Kisah Sarah Qanan, remaja asal Gaza yang awalnya bercita-cita menjadi dokter, tetapi sekarang dia hanya ingin tetap hidup.
22 Jul 2025 08:01 WIB · Internasional
Tangan Sarah lincah dan cepat menulliskan jawaban dari soal-soal yang tertulis di kertas putih ke dalam buku tulisnya. Di dekatnya terdapat kalkulator hitam. Sepotong tripleks kecil ia ubah menjadi sebuah meja untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Selembar karpet berwarna merah menjadi tempat duduknya.
Ditemani Ibrahim, ayahnya, Sarah berusaha mengerjakan tugas sekolahnya dengan cepat dan rapi. Sesekali ia meminta pendapat ayahnya ketika kesulitan memahami soal.
Dua tahun lalu, Sarah Qanan adalah seorang siswi SMA berprestasi yang sedang mempersiapkan ujian akhir dan bercita-cita menjadi dokter. Kini, gadis berusia 18 tahun ini tinggal di tenda yang panas di Jalur Gaza dan mengatakan hanya berusaha untuk bertahan hidup.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/21/d30aeac7-3cb8-45f9-91bf-32a4dcc731d3_jpg.jpg)
Ia adalah bagian dari generasi warga Palestina, mulai dari sekolah dasar hingga universitas, yang hampir tidak memiliki akses pendidikan di wilayah tersebut sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023. Kegiatan belajar-mengajar ditiadakan sejak saat itu. Sekolah-sekolah diubah menjadi tempat penampungan sementara bagi ratusan ribu orang yang mengungsi dari rumah mereka, menghindari serangan balasan Israel.
Penutupan sekolah telah menghilangkan wadah sosial bagi kaum muda yang kini terpaksa bergulat dengan perang, kelaparan, dan pengungsian. Bagi anak-anak yang lebih muda, hal ini berarti kehilangan keterampilan dasar, seperti membaca dan berhitung sederhana. Bagi siswa yang lebih tua, mata pelajaran lanjutan, ujian kelulusan, dan pendaftaran perguruan tinggi semuanya telah ditunda.
Setidaknya telah terjadi dua kali gencatan senjata, tetapi itu belum bisa menghidupkan sekolah seperti sedia kala. Sebagian besar wilayah Palestina telah hancur total. Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef) memperkirakan hampir 90 persen sekolah akan membutuhkan perbaikan menyeluruh sebelum dapat beroperasi kembali.
Ketika serangan udara Israel menghancurkan rumah mereka di awal tahun 2024, ia menggali reruntuhan untuk mencari buku-bukunya, tetapi ”tidak ada yang tersisa”.
”Satu-satunya impian saya adalah kuliah kedokteran,” kata Sarah. ”Saya berhenti memikirkannya. Sekarang, yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya bertahan hidup,” tanbahnya. Seperti banyak orang di Gaza, keluarganya telah mengungsi berkali-kali dan kini tinggal di tenda.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/21/f69f2a10-6721-4a2b-9644-5fd1d1ed61d2_jpg.jpg)
Ratusan ribu siswa putus sekolah
Lebih dari 650.000 siswa tidak memiliki akses pendidikan sejak awal perang, menurut Unicef. Ini termasuk hampir 40.000 siswa yang tidak dapat mengikuti ujian masuk universitas yang sangat menentukan masa depan karier mereka. Ini pertama kalinya dalam beberapa dekade ujian tidak diselenggarakan di Gaza.
Pengeboman dan operasi darat Israel telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan membuat 90 persen penduduk Gaza mengungsi. Anak-anak usia sekolah di tempat penampungan yang padat terpaksa membantu keluarga mereka mencari makanan, air, dan kayu bakar. Blokade total Israel yang diberlakukan pada awal Maret telah mendorong wilayah tersebut ke ambang kelaparan.
Pejabat pendidikan setempat, bekerja sama dengan Unicef dan kelompok bantuan lainnya, mendirikan ratusan ruang belajar untuk mencoba menyediakan pendidikan selama perang.
”Kami berusaha menyelamatkan apa pun yang kami bisa dari proses pendidikan agar generasi mendatang tidak terbuang begitu saja,” kata Mohamed al-Asouli, kepala departemen pendidikan di kota Khan Younis di selatan.
Menurut Unicef, saat gencatan senjata selama enam minggu pada Januari dan Februari, sekitar 600 ruang belajar menyediakan pembelajaran bagi sekitar 173.000 anak. Namun, sejak Maret, ketika Israel mengakhiri gencatan senjata dan kembali menyerang, hampir setengahnya telah ditutup.
”Dampaknya lebih dari sekadar hilangnya pembelajaran,” kata Rosalia Bollen, juru bicara Unicef. ”Anak-anak di Gaza telah terperangkap dan terpapar kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi juga siklus ketakutan, stres, dan kecemasan.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/08/f291bd08-899d-4aa2-b29e-fc6d368df925_jpg.jpg)
Beberapa orang telah mencoba melanjutkan studi mereka melalui pembelajaran daring, tetapi hal itu tidak mudah di Gaza. Listrik dan internet sangat terbatas dan sering kali hilang sejak perang. Warga Palestina harus menggunakan panel surya atau generator untuk mengisi daya ponsel mereka.
”Ponsel saya tidak selalu terisi daya, dan kami hanya punya satu di rumah,” kata Nesma Zouaroub, seorang ibu dari empat anak usia sekolah. Ia mengatakan, putra bungsunya seharusnya sudah kelas dua, tetapi sekarang belum bisa membaca dan menulis.
”Masa depan anak-anak hancur,” katanya.
Ola Shaban mencoba melanjutkan studi teknik sipilnya secara daring melalui universitasnya setelah kampusnya dihancurkan oleh pasukan Israel pada April 2024. Ia harus berjalan jauh untuk mendapatkan sinyal di kampung halamannya di dekat Khan Younis, tetapi akhirnya ia menyerah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/17/d788a5cb-dffe-4cc0-9656-642905f83099_jpg.jpg)
”Saya tidak bisa melanjutkan kuliah karena kurangnya internet, terus-menerus mengungsi, dan rasa takut yang terus-menerus,” ujarnya. ”Dua tahun dalam hidup saya telah berlalu.”
Ayah Sarah, Ibrahim, seorang jurnalis lokal, mengatakan, keluarganya melakukan apa saja untuk mendukung ambisi Sarah untuk belajar kedokteran, tetapi kemudian impian itu kandas ketika perang pecah. ”Perang itu mengejutkan kami dan mengubah hidup kami,” kata ayah enam anak itu.
”Mimpi dan harapan kami terkubur di reruntuhan rumah kami.” (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto