Indonesia tercatat paling konsisten meski gagal juara pada dua putaran SEA V Cup 2026. Ini modal penting untuk menatap Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
31 Jul 2026 12:31 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Hasil mengecewakan diraih timnas bola voli putra Indonesia di SEA V Cup atau Piala SEA V 2026. Dengan ekspektasi tinggi sebagai juara AVC Cup 2026 level Asia, Indonesia justru finis sebagai peringkat kedua dan ketiga dalam dua putaran SEA V Cup yang levelnya Asia Tenggara. Meski begitu, Indonesia ternyata masih jadi tim terbaik di regional.
Hal itu diketahui dari klasemen akhir SEA V Cup 2026 yang bisa dipastikan selepas putaran kedua rampung, Minggu (26/7/2026). Indonesia memuncaki klasemen dengan total 19 poin. Farhan Halim dan kawan-kawan unggul atas juara putaran pertama, Kamboja, dan juara putaran kedua, Vietnam.
Dalam klasemen yang menggabungkan hasil putaran pertama di Filipina dan putaran kedua di Jakarta itu, Indonesia sukses meraih enam kemenangan dengan rasio set 2,625. Di bola voli, rasio set penting karena menunjukkan efisiensi kemenangan dan menjadi penentu peringkat.
Dengan catatan itu, Indonesia menjadi tim paling konsisten dari total enam peserta. Tak hanya itu, tim asuhan Pelatih Reidel Toiran ini juga terbukti paling kokoh dalam aspek pertahanan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/31/4421a4e8ad7c56c44c59bb64f34db636-IMG_4759.jpg)
Pertahanan kokoh dapat dilihat dari total kehilangan set yang paling minim di antara negara lain. Kendati sama-sama meraih enam kemenangan dan dua kekalahan serta memenangi 21 set, Indonesia unggul atas Thailand pada peringkat kedua karena hanya kehilangan 8 set. Sementara itu, Thailand kehilangan 10 set.
Sementara itu, Vietnam tertahan pada peringkat ketiga dengan 12 poin berkat empat kemenangan dan empat kekalahan. Adapun Kamboja berada pada peringkat keempat dengan 10 poin dengan sama-sama meraih empat kemenangan dan empat kekalahan.
Pembedanya adalah rasio set. Tim yang menang dengan skor 3-0 atau 3-1 akan mendapat 3 poin, sedangkan kemenangan 3-2 mendapat 2 poin. Sementara itu, tim yang kalah 2-3 mendapat 1 poin.
Statistik itu menunjukkan, kendati mampu keluar sebagai juara, Kamboja dan Vietnam tidak konsisten dalam dua putaran. Sebaliknya, dua tim yang selama ini mendominasi persaingan di Asia Tenggara, Indonesia dan Thailand, mampu menjaga konsistensi performa sehingga finis di posisi atas meski gagal juara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/26/9878d66d-ae65-44af-86bc-080e6795d673.jpg)
Selama putaran pertama dan kedua, Indonesia sama-sama menelan satu kekalahan. Pada putaran pertama, Farhan Halim dan kawan-kawan bahkan tampil gemilang dengan menyapu kemenangan dari babak grup hingga semifinal. Performa mereka antiklimaks pada final melawan Kamboja sehingga kalah 2-3 (23-25, 26-28, 25-23, 25-22, 11-15).
Pada putaran kedua, Indonesia menelan kekalahan menyakitkan pada babak semifinal. Datang dengan modal kemenangan pada putaran pertama dan dukungan langsung publik sendiri, Indonesia justru kalah dari Vietnam, 1-3 (25-22, 22-25, 19-25, 18-25).
Akhirnya, Indonesia hanya bisa melihat Vietnam melaju ke babak final untuk menantang Thailand. Sementara itu, mereka harus melakoni babak perebutan tempat ketiga menghadapi Kamboja.
Kendati hanya perebutan tempat ketiga, kemenangan 3-1 (25-18, 19-25, 25-20, 26-24) atas Kamboja turut mengangkat posisi Indonesia di klasemen. Setter Indonesia, Alflin Daniel, mengatakan, kemenangan itu tak lepas dari permainan yang tanpa beban dari tim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/26/6b51e1d5-eb3e-47a4-9e88-dae22dfc8037.jpg)
Walakin, para pemain tetap termotivasi menunjukkan performa maksimal karen enggan pulang dengan tangan hampa. ”Jadi kami bermain dengan prinsip nothing to lose. Energi apa pun yang masih tersisa di tubuh kami, semuanya kami keluarkan hari ini,” ujar Alfin.
Dengan masih menjaga posisi di Asia Tenggara, Indonesia memiliki modal untuk menatap persaingan berikutnya di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Persaingan di ajang itu dipastikan akan lebih berat dibandingkan turnamen level Asia lainnya, Piala AVC 2026.
Sama seperti saat kami berangkat ke India (untuk Piala AVC). Waktu itu banyak yang meremehkan kami, tetapi akhirnya kami bisa menjadi juara Asia. Jadi, sekarang yang penting tetap optimistis.
Indonesia mencatatkan sejarah dengan menjuarai ajang level Asia di Piala AVC 2026. Di turnamen itu, Australia dan Korea Selatan ikut serta. Dua tim itu pernah punya pengalaman bermain di kompetisi bola voli tahunan untuk 18 negara terbaik dunia, Liga Nasional Bola Voli Dunia (VNL).
Persaingan di Asian Games akan berbeda dari Piala AVC karena diikuti tim-tim elite, seperti Jepang, China, dan Iran. Ketiga negara itu dilarang ikut Piala AVC karena mereka tampil di VNL.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/29/57ebc1a4-da7e-49f2-910e-f8d669ce4c3e.jpg)
Pada Asian Games mendatang, Indonesia menempati Pul B bersama Iran, Thailand, dan Kirgizstan. Iran, peringkat ke-19 dunia, adalah lawan terkuat di Pul tersebut. Adapun Thailand merupakan musuh bebuyutan Indonesia.
Alfin optimistis Indonesia akan menampilkan performa terbaik di Asian Games. Kendati tak akan diperkuat pemain senior seperti Nizar Julfikar dan Rivan Nurmulki yang memutuskan mengundurkan diri dari timnas, Alfin yakin tim bisa jadi kekuatan baru di Asia.
”Sama seperti saat kami berangkat ke India (untuk Piala AVC). Waktu itu banyak yang meremehkan kami, tetapi akhirnya kami bisa menjadi juara Asia. Jadi, sekarang yang penting tetap optimistis,” ujar Alfin.
”Sebenarnya potensi tim Indonesia sangat besar. Yang kami butuhkan hanya lebih sering berlatih dan lebih banyak menghadapi tim-tim yang levelnya lebih tinggi,” tuturnya lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/26/cc8b39b2-92c5-4bd4-a9f8-3335bd770f49.jpg)
Hal serupa disampaikan Pelatih Reidel Toiran. Menurut Toiran, Indonesia perlu banyak melakukan uji coba agar tim semakin terasah.
Namun, dalam waktu dekat, Toiran akan lebih dulu memberikan waktu libur untuk para pemain yang fisiknya terkuras setelah turnamen beruntun. Setelah itu, pelatih asal Kuba ini akan memanggil para pemain yang ada dalam long list dan meningkatkan kondisi fisik mereka sembari melakukan seleksi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/26/815e1713-2bc3-4b2a-92a2-e46b3a020d73.jpg)
”Prosesnya tidak mudah. Kami butuh waktu lebih dari satu bulan untuk meningkatkan stamina para pemain,” ujar Toiran.
”Kalau tim nasional profesional, satu bulan latihan sebenarnya sudah cukup. Tetapi Indonesia belum berada di level itu. Kami masih harus bekerja lebih keras,” ucapnya lagi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase