.
23 Jan 2026 18:37 WIB · Olahraga
KOMPAS/PRIYOMBODO
JAKARTA, KOMPAS — Meski masih ada beberapa aspek yang harus dievaluasi, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu punya modal yang tetap bertahan, bahkan dalam situasi tertekan. Modal berupa mentalitas pantang menyerah dan semangat juang tinggi inilah yang mengantar Jafar/Felisha mengatasi tantangan pemain elite dunia untuk menyabet tiket semifinal pertama mereka di Indonesia Masters.
Jafar/Felisha sukses mengatasi tantangan pasangan peringkat kelima dunia, Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis), pada babak perempat final Indonesia Masters 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Ganda campuran Indonesia peringkat kesembilan dunia ini menang, 13-21, 22-20, 21-16.
Bagi Jafar/Felisha, semifinal adalah pencapaian terbaik mereka sejak debut di Indonesia Masters pada edisi 2025. Saat itu, finalis Australia Terbuka 2025 level Super 500 ini hanya bisa mencapai babak kedua.
Kemenangan atas Thom Gicquel/Delphine Delrue diraih melalui pertemuan yang disebut Felisha sebagai laga yang tidak mudah. Selain lawan sebagai unggulan keempat turnamen itu bermain baik dengan teknik mumpuni, Jafar/Felisha juga tertekan dan ”terkurung” pola permainan mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/7a12091fb5f31e2bcd70aa3567ba368a-20260123PRI8HR.jpg)
Namun, ada mentalitas yang selalu ”menyala” sejak Jafar/Felisha mulai muncul dalam persaingan tur BWF pada 2025. Mentalitas tidak mau kalah dan mewujudkannya dengan daya juang tinggi di lapangan jadi modal mereka untuk akhirnya keluar dari tekanan.
”Kami memang agak tertekan terus di gim pertama, bingung untuk keluar dari tekanan itu. Tapi, saya melihat, ini masih bisa kok, jangan gampang menyerahlah. Maksudnya, masih ada peluang kok,” tutur Jafar.
Pada gim kedua, secara permainan, Jafar/Felisha mulai banyak menerapkan strategi no lob atau tidak mengangkat kok supaya lawan tidak bisa melakukan serangan. Momentum serangan juga bisa perlahan mereka kontrol meski perolehan skor berjalan ketat.
Duel tersebut mengundang riuh penonton, terlebih mereka berkali-kali bertukar pukulan cepat. Siapa yang melakukan kesalahan, dialah yang akan diganjar hukuman berupa poin untuk lawan. Situasi saling kejar atau selisih skor hanya satu angka juga terus tercipta.
Menurut Jafar, ketika bermain melawan pasangan elite dunia, terutama peringkat lima besar, tantangannya adalah pada fokus dan konsistensi yang terjaga. Sementara itu, Jafar/Felisha menyadari, mereka masih kesulitan melakukan hal yang sama, terutama setelah interval. Itu menjadi pekerjaan rumah yang harus mereka tuntaskan.
Meski begitu, di sela-sela laga yang ketat melawan Gicquel/Delrue, Jafar berkali-kali berbicara kepada Felisha. Pemandangan itu terbilang jarang untuk Jafar yang biasanya lebih pendiam, sedangkan Felisha lebih aktif.
”Sebenarnya saling menyemangati saja, apalagi saya orangnya agak keras, kayak enggak mau kalah banget. Jadi, tadi juga pas ngasih tahu Felis agak keras, sedikit marah-marah,” ujar Jafar, yang menilai upaya itu berguna untuknya keluar dari tekanan permainan lawan.
Felisha, yang memilih mengatasi tekanan dengan ekspresif di lapangan, tak keberatan dengan cara Jafar mengingatkannya di lapangan. ”Daripada dia diam,” ucapnya, yang senang melaju ke semifinal, tetapi tetap ingin membatasi euforianya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/1b8f405840435247e10a0afe15cf318d-20260123PRI10HR.jpg)
Ketika Jafar/Felisha bisa mengatasi dan keluar dari tekanan dengan kombinasi antara semangat juang tinggi, komunikasi, dan cara bermain yang tepat, Adnan/Indah kalah dari Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin, 20-22, 21-14, 19-21, dengan penampilan dan pekerjaan rumah yang sama seperti ketika mereka memenangi babak kedua. Pasangan peringkat ke-24 dunia itu berulang kali kehilangan gim setelah unggul, bahkan dengan rentang keunggulan sangat jauh.
Melalui permainan baik pada pukulan awal hingga ketiga, termasuk servis dari Indah yang tiga kali tak dapat dikembalikan Jiang/Wei, Adnan/Indah unggul 11-3 pada gim pertama, tetapi mereka gagal mempertahankannya hingga kondisi pun berbalik.
Setelah interval, keunggulan terjauh mereka, 16-12, berubah saat lawan untuk pertama kalinya unggul pada posisi 19-18. Upaya untuk menyalip hanya bisa membuat skor berimbang 20-20 karena ganda campuran nomor empat Indonesia itu tak bisa menahan smes dari Jiang. Sama seperti gim pembuka, gim ketiga lepas ke tangan lawan juga setelah Adnan/Indah unggul 8-3.
Sehari sebelumnya, saat menang 21-13, 20-22, 21-19 atas Lee Jong-min/Lee Yu-lim (Korea Selatan), Adnan/Indah kehilangan gim kedua meski memiliki dua kali match point. Mereka bahkan hampir kehilangan gim ketiga meski unggul 20-11.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/7f0a346d-cd54-4b5e-bf8b-5b0929463049.jpg)
Adnan/Indah menilai, pekerjaan rumah mereka dari momen yang dialami pada dua babak itu adalah faktor nonteknis. Saat unggul, mereka selalu terburu-buru ingin menambah poin dan itu justru berbuah unforced error saat bermain.
”Seharusnya kami bisa lebih sabar, asal bisa mengembalikan pukulan dulu, tidak perlu terburu-buru ingin mendapat poin. Mungkin karena ada perasaan sangat ingin menang, jadi tidak fokus,” kata Indah, yang harus segera berbenah untuk bersaing dalam turnamen Thailand Masters Super 300 pada 27 Januari-1 Februari.
Hasil di Istora membuat Adnan/Indah tak bisa mengulang kemenangan atas Jiang/Wei pada pertemuan pertama, di babak awal Thailand Masters 2025. Saat itu, mereka menang dengan skor 22-20, 22-20.
Kekalahan ini juga membuat mereka tak bisa melewati perempat final turnamen di atas level Super 300 selain Hong Kong Terbuka, September 2025. Saat itu, mereka menyingkirkan dua pasangan peringkat sepuluh besar dunia, Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran dan Tang Chung Man/Tse Ying Tsuet, pada babak kedua dan perempat final sebelum dihentikan Guo Xin Wa/Chen Fang Hui.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti